Tanggapan Kiai Said Tentang NU Minta Jatah Menteri di Kabinet Jokowi
Cari Berita

Advertisement

Loading...

Tanggapan Kiai Said Tentang NU Minta Jatah Menteri di Kabinet Jokowi

Duta Islam #03
Jumat, 25 Oktober 2019
Loading...

Ketum PBNU Kiai Said Aqil Siradj. Foto: dutaislam.com.
DutaIslam.Com - Ketum PBNU Kiai Said Aqil Siradj menanggapi terkait isu yang beredar bahwa NU minta jatah kursi mentri untuk mengisi jabatan Kabinet Jokowi. Kiai Said membantah isu tersebut.

"Saya tidak pernah minta mentri. Tapi saya bilang, kalau diminta di NU ya banyak, apa saja, agama, pendidikan, pertanian, siap, kalau diminta. Kalau presiden yang minta masa kita nggak sambut. Tapi sampai jam ini tidak ada permintaan," ujar Kiai Said.

PBNU, kata Kiai Said akan tetap mendukung program pemerintah. Kiai Said juga meminta agar dalam memberikan penilai haruslah secara objektif dan tidak emosional. Karena menurutnya politik hanya sarana, bukan tujuan itu sendiri. Sedangkan tujuan yang utama adalah agama, peradaban, kesejahteraan, dan keadilan.

Berikut hasil wawancara dengan Kiai Said sebagaimana ditranskip dari video rekaman NU Chanel yang diposting Bangkit TV.

Bagaimana Tanggapan Kiai Said terkait  bahwa NU minta jatah kursi menteri?
Secara resmi tidak ada. Secara resmi dari PBNU tidak ada, mengajukan permohonan, proposal jatah mentri tidak ada. Sayapun tidak pernah mengatakan seperti itu. Saya tidak pernah minta mentri. Tapi saya bilang, kalau diminta di NU ya banyak, apa saja, agama, pendidikan, pertanian, siap, kalau diminta. Kalau presiden yang minta masa kita nggak sambut. Tapi sampai jam ini tidak ada permintaan.

Tapi NU Siap Diamanahkan?
Kita sebagai rakyat, organisasi besar, siap mendukung dan membantu presiden. Ya itu niatnya, nggak niat nyari duit, membantu presiden.

Untuk Nama-Nama yang Diajukan?
PBNU tidak pernah mengajukan nama secara resmi. Tapi kalau kami diminta kami siap. Misalnya, presiden minta orang untuk bantu presiden ya siap donk.

Berarti NU punya kader-kader yang berpotensi?
Kita punya ikata sarjana NU. Itu profesor doktor 740-an. Bukan agama, bukan jurusan agama. Kita punya Ma'arif NU. Itu sarjana tok isinya. Kita kalau diminta siap pokokknya jangan dikira nggak punya kader. Bahwa sebagai ormas tidak layak minta sebenarnya. Itu partai politik. Tapi kalau presiden minta dibantu, mesukseskan program, secara konstutusional.

Berarti NU Sudah Siap?
Harus siap. Kan apa dulu niatnya. Walalupun kita tidak terlibat dalam jabatan politik, kalau niat kita membangun peradaban, sangat baik. Melalui politik, membangun agama lewat politik. Politik hanya sarana. Tujuannya adalah agama, peradaban, kesejahteraan, kemajuan, dan keadilan.

Pesan Kiai Said?
Kepada yang menanggapi isu ini, tolon ditanggapi dengan objektif, kepala dingin, nggak usah emosional, tidak usah menggeneralisir. Bahwa hak berpolitik adalah hak warga negara, asalkan niatnya baik, caranya baik, tujuannya baik. Kalau dengan cara yang salah, rakus itu, tamak, egois. Harus dengan cara yang baik. Normal-normal saja. Niatnya pun baik. Politik sebagai sarana membangun agama, peradaban, sangat baik sekali. Bukan hanya untuk kepentingan politik itu sendiri. Politik hanya perantara, bukan tujuan. [dutaislam.com/pin]



close
Banner iklan disini