Penuhi Nazar Hafalkan 5 Kitab, Banser Santri Jalan Kaki dari Banten ke Habib Luthfi Pekalongan
Cari Berita

Advertisement

Penuhi Nazar Hafalkan 5 Kitab, Banser Santri Jalan Kaki dari Banten ke Habib Luthfi Pekalongan

Duta Islam #03
Rabu, 02 Oktober 2019

Ahmad Husaeri, Santri Pondok Pesantren Uswatun Hasanah, Cadasari, Kabupaten Serang, Pimpinan Kiai Wahyu, Serang, memenuhi nazarnya berjalan kaki dari Banten ke Pekalongan untuk bertemu Habib Luthfi. Foto: NU Online.
DutaIslam.Com - Ahmad Husaeri biasa disapa Hery sedang memenuhi nazarnya untuk menemui Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan. Husaeri memenuhi nazarnya dengan jalan kaki dari rumahnya di Kampung Curugbarang, Desa/Kecamatan Mancak, Kabupaten Serang, Provinsi Banten ke kediaman Habib Luthfi di Pekalongan, Jawa Tengah.

Pria kelahiran Serang, 1 Agustus 1999 itu memenuhi nazarnya setelah menghafal lima kitab ilmu alat di Pondok Pesantren Uswatun Hasanah, Cadasari, Kabupaten Serang, Pimpinan Kiai Wahyu. Lima kitab tersebut adalah Kitab 'Awamil, Amtsilatut Tashrifiyah, Matan Bina, Al-Jurumiyah, dan Nadzom Imrithy.

Husaeri menceritakan, nazar sowan ke Habib Luthfi di Pekalongan dengan berjalan kaki dilatarbelakangi saat dirinya mengikuti kaderisasi di GP Ansor dengan mengikuti Pendidikan dan Latihan Terpadu Dasar (DTD) Barisan Ansor Serbaguna (Banser) di Cilegon medio 2018 yang lalu.

"Tak tahu kenapa saat itu saya ingin sekali bertemu dengan Abah (Habib Lutfhfi) yang merupakan 'Panglima Tertinggi Banser'. Untuk itulah saya termotivasi jika sudah berhasil menghafal lima kitab itu saya ingin sowan ke Abah dengan jalan kaki ini," ujar Hery disela-sela PKD Ansor Kecamatan Blanakan, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Ahad (29/09/2019) lalu.

Dirinya juga menegaskan bahwa apa yang dilakukannya tersebut murni dari hati nuraninya. Tak ada celah sedikitpun untuk gaya gayaan apalagi mencari sensasi.

"Termasuk saat saya dikawal oleh Sahabat Banser dari daerah-daerah yang saya lalui. Saya sendiri ga tahu kok tiba-tiba Banser sudah banyak yang tahu sehingga tak sedikit yang ngawal di perjalanan," jelas putra kedua pasangan Ustadz Asep Saefudin dan Umi Ratu Mu'izah tersebut.

Kendati demikian, dirinya merasa terharu dan bangga saat ada yang menyambut secara estafet dari anggota Banser di wilayah yang dilaluinya.

"Sedih, terharu. Pokoknya sulit diungkapkan. Yang jelas, saya ucapkan beribu-ribu terima kasih dan minta maaf sudah merepotkan," tandasnya.

Dalam perjalanan dari Banten menuju Pekalongan, ia tak sendirian. Ia ditemani oleh sahabatnya, Jamiyin yang masih satu kampung dengannya. Ia merupakan orang kepercayaan orang tua Hery untuk mendampinginya memenuhi nazar jalan kaki menuju Pekalongan.

"Ikhlas lillahi ta'ala, apa pun yang terjadi saya akan dampingi Kang Hery sampai ke tujuan," ujar Jami.

Mendapat Intimidasi di Jalan

Hery memulai perjalanan jalan kaki menuju Pekalongan pada tanggal 16 September 2019. Keberangkatannya lebih cepat daripada rencana sebelumnya, yaitu 10 Oktober 2019 yang sekaligus merupakan momentum menyambut Hari Santri Nasional (HSN) pada 22 Oktober. Namun, tiba-tiba pikiran berubah seketika sehingga dimajukan menjadi 16 September 2019.

Saat memulai perjalanan dari Kampung Curugbarang, Desa/Kecamatan Mancak, Kabupaten Serang, Provinsi Banten hingga beberapa hari tiba di Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi memang masih jarang yang tahu, sehingga tak ada pengawalan dari Banser lainnya.

Dirinya menceritakan bahwa kerap mendapatkan intimidasi verbal dari orang lain saat diperjalanan khususnya di wilayah Jakarta menuju Bekasi. Baik dengan perkataan nyinyir hingga menggerung-gerungkan kendaraan bermotor.

"Untuk intimidasi fisik memang tak ada. Tapi jika memang ada juga saya sudah siap semuanya," ujar Husaeri. [dutaislam.com/pin]

Keterangan: Disadur dan diedit dari NU Online dengan judul asli 'Sosok Hery, Banser Serang yang Jalan Kaki Temui Habib Luthfi di Pekalongan'.





close
Banner iklan disini