Filosofi Shalat
Cari Berita

Advertisement

Loading...

Filosofi Shalat

Duta Islam #04
Jumat, 15 November 2019
Loading...

Penjelasan filsafat sholat (sumber: istimewa)
Oleh: Sayyid Dr. Muhsin Labib Assegaf

DutaIslam.Com - Shalat secara bahasa didefinisikan sebagai dzikir. Artinya, shalat sebagai medium mengingat Tuhan yang Maha Esa. Sedangkan secara istilahi, shalat bermakna ibadah yang diawali takbir serta diakhiri dengan salam dan dilakukan dengan cara yang khusus.

Ibadah shalat secara umum terdiri dari tiga aspek, yakni ritus, verbal dan eksistensial. Aspek ritus shalat meliputi rukun-rukun yang ada di dalamnya.

Sementara aspek verbal berarti shalat merupakan media komunikasi seorang hamba dengan Tuhannya. Shalat menandakan adanya koneksi antara makhluk dengan sang penciptanya.

Lewat shalat, manusia dapat berkomunikasi dengan Tuhan yang Maha Suci. Meskipun pada awalnya, dua entitas yang berbeda tidak bisa terkoneksi langsung.

Baca: Gus Mus Saat Nyawang Mbah Moen

Sebab, Hukum kesenyawaan menetapkan bahwa sesuatu yang suci tak bersenyawa dengan tak suci. Hubungan langsung antara dua entitas yang berbeda diametrikal meniscayakan paradoks.

Filosof-filosof dari Socrates, Plato dan Aristoteles lalu Kindi, Farabi dan Ibn Sina sampai Suhrawardi dan Sadaria berusaha menyelesaikan isu koneksi ini. Mistikus-mistikus seperti Ibn Arabi, Hallaj, Bustami, Rumi hingga Khomeini mengkonfirmasi gradasi tajalli untuk menyelesaikan isu koneksi ini.

Hukum relativitas juga menetapkan keniscayaan jarak dan relasi antar entitas-entitas Karena jarak-jarak itulah media diperlukan. Media berposisi sebagai konektor itu harus memuat dua sisi yang memungkinkannya berhubungan secara bersamaan dengan entitas yang berbeda itu.

Ia haruslah sesuatu yang berbeda dengan dua entitas yang dihubungkannya. Andai sama, ia bukan konektor. Karena bukan konektor, ia memerlukan konektor juga. Konektor pasti bukan Tuhan. Andai dia Tuhan, ia yang Mutlak dan suci tak berkoneksi dengan lainNya dengan yang tak suci dan relatif.

Konektor haruslah entitas yang memiliki karakteristik yang berbeda dengan yang mutlak dan yang nisbi. Ia punya sisi kemutlakan dan kenisbian. Bila tak menghimpun dua arus kemutlakan dan kenisbian, ia pastilah nisbi semata. Bila nisbi semata, ia memerlukan konektor lagi dan begitulah seterusnya.

Konektor itu adalah manusia karena manusia adalah akibat paling sempurna dan menghimpun semua elemen makhluk. Andai bukan manusia, ia tidak jadi konektor karena konektor haruslah lebih sempurna secara eksistensial dari yang memerlukannya, yaitu manusia.

Konektor itu haruslah manusia sempurna. Bila bukan manusia sempurna, ia tidak jadi konektor bagi manusia sederajat dengannya yang juga tak sempurna. Karena insan sempurna, ia punya sesuatu yang tak dimiliki insan-insan tak sempurna. Andai memiliki sesuatu yang juga dimiliki insan-insan tak semprna, ia tak sempurna.

Dialah insan paling sempurna, maka dialah makhluk paling sempurna. Karena makhluk paling sempurna, dialah satu-satunya jadi konektor Yang mahasempurna. Karena dialah konektor, Yang mahasempurna mengkoneksikan wujudNya dengannya. Karena berkoneksi dengan mahasempurna, ia senyawa secara eksiatensial denganNya.

Karena yang mahasuci dan makhluk abstrak berkoneksi (يصلون) dengan konektor, manusia-manusia tak sempurna lainnya berkoneksi denganNya melalui dia. Manusia-manusia umum berbeda level eksistensi. Makin level eksistensimya, makin besar pula arus koneksinya dalam rute gerak transenden.

Baca: KH. Said Aqil Kenang Pendidikan Sang Ayah, Disiplin dan Telaten

Insan-insan sempurna yang dekat dengannya adalah konektor bagi yang di bawahnya dan begitulah. Iman adalah eksistensi gradual yang terus melambung. Karena suci, ia hanya berkoneksi dengan yang suci di bawahnya dan seterusnya secara gradual. Hanya manusia beriman yang diizinkan berkoneksi dengannya.

Iman adalah citra kesempurnaan eksistensial yang bertingkat-tingkat. Setiap insan berpeluang mengalami perfeksi gradual dan relatif. Setelah terkoneksi, ia lakukan keberserahan kepada konektor karena dialah akibat perdana disusul jejiwa suci dibawahnya dalam gradasi wujud.

Shalawat kepada insan sempurna dan insan-insan sempurna yang dibawahnya bukan sekadar suara menguap tapi deklarasi konektivitas eksistensial. Insan sempurna itu adalah manifestasi dan penampakan sifat dan asmaNya seperti aziz, ra’uf, rahim dan lainnya. Dia bersanding denganNya selalu.

Tak bershalawat berarti tak terhubung dengan Allah. Bila seseorang menolak logika "koneksi" ini dan merasa bisa terhubung tanpa perantara, berarti dia merasa diri suci dan menganggap Allah sama dengan dirinya. [dutaislam.com/in]
Loading...