Yang Bisa Membubarkan NU Itu Kita Nahdliyin Sendiri
Cari Berita

Advertisement

Loading...

Yang Bisa Membubarkan NU Itu Kita Nahdliyin Sendiri

Duta Islam #02
Kamis, 10 Oktober 2019
Loading...

KH Zainuddin Djazuli. (Foto: Fb Gus Ipul)

DutaIslam.Com - Terkadang kita merasa lupa diri ketika mendengar sebuah janji jaminan yang "baik/menguntungkan", semisal dawuh kyai sepuh: "Barang siapa yang berniat mengacaukan NU dia akan kwalat". Tidak sedikit kita dibuat terlena oleh jaminan itu sehingga kita lupa padahal ada hal lain yang bisa membubarkan NU.

Suatu ketika pada acara Haul Muassis Pondok Pesantren Salafiyah di Kab. Malang, Mbah KH. Zinuddin Djazuli menyampaikan ceramahnya, beliau kurang lebih mengatakan: "tidak sulit untuk membubarkan NU, ketika orang tua Nahdliyin sudah tidak mau lagi mengirim anak-anaknya ke pondok pesantren, maka lambat laun NU akan bubar dengan sendirinya".

Yah... NU didirikan oleh Ulama-Kiai Pesantren untuk NKRI. Siapapun boleh gabung dengan NU entah itu akademisi atau tehnokrat, dll. Pencetus lembaga Maarif NU Mbah KH. Nachrowi bin Waliyullah Mbah KH. Moch. Thohir Singosari Malang pernah dawuh: "Suatu saat NU akan diisi bukan hanya kalangan santri akan tetapi oleh akademisi, sarjana, dll.", dawuh Mbah Nachrowi kini nyata adanya.

Akan tetapi fenomena yang terjadi di kepengurusan NU di tingkat ranting, anak cabang, atau cabang saat ini kepengurusan inti banyak iisi oleh kalangan akademisi yang tidak pernah mengenal pondok pesantren sama sekali. Hal ini mungkin tidak lepas dari cara perekrutan kepengurusan atau memang para santri enggan tampil ke permukaan sehingga mereka yang tidak pernah mengenal pondok pesantren sama sekali berhasil menarik simpati kiai sepuh atau tim perekrutan pengurus. Jika demikian apa jadinya ketika NU sudah dinahkodai oleh orang yang tidak pernah mengenal pondok pesantren? hanya bermodal pendidikan umum, gelar sarjana, serta ilmu menejemen organisasi?

Tidak ada larangan bagi yang tidak pernah mengenal pondok pesantren untuk menjadi pengurus, tapi setidaknya jika dijajaran elit yang bisa menentukan sebuah kebijakan haruslah diisi oleh santri yang akademisi, santri yang intelektual bertitel sarjana.

Barangkali inilah yang dimaksud dengan kekhawatiran seorang kiai sepuh yang sangat dihormati Mbah KH. Zainuddin Djazuli. Lantas bukankah ketika kita nahdiyyin yang enggan memondokkan putra putrinya ke pondok pesantren NU ikut andil dalam membubarkan organisasi yang didirikan oleh gurunya gurunya guru kita? [dutaislam.com/gg]

Source: Fb Gus Ipul

Loading...