Hanya Mementingkan Ibadah Daripada Kerja (Hikmah-2 Kitab Al-Hikam)
Cari Berita

Advertisement

Loading...

Hanya Mementingkan Ibadah Daripada Kerja (Hikmah-2 Kitab Al-Hikam)

Duta Islam #01
Rabu, 27 November 2019
Loading...

hikmah dalam kitab al hikam tentang maqam tajrid dan kasab
Makalah Hikmah ke-2 Kitab Al-Hikam.

Dutaislam.com - Terjamah dan penjelasan Kitab Al-Hikam Syaikh Ibnu Atha'illah As-Sakandary yang ke-2, berbunyi:

إرادَتـُكَ التَجْرِيْدَ معَ اِقامةِاللهِ اِيّاكَ فى الاَسْبَابِ مِنَ الشَهْوةِ الخفِيَّةِ، وَإرادَتـُكَ الاَسْبَابِ معَ اِقامةِاللهِ اِيّاكَ فى التَجْرِيْدَ اِنْحطاط ٌ عن الهِمَّةِ العَليَّةِ 

Artinya:
"Keinginanmu untuk tajrid [hanya beribadah saja tanpa berusaha untuk dunia], padahal Allah masih menempatkan engkau pada golongan orang-orang yang harus berusaha [kasab], maka keinginanmu itu termasuk nafsu syahwat yang samar [halus]. Sebaliknya, keinginanmu untuk berusaha [kasab], padahal Allah telah menempatkan dirimu pada golongan orang yang harus beribadah tanpa kasab [berusaha], maka keinginan yang demikian berarti menurun dari semangat yang tinggi".

Sebagai seorang yang beriman, haruslah kita berusaha menyempurnakan imannya dengan berpikir tentang ayat-ayat Allah Swt., dan beribadah dan harus tahu bahwa tujuan hidup itu hanya untuk beribadah (menghamba) kepada Allah Swt., sesuai tuntunan Al-Qur’an.

Tetapi setelah ada semangat dalam ibadah, kadang ada yang berpendapat bahwa salah satu yang merepoti/mengganggu dalam ibadah yaitu bekerja (kasab). Lalu, dia berkeinginan lepas dari kasab/ usaha dan hanya ingin melulu beribadah. Keinginan yang seperti ini termasuk keinginan nafsu yang tersembunyi/samar.

Mengapa? Kewajiban seorang hamba adalah menyerah kepada apa yang dipilihkan oleh majikannya. Apalagi kalau majikan itu adalah Allah Yang Maha Mengetahui tentang apa yang terbaik bagi hamba-Nya.

Dan tanda-tanda bahwa Allah Swt. menempatkan dirimu dalam golongan orang yang harus berusaha [kasab], apabila terasa ringan bagimu, sehingga tidak menyebabkan lalai menjalankan suatu kewajiban dalam agamamu, juga menyebabkan engkau tidak tamak [rakus] terhadap milik orang lain.

Dan tanda bahwa Allah mendudukkan dirimu dalam golongan hamba yang tidak berusaha [Tajrid]. Apabila Tuhan memudahkan bagimu kebutuhan hidup dari jalan yang tidak tersangka, kemudian jiwamu tetap tenang ketika terjadi kekurangan, karena tetap ingat dan bersandar kepada Tuhan, dan tidak berubah dalam menunaikan kewajiban-kewajiban.

Syeikh Ibnu ‘Atha’illah berkata:
"Aku datang kepada guruku Syeikh Abu Abbas Al-Mursy. Aku merasa bahwa untuk sampai kepada Allah dan masuk dalam barisan para wali dengan sibuk pada ilmu lahiriyah dan bergaul dengan sesama manusia (kasab) agak jauh dan tidak mungkin. Tiba-tiba saja, sebelum aku sempat bertanya, guru bercerita: ada seorang ahli dibidang ilmu lahiriah, ketika ia dapat merasakan sedikit dalam perjalanan ini, ia datang kepadaku sambil berkata: aku akan meninggalkan kebiasaanku untuk mengikuti perjalananmu. Aku menjawab: Bukan itu yang kamu harus lakukan, tetapi tetaplah dalam kedudukanmu, sedang apa yang akan diberikan Allah kepadamu pasti sampai kepadamu".

Demikian penjelasan hikmah kedua Kitab Al-Hikam tentang maqam tajrid dan maqam kasab seorang hamba Allah. [dutaislam.com/ab]

Loading...