Ikut Banser Hanya Berharap Mati Husnul Khatimah
Cari Berita

Advertisement

Ikut Banser Hanya Berharap Mati Husnul Khatimah

Duta Islam #01
Rabu, 02 Oktober 2019

Berharap husnul khatimah dengan menjadi anggota Banser yang dekat dengan kiai.

Oleh M Abdullah Badri

Dutaislam.com - Islam haruslah rahmatan lil-alamin. Iya. Islam bukan agama suku dan ras. Apalagi ideologi. Islam bukan idelogi, tapi sumbernya, inspirasinya, spiritnya. Asal bertauhid, apapun latar belakangnya, dia berhak menjadi muslim yang baik.

Dalam sebuah screening Susbalan Banser suatu kali di Jepara, ada seorang laki-laki yang berniat sungguh menjadi anggota Banser hanya karena dia ingin dekat dengan kiai dan ingin mati husnul khatimah.

Tiba-tiba saja, saat tes screening itu, dia menangis karena merasa dirinya seperti tidak pantas menjadi bagian dari GP. Ansor-Banser karena dia tidak bisa membaca Al-Qur'an dan bukanlah seorang santri. Ia mengaku besar dan hidup di jalanan serta dekat dengan dunia preman.

Mengaji saja seumur-umur tidak pernah, apalagi dekat dengan Kiai. Dengan menjadi Banser, ia berharap bisa dekat dengan kiai. Paling tidak bisa sering-sering mencium tangan kiai dan ulama.

Banser memang sering dekat kiai meski hanya sebagai pengawal kiai saat ada agenda pengajian panggung. Cukup dengan itu, tanpa imbalan apapun, anggota Banser sudah merasa sangat berbahagia.

Habib Umar Al-Mutahhar Semarang sendiri bila diajak sahabat Banser selfie, selalu siap sedia. Meski tidak pernah nyantri, Banser langsung auto santri beliau dan sangat diberikan waktu untuk sekadar ngalap berkah foto selfie.

Banser memang istimewa di kalangan para kiai dan santri Nusantara. Ikhlashnya terbukti.

Para jin tidak segan menggunakan seragam Banser untuk menampakkan dirinya menolong Gus Amak, cucu KH. Hamid Pasuruan saat kecelakaan tunggal malam hari di Tol Trans Jawa KM 78. Setelah menolong, kang Banser hilang ditelan entah.

Hanafi, seorang muallaf dari Buleleng Bali juga merasa kaffah menjadi seorang muslim sejak 2017 setelah dia masuk sebagai anggota Banser.

Begitu menjadi Banser, Santo, yang dulu sangat suka mabuk, langsung auto berhenti mabuk dan orangtuanya sangat suka rumahnya dijadikan rutinan majelis idaroh Ansor-Banser di desanya.

Habib Luthfi sendiri sangat mencintai sahabat-sahabat Banser, yang di zaman Mbah Wahab mendirikan Nahdlatul Wathan disebut sebagai ahlil wathan (pemuda tanah air).

Melalui Banser, banyak yang menemukan jalan kebajikan dan kebijaksanaannya sendiri. Di Banser, semua diterima. Non mulim pun diterima jadi anggota bila dia mau mengucapkan syahadatain (syahadat tauhid dan syahadat rasul) serta berideologi Islam ahlussunnah wal jamaah an-nahdliyyah, bukan menjadikan Islam sebagai ideologi yang menipu.

Menangislah sejadi-jadinya kang, agar bisa ikut Susbalan Banser. Tangismu adalah tebusan rahmatmu, bukti cintamu kepada ulama, haba'ib, kiai, santri dan NU.

Teruslah menangis bila hal itu melegakanmu. Ada ilmu dari Allah Swt. yang akan dikirim kepadamu, secara instan, share it husnul khatimah dan tetap menebar rahmah. [dutaislam.com/ab]

close
Banner iklan disini