Nalar Kutukan ISIS dalam Penusukan Menkopolhukam
Cari Berita

Advertisement

Nalar Kutukan ISIS dalam Penusukan Menkopolhukam

Duta Islam #02
Jumat, 11 Oktober 2019

Menkopolhukam Wiranto ketika ditusuk. (Foto: istimewa)

Oleh M Abdullah Badri

DutaIslam.Com - Nalar pengikut ISIS begini: gembira ada lawan yang terbunuh meski dengan cara-cara kejam dan selalu tidak menerimakan kawan lumpuh, lalu mencari kambing hitam. Meski menyuarakan "sedulur sak lawase", tapi pijakannya bukan kemanusiaan melainkan pengrusakan.

Menkopolhukam Wiranto ditusuk, doa lekas mati mengalir dari para pendengung ISIS. Tidak ada kutukan dan apalagi kecaman. Kalimat "cuma sama pisau aja kok, belum dibakar kayak dokter di Wamena", "settingan agar dana deradikalisasi terus meluncur", "pengen ngelayat ke bapak yang ditusuk", dll, meluncur tegas tanpa penyesalan dari para pendukung penusuk Wiranto.

Nalar-nalar ideologis ISIS juga terdeteksi dalam persitiwa penganiayaan Ninoy Karundeng, dimana saat Sekjend PA 212 ditangkap, terjadi teriakan dhalim. Ninoy dipukul, aktor ditangkap, polisi dituduh dhalim. Hahaha. Sulit mencari celah menyesal dari mereka yang mengaku mendengungkan jargon "sedulur selawase".

Saya pun akhirnya menyayangkan komentar Gus Miftah yang mengungkapkan agar jangan terburu-buru menyebut radikal dalam kasus penusukan Wiranto. Mengapa? Ini persis komentar politikus partai tertentu dan aktivis (mengaku islamis) saat ada kejadian rusuh di Mako Brimbob pada Mei 2018 lalu.

Asumsi apalagi kalau tidak boleh disebut radikal? Radikalisme itu hanya langkah setapak menuju cara berpikir ekstrim, yang berlanjut kemudian menuju cara nalar pikir idelogis teror. Tidak ada jihadis atau teroris yang tidak berpikir radikal Gus Miftah. Sampeyan iki piye sih?

Tahapan berpikir menuju terorisme itu dimulai dari sikap konservatisme (literalis dan intoleran), meningkat menjadi radikalis (yang literalis, intoleran, anti sistem dan revolusioner), meningkat lagi jadi ekstrimis (literalis, intoleran, anti sistem, revolusioner dan kekerasan), lalu, teror (literalis, intoleran, anti sistem, revolusioner, kekerasan, dan teror). Baca hasil penelitian The Habibie Centre tentang Radikalisme di Perguruan Tinggi Indonesia (Mei 2019). 

Abu Rara bersama istrinya yang tega menusuk Wiranto itu artinya sudah pada tahapan kekerasan. Kelasanya sudah ekstrimis plus. Nah, latar belakang Abu Rara yang ternyata difasilitasi oleh Abu Syamsuddin saat menjadi anggota Jama'ah Ansorud Daulah (JAD) Bekasi (sebelumnya di JAD Kediri), apa hal itu bukan termasuk sebagai bukti dia tergabung dalam jaringan teroris? Apalagi diketahui kalau Abu Rara sangat berkeinginan berangkat jihad ke Suriah.

Kepada Gus Miftah, dimana letak irasionalnya bila publik tidak boleh terburu menyebut aktor penusukan Wiranto sebagai radikal? Semua informasi itu bersumber dari BIN, bukan anaknya Amin Rais.

Parahnya, ada media yang kemudian memframing seolah Abu Rara menjadi radikal dan sudi menggunakan kekerasan karena dia korban penggusuran pembangunan Tol Trans Sumatera yang sangat digalakkan oleh pemerintah sebelum akhirnya dia pindah usai bercerai dengan istri pertamanya. Ini apa-apaan? Mau cari kambing hitam kayak pendengung ISIS itu?

Penggiringan opini bahwa terorisme yang dilakukan Abu Rara di-seolah-kan sebagai salah pemerintah justru semakin menambah ketebalan dan ketersebaran nalar berpikir anti semua sistem kecuali sistemnya sendiri, yang tiada lain adalah jalan berpikir paling berbahaya.

Radikal itu musuh semua bangsa, musuh semua peradaban manusia. Menolak kehadiran manusia-manusia radikal atau penceramah ekslusif berjargon "sedulur selawase" pun jadi jalan paling minimal untuk mencegah tersebarnya pemahaman terorisme.

Jadi, bila ada yang menolak UAS, UAH, Sugi Nur, dll disebut ketakutan, ya silakan. Ketakutan yang menolak kehadiran mereka tidak selevel dengan risiko yang ditimbulkan. Justru yang mendukung para pendengung paham radikal makin kelihatan paranoid. Eksistensi mereka bakal terancam punah, ketakutan makin memuncak sampai harus menusuk Menkopolhukam.

Saya jadi paham akhirnya, mengapa para pendengung paham teror seperti dilakukan aksinya oleh Abu Rara sangat anti kepada NU, walaupun dia ngaku NU. Lha wong dia teman sepondok saya dulu, paham lah. Uniknya, Abu Rara dan dia sama-sama terobsesi dengan pisau mengkilap.

Anda juga suka pisau? Bergembiralah bila menemukan mangga. Jangan salah tusuk ke perut orang lain. Begitu. [dutaislam.com/gg]

M. Abdullah Badri, founder Marka Bangsa.

close
Banner iklan disini