Polemik Cadar, Pagar Nusa: Jangan Terjebak Fashion, Menag Harus Cerdas
Cari Berita

Advertisement

Loading...

Polemik Cadar, Pagar Nusa: Jangan Terjebak Fashion, Menag Harus Cerdas

Duta Islam #03
Rabu, 06 November 2019
Loading...

Ketum Pagar Nusa Mochamad Nabil Haroen. Foto: Istimewa.
DutaIslam.Com - Ketua Umum Pimpinan Pusat Pagar Nusa Nahdlatul Ulama (NU) Muchamad Nabil Haroen mengatakan seharusnya Mentri Agama (Menag) tidak terjebak urusan fashion dalam membicarakan soal radikalisasi.

"Menteri Agama jangan terjebak pada soal fashion. Teman saya juga banyak di NU berjenggot, yang (menggunakan celana-red) cingkrang juga ada. Yang pakai cadar juga ada. Apa mereka harus dianggap radikal? Makanya Menag ini harus agak cerdas sedikit orangnya," kata pria yang disapa Gus Nabil, Senin (4/11/2019) dikutip dari Republika.co.id.

Diketahui, Mentri Agama Fachrul Razi mewacanakan larangan memakai cadar di lingkungan pemerintahan. Larangan tersebut dikaitkan sebagai salah satu upaya mencegah radikalisme.

Menurut Gus Nabil, cadar dan celana cingkrang adalah budaya. Sehingga tidak bisa jika kemudian orang yang bercadar dianggap radikal.

"Mungkin budaya di Timur Tengah. Kalau di Indonesia batik lah. Nah, kemudian selama ini yang kita tahu gerakan-gerakan radilkal yang muncul ini kebetulan berpakaian seperti itu. Sehingga, pendapat sebagian masyarakat atau stigma yang tercipta di benak masyarakat, oh yang seperti itu ya radikal, padahal belum tentu,” tutur Gus Nabil.

Gus Nabil mengatakan, di tengah situasi seprti sekarang, seharusnya Menag jangan justru menimbulkan kegaduhan. Sebaliknya, kata Gus Nabil, Menag harus membantu Presiden Joko Widodo menciptakan kedamaian.

”Contoh kemarin dia ngomong, ‘Saya Menteri Agama Republik Indonesia, tapi bukan Menteri Agama Islam. Enggak perlulah ngomong begitu-begitu. Orang kita suasananya lagi gaduh kok malah ditambah gaduh. Harusnya pembantu-pembantu presiden itu jangan malah menambah gaduh suasana, harusnya malah membantu presiden meredakan suasana,” tuturnya.

Lebih lanjut Gus Nabil menjelaskan, radikalisme merupakan masalah bersama sehingga harus menjadi pekerjaan rumah bersama. Di sisi lain, lanjutnya, radikalisme dalam agama memang sudah diprediksi sudah terjadi sejak zaman nabi.

"PR (pekerjaan rumah-red) pemerintah adalah deradikalisasi, urusan NU adalah kontra radikalisme,” katanya.

NU, kata Gus Nabil, hanyalah melakukan tindakan kontraradikalisme. Yakni melakukan hal-hal yang mengimbangi berkembangnya tindakan radikal.

Gus Nabi juga mengaku bersyukur karena saat ini Mendagri dari polisi dan kemudian Menag dari militer. Mereka sudah diberi PR presiden untuk mengurus radikalisasi.

"Maka NU harus kembali ke barak untuk mengurus kaderisasi umat dan konsolidasi jamiyah. Kan selama ini kita kan yang ikut diturun-turunkan,” tutur Gus Nabi, masih dikutip dari Republika.co.id. [dutaislam.com/pin]

close
Banner iklan disini