Dibalik Muncul Peringatan Nuzulul Qur'an Oleh KH. Moenawar Chalil
Cari Berita

Advertisement

Loading...

Dibalik Muncul Peringatan Nuzulul Qur'an Oleh KH. Moenawar Chalil

Duta Islam #07
Jumat, 25 Oktober 2019
Loading...

asal usul peringatan nuzulul quran
Asal usul peringatan nuzulul quran. Foto: istimewa
DutaIslam.Com - Mbah Ibrahim pulang ke Jawa dari Mekkah menyusul bapaknya Mbah Sholeh yang terlebih dahulu pulang ke Jawa. Setelah sampai ke Jawa, beliau bermukim di Kendal berkeluarga dengan HJ. Bardinah.

Selang beberapa tahun kemudian, beliau pamitan ke Makassar guna memenuhi janjinya dengan temannya semasa hidup di Mekkah yakni cucu buyut dari Syekh Yusuf Al Makassari.

Beliau berangkat sendiri ke Makassar selain untuk jalin persaudaraan (silaturahmi) kepada durriyat Syekh Yusuf yang juga sesama ahli thoriqot juga hendak berdakwah. Alasan berdakwah karena di Makassar meskipun Islam kuat namun masyarakatnya gemar minum tuak karena memang tradisi dari Sultan Hasanuddin.

Konon pasukan Sultan Hasanuddin tersebut diminumi tuak agar tidak takut dengan Belanda. Kyai Ibrahim konon sempat bolak balik Kendal-Makassar melalui jalur teleportasi (kerdipan mata sampai ke tujuan).

Suatu ketika beliau tidak pulang lagi ke Kendal dan wafat di Makassar. Beberapa sesepuh Bani Ibrahim termasuk Ibu saya (Siti Fadlun binti KH Moenawar Chaliel) sempat dulu bercerita, bahwa Mbah Ibrahim meninggal di daerah Gowa yang dulu tempat lahirnya Syekh Yusuf Al Makassari, yang berjarak -/+ 30 km dari makam Pangeran Diponegoro. Usia Mbah Ibrahim bin Sholeh Darat -/+ 90 tahun.

Pesan Ibu saya, bahwa KH. Moenawar Chaliel punya bakat menulis sehingga cukup produktif. Dengan 40 buku merupakan warisan bakat dari mbah buyutnya yaitu Kyai Sholeh Darat.
Kemungkinan beberapa kitab kuno masih tersimpan di rumah Mbah Moenawar Chaliel di kampung. Kulitan no 313 Semarang.

Baca: Mempopulerkan Shalawat Kebangsaan Karya KHR Asnawi

KH. Moenawar Cholil dilahirkan pada bulan Februari 1908 di Kendal. Ayahnya adalah KH. Chalil bin KH. Ibrahim bin KH. Sholeh bin Umar, adalah seorang Kyai, pedagang dan wartawan.

Masa kecil hingga remaja sudah beliau habiskan waktunya hidup di Mekkah meneruskan kakeknya Kyai Ibrahim bin Kyai Sholeh Darat (tradisi keluarga) menimba ilmu agama. Beliau pada usia 4 tahun dibawa oleh bapaknya ke Mekkah dikarena saat di Kendal suka berkelahi dengan sinyo-sinyo Belanda, karena masalah sepakbola. Untuk menghindari masalah, sejak usia 5 sampai 12 tahun beliau di Mekkah (1913-1920).

Sepulang dari Mekkah, pada usia 17 tahun beliau tertarik dengan tokoh Islam yaitu HOS Cokroaminoto sehingga mendorongnya aktif dalam Syarikat Islam (IS) dan sempat akrab dengan Bung Karno.

Tahun 1921, SI pecah, SI pimpinan HOS Cokroaminoto dan SI Merah pimpinan Semaun yang kemudian berubah menjadi PKI dan pada tahun 1926 memberontak terhadap pemerintah Hindia Belanda. Meskipun aktif di SI, beliau tetap dicurigai dan akhirnya ditangkap pada tahun 1926.

KH. Cholil, ayahnya memohon kepada Asisten Residen melalui Bupati Kendal agar Moenawar Chalil dibebaskan. Setelah bebas, beliau dikirim lagi ke Mekkah untuk memperdalam ilmu ke-Islaman pada Januari 1927. Disana, beliau banyak berkenalan dengan para pemuda Islam Indonesia dan belahan bumi Islam lainnya yang sama-sama merantau.

Di Mekkah itu pula ia berjumpa dengan beberapa gurunya berasal dari Solo yang melarikan diri dari Belanda. Juga perjumpaannya dengan beberapa pemuda Islam dari Sumatera diantaranya Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka). Sehingga pergaulannya itu membuat beliau cenderung mengikuti cara pemikiran pembaharuan Islam karena dekat dengan tokoh-tokoh pergerakan Muhammadiyah.

Pada bulan Juni 1929, beliau pulang ke Tanah Air. Beliau diangkat oleh Muhammadiyah Kendal menjadi guru di Sekolah Menengah (Madrasah Al Wustha) Muhammadiyah di Kendal dan Ketua bagian Tabligh Muhammadiyah Kendal. Atas ajakan KH. Mas Mansur dari PP Muhammadiyah, pada tahun 1930, diangkat menjadi anggota majelis tarjih PP Muhammadiyah. Selain itu, menjadi pembantu utama majalah "Pembela Islam" yang terbit di Bandung.

Pada tahun 1933, beliau pindah ke Semarang dan menikah dengan Nyai Kartini binti Raden Abdul Bahri yang masih keturunan kraton Ngayogyakarto Hadiningrat. Kemudian oleh Muhammadiyah Cabang Semarang diangkat menjadi guru pada kursus agama Islam dan kursus muballigh yang diselenggarakan oleh Muhammadiyah Cabang Semarang.

Pada tahun 1934-1935, menjabat Pimpinan Redaksi majalah "Suara Islam" Semarang. Pada tahun 1938, diangkat menjadi Sekreraris Lajnah Ahli-Ahli Hadits Indonesia, dengan Ketua KH. Ma'shum dari Yogyakarta dan wakil ketua KH. Ghozali dari Solo. Sejak 1938 itulah beliau mulai menulis buku dan membuat berbagai artikel untuk majalah-majalah Islam. Bakat yang diturunkan dari cicitnya yaitu Kyai Sholeh Darat membuatnya sangat produktif, sehingga beberapa tulisannya menghiasi berbagai media, seiring juga dengan khotbah-khotbah serta tabligh-tablighnya.

Karakternya keras sejak kecil, yang berbuah pertengkaran dengan sinyo-sinyo Belanda itu, sangat mewarnai dalam dakwahnya yang cenderung memperjuangkan Puritanisme dalam ajaran Islam. Tidak salah bila sebagian cendekiawan Islam seperti Nurcholis Madjid dan Munawir Sadzali yang menganggapnya sebagai seorang monoteis keras.

Sayang sekali, kegiatannya menulis praktis terhenti sejak tentara Jepang menduduki Indonesia. Atas usulan dari Bung Karno, teman akrabnya saat berguru dengan HOS Cokroaminoto itulah membawanya masuk dalam dunia birokrasi, karena dipaksa oleh Jepang untuk terima tawaran menjabat Kepala Jawatan Agama Karesidenan Semarang.

Dengan menyerahnya Jepang kepada sekutu dalam PD II dan berdirinya Republik Indonesia pada Agustus 1945, Gubernur Jawa Tengah yang pertama, R. Wongsonegoro, memintanya untuk tetap menjabat Kepala Jawatan Agama Karesidenan Semarang. Jabatan ini dipangkunya hingga tahun 1951.

Pada tahun 1947, di tengah kesibukannya sebagai birokrat, beliau sempat menulis sebuah buku berjudul "Al Quran sebagai Mu'jizat yang terbesar dan peristiwa 17 Ramadhan" yang diterbitkan oleh Kemenag RI. Atas kedekatannya dengan Bung Karno itulah, beliau mengusulkan agar 17 Ramadhan ditetapkan oleh Pemerintah RI sebagai hari besar resmi dengan nama Nuzulul Qur'an.

Asal Usul Peringatan Nuzulul Quran


Saat ditengah polemik karena agresi militer Belanda (1947), terjadi peristiwa yang memilukan yaitu munculnya pergerakan Daerah Islam (DI) yang dipelopori oleh SM. Kartosuwiryo yang ingin mensterilkan wilayah agar tidak masuk wilayah pendudukan Belanda, yang kemudian lebih populer dengan nama Darul Islam.

Karena dianggap menikam dari belakang itulah, Ir. Soekarno mengaggap Kartosuwiryo sebagai pemberontak, meskipun dulu mereka adalah teman seperguruan saat belajar dengan HOS Cokroaminoto.

KH. Moenawar Chalil merasa sedih akibat konflik diantara mereka berdua, sehingga beliau berniat ingin dalam posisi tengah dan berupaya mendamaikannya meskipun beresiko tinggi. Apa yang menjadi kekawatiran akhirnya terjadi, KH. Moenawar Chalil difitnah oleh sekelompok front sehingga muncullah sebuah temuan dokumen di Cirebon pada tahun 1951 yang menyebabkan beliau ditangkap oleh yang berwajib. Pada dokumen tersebut tercantum pengangkatannya sebagai Gubernur DI/TII untuk Jawa Tengah sehingga dituduh akan menggulingkan pemerintahan yang sah.

Akibat itu pula, beliau dicopot sebagai Kepala Jawatan Agama Karesidinen Semarang pada tahun 1951 dan diberhentikan dari pegawai negeri pada usia 43 tahun tanpa hak pensiun. Beliau ditahan selama 7 bulan lamanya dan dibebaskan oleh Presiden Soekarno karena tuduhan tersebut tidak terbukti. Beliau dibebasksn sehari sebelum Hari Raya Idul Fitri pada tahun 1952.

Sekitar pertengahan bulan Oktober 1952, Presiden Soekarno dan Wapres Muhammad Hatta, memintanya kembali menjadi PNS dengan menawarkan jabatan tertinggi di Kemenag yaitu sebagai Menteri Agama. Namun rasa pedih akibat tuduhan tersebut sebelumnya dan perbedaan prinsip dengan Bung Karno, beliau menolaknya dengan alasan akan memusatkan seluruh tenaga, pikiran dan waktunya untuk menulis melanjutkan kegiatannya semula yang terhenti sejak tahun 1941.

Karena beliau seorang penulis buku-buku Islam yang produktif, pada tahun 1957, Persatuan Himpunan Pengarang Islam Pusat yang berkedudukan di Jakarta, memilihnya sebagai salah satu dari sepuluh penulis terkemuka di Indonesia.

Ibu saya, Siti Fadhlun bercerita sering menemani beliau saat menulis di malam hari. Dengan bermodal mesin ketik, dalam semalam lembaran karya terangkai dengan rapi. Bahkan menyaksikan beberapa kitab rujukannya membuka sendiri lembaran-lembarannya sehingga memudahkannya mencari halaman demi halaman.

Karena semangat yang berkobar-kobar dalam menulis, beliau kurang menperhatikan kesehatannya yaitu mengidap kanker paru-paru dan tumor otak selama kurang lebih dua bulan lamanya. Sehingga pada tanggal 23 Mei 1961 pada usia 53 tahun beliau wafat di Kampung Kulitan 313 Semarang.

Semoga karya-karya beliau masih bisa kita nikmati dan lakukan dengan baik, terakhir kirim Fatihah untuk beliau, aminn. [dutaislam.com/ka]

close
Banner iklan disini