Waspada Gerakan Thalabun Nushrah Indonesia (TNI-Bagian 2)
Cari Berita

Advertisement

Loading...

Waspada Gerakan Thalabun Nushrah Indonesia (TNI-Bagian 2)

Duta Islam #03
Senin, 21 Oktober 2019
Loading...

Bendera HTI. Foto: Istimewa.
Oleh Ayik Heriansyah

DutaIslam.Com - Hizbut Tahrir meyakini tiga hal yang salah tentang Rasulullah Muhammad Saw terkait dengan perjuangan mereka mendirikan khilafah: Pertama, mereka meyakini mengikuti metode (thariqah) Rasulullah saw dalam mendirikan khilafah. Kedua, mereka meyakini thalabun nushrah untuk meraih kekuasaan pernah dilakukan oleh Rasulullah saw. Ketiga, mereka meyakini khilafah ‘ala minhajin nubuwwah yang kedua adalah Khilafah Tahririyah.

Semua kaum radikal mengklaim mengikuti manhaj/thariqah dakwah Nabi saw. Al-Qaeda dan ISIS menterjemahkannya dengan istilah dakwah tauhid wa jihad. Hizbut Tahrir dengan dakwah fikriyah, siyasah la ‘unfiyah. Sedangkan Ikhwanul Muslimin menyebutnya dakwah ishlahiyah.

Konsepsi-konsepsi kaum radikal yang diambil dari Sirah Nabawiyah tersebut mencerminkan alam pikiran masing-masing kelompok. Terjadi khilafiyah sesama kaum radikal tentang manhaj/thariqah dakwah Nabi saw.

Di antara keempat kelompok radikal tersebut, Hizbut Tahrir dengan gambling dan tegas menyatakan mengikuti manhaj/thariqah dakwah Rasulullah saw dalam mendirikan khilafah.

Kitab-kitab Hizbut Tahrir yang menyatakan demikian antara lain kitab At-Takattul Hizb, Daulah Islamiyah, Manhaj Hizbut Tahrir fi Taghyir, dan sebagainya.

Aktivis Hizbut Tahrir yakin seyakin-yakinnya bahwa apa yang mereka lakoni sekarang, dulu pernah dilakukan oleh Rasulullah saw dan para sahabat. Mereka meyakini sedang mengamalkan road map dakwah Rasulullah saw.

Hanya saja semua kelompok radikal tersilap dari realitas bahwa Muhammad saw adalah seorang Nabi dan Rasul. Beliau saw bukan seorang khalifah yang kekuasaannya diperoleh dari umat melalui bai’at.

Hal ini ditegaskan oleh hadits tentang periodesasi kepemimpinan umat, Beliau bersabda:

تَكُوْنُ النُّبُوَّةُ فِيْكُمْ مَا شَاءَ ا للهُ أَنْ تَكُوْنَ ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اَنْ يَرْفَعَهَا ، ثُمَّ تَكُوْنُ خِلآفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ، فَتَكُوْنُ مَا شَاءَ اللهُ اَنْ تَكُوْنَ ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ، ثُمَّ تَكُوْنُ مُلْكًا عَاضًا ، فَتَكُوْنُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُوْنَ ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ، ثُمَّ تَكُوْنُ مُلْكًا جَبَّرِيًّا ، فَتَكُوْنَ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُوْنَ ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ، ثُمَّ تَكُوْنُ خِلآفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ، ثُمَّ سَكَتَ

“Periode kenabian akan berlangsung pada kalian dalam beberapa tahun, kemudian Allah mengangkatnya. Setelah itu datang periode khilafah aala minhaj nubuwwah (kekhilafahan sesuai manhaj kenabian), selama beberapa masa hingga Allah ta’ala mengangkatnya. Kemudian datang periode mulkan aadhdhan (penguasa-penguasa yang menggigit) selama beberapa masa. Selanjutnya datang periode mulkan jabbriyyan (penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak) dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah ta’ala. Setelah itu akan terulang kembali periode khilafah ‘ala minhaj nubuwwah. Kemudian Nabi Muhammad saw diam.” (HR Ahmad; Shahih).

Hadits ini bermasalah secara periwayatan menurut para kritikus hadits yang mengakibatkan hadits tersebut bernilai zhanni tsubut sehingga tidak dapat dijadikan dalil yang qath’i.

Kaum radikal menjawab bahwa hadits tersebut memang ahad bi riwayah tapi mutawatir bil ma’na karena ada hadits-hadits lain yang semakna dengannya. Klaim kaum radikal bahwa hadits-hadits tentang khilafah di akhir zaman, mutawatir bil ma’na, perlu dikaji ulang.

Meski demikian tetap tidak bisa dijadikan hujjah untuk mendukung perjuangan mereka karena semua hadits tentang khilafah akhir zaman tidak merujuk kepada khilafah yang sedang diperjuangkan oleh kaum radikal.

Khilafah akhir zaman tidak menunjuk kepada Khilafah Al-Qaeda, Khilafah ISIS, Khilafah Ikhwanul Muslimi atau Khilafah Tahririyah. Artinya khilafah yang sedang diperjuangkan oleh kaum radikal tidak ada kaitannya dengan hadits-hadits tentang khilafah.

‘Ala kulli hal, hadits di atas menyebutkan bahwa masa kepemimpinan Muhammad saw adalah masa nubuwwah bukan masa khilafah ‘ala minhajin nubuwwah. Dengan makna lain, Rasulullah saw tidak pernah mendirikan khilafah ‘ala minhajin nubuwwah.

Beliau saw tidak pernah memberi contoh manhaj/thariqah bagaimana metode dan road map dalam mendirikan khilafah ‘ala minhajin nubuwwah. Semua kelompok radikal mengada-ngada ketika mengklaim mengikuti manhaj/thariqah dakwah Rasulullah saw dalam mendirikan khilafah.

Termasuk metode thalabun nushrah yang diyakini Hizbut Tahrir pernah dilakukan Rasulullah saw, merupakan keyakinan yang tidak mempunyai realitas.

Asumsi-asumsi dalam thalabun nushrah sebagai berikut: Thalabun nushrah dilakukan kepada pihak yang kuat (ahlu quwwah) oleh pihak lemah (ahlu dha’ifah). Pihak yang lemah (ahlu dha’ifah) meminta perlindungan dan jalan meraih kekuasaan. Meraih kekuasaan menjadi tujuan akhir dari aktivitas thalabun nuhsrah.

Jika disandarkan kepada Rasulullah saw, thalabun nushrah adalah ide konyol yang sangat merendahkan, menghina dan menistakan Nabi Muhammad saw.

Dalam asumsi thalabun nushrah, Muhammad saw adalah seorang yang haus kekuasaan. Dia saw adalah seorang yang lemah (ahlu dha’ifah) yang mengemis-ngemis kekuasaan kepada ahlu quwwah. Beliau saw melakukannya terus-menerus tanpa henti.

Ide jahat thalabun nushrah bertolak belakang dengan Sirah Nabawiyah. Sesungguhnya Muhammad saw membawa risalah dari langit agar orang-orang beriman kepada Allah swt dan hari akhir. Beliau saw mengajak kaum Quraisy dan kabilah-kabilah Arab untuk masuk Islam. Beliau saw tidak berpretensi mau meraih kekuasaan dari dakwahnya karena Beliau saw sendiri sesungguhnya sudah sangat berkuasa.

Hal ini Beliau saw ungkapkan ketika utusan kaum Quraisy menemui pamannya Abu Thalib, meminta agar Muhammad saw menghentikan dakwahnya. Harta, wanita dan kekuasaan akan diberikan seandaikan Muhammad saw berhenti berdakwah.

Akan tetapi itu semua ditolak Nabi saw. Harta, wanita dan kekuasaan yang ada di tangan kaum Quraisy tidak seberapa dengan yang ada di tangannya.

Besarnya kekuasaan yang dimiliki Muhammad saw terungkap ketika Beliau saw menjawab pamannya: “Wallahi, Demi Allah. Seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku, dan bulan di tangan kiriku, agar aku menghentikan dakwah ini, niscaya aku tidak akan menghentikan dakwah ini hingga Allah memenangkannya atau aku binasa.”

Jika menggunakan logika kekuasaan, mudah sekali bagi Rasulullah saw menghancurkan kaum Quraisy yang menjadi penghalang fisik bagi dakwahnya.

Kebesaran kekuasaannya kembali terungkap ketika Beliau saw dakwah di Tha’if, Beliau saw dilempari batu oleh anak-anak. Kakinya berdarah. Rasulullah saw. pun kembali ke Makkah, setelah meninggalkan kebun milik ‘Utbah dan Syaibah, dengan duka, kesedihan dan hati yang terluka.

Ketika sampai di Qarnu al-Manazil, Allah SWT mengutus Malaikat Jibril ‘alaihissalam, dengan disertai Malaikat penunggu gunung. Minta dititahkan untuk mengangkat dan menjatuhkan Gunung Akhsyabain kepada penduduk Thaif. Dalam riwayat Bukhari dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha diceritakan, saat Jibril berkata kepada baginda saw:

“Allah SWT telah mendengar ucapan kaummu kepadamu, dan balasan mereka kepadamu. Allah SWT telah mengirimkan Malaikat Gunung agar kamu titahkan sesukamu untuk memberi pelajaran kepada mereka. Malaikat Gunung itu pun memanggilku, dan mengucapkan salam kepadaku. Lalu berkata, “Wahai Muhammad, apapun yang kamu mau. Jika kamu mau, aku akan timpakan kepada mereka Gunung Akhsyabain, pasti akan aku kerjakan.”

Gunung Akhsyabain adalah dua gunung, yaitu Gunung Makkah dan Jabal Abi Qubais. Adapun dua gunung yang berhadapan dengannya adalah Qa’iqa’an. Tetapi, Nabi saw. penyayang itu bersabda, “Tidak, justru aku berharap Allah SWT melahirkan dari keturunan mereka orang yang menyembah Allah ‘Azza wa Jalla, dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun jua.” [Bukhari, Shahih, Juz I/456; Muslim, Shahih, Juz II/109].

Dengan pengandaian matahari di tangan kanan, bulan di tangan kiri, malaikat penjaga gunung dalam perintahnya, apakah layak disebutkan bahwa Rasulullah saw melakukan thalabun nushrah untuk mendapat kekuasaan?!

Apa susahnya bagi Beliau saw andaikata mau mengambil alih kekuasaan seperti yang diinginkan oleh Hizbut Tahrir. Akan tetapi bukan untuk itu Beliau saw diutus. Thalabun nushrah sebuah konsep politik yang sangat menistakan derajat Nabi Muhammad saw dari Sayyidul Anbiya menjadi ahlu dha’ifah. [dutaislam.com/pin]

Ayik Heriansyah, Pengurus LD PWNU Jabar, Ketua LTN NU Kota Bandung.
Tayang pertama kali di pecihitam.org.

close
Banner iklan disini