Bengisnya Taliban, Deritanya Afganistan (2)
Cari Berita

Advertisement

Loading...

Bengisnya Taliban, Deritanya Afganistan (2)

Duta Islam #02
Senin, 21 Oktober 2019
Loading...

Tentara Taliban. (Foto: nationalinterest.org)

Oleh Sumanto Al Qurtuby

DutaIslam.Com - Dulu, waktu kuliah di Virginia, Amerika Serikat, sejumlah temanku berasal dari Afganistan. Dari mereka pada mulanya saya tau tentang Afganistan dan kebengisan rezim Taliban saat menguasai negara itu. Karena penasaran, saat kuliah doktoral di Boston saya mengambil mata kuliah tentang Afganistan. Selama satu semester saya belajar dengan seoroang profesor sepesialis atau ahli kajian tentang Afganistan (Tom Barfield) sekaligus membaca dan mempelajari aneka literatur tentang Afganistan, tentu saja termasuk Taliban ini.

Seperti saya kemukakan sebelumnya (silakan baca bagian pertama dari KV ini), kelompok milisi Taliban pada mulanya didirikan tahun 1994 diprakarsai oleh Muhammad Omar, bekas kombatan Mujahidin saat perang melawan Soviet. Anggota utama "kelompok milisi” ini dirikrut dari siswa-siswa madrasah jaringan Deobandi yang terkenal konservatif-fundamentalis yang tersebar di Afganistan maupun Pakistan (banyak jaringan Muslim radikal-teroris Indonesia yang alumni madrasah Deobandi ini).

Misi utamanya waktu itu untuk “menyelamatkan” Afganistan yang porak-poranda akibat Perang Sipil antara sejumlah faksi Islam yang tidak setuju dengan bentuk atau model pemerintahan baru atau transisi (dibentuk tahun 1992 dengan nama Negara Islam Afganistan) pasca tumbangnya pemerintah yang diback up Soviet. Setelah beberapa kali gagal dalam upaya perebutan Kabul, akhirnya usaha merebut Kabul berhasil pada bulan September, 1996. Sejak itu mereka mendeklarasikan secara sepihak pendirian Emirat Islam Afganistan.

Pasca memproklamirkan diri pendirian pemerintahan baru bernama Emirat Islam Afganistan, Omar memindahkan ibukota ke Kandahar, tempat kelahirannya. Dasi sanalah, ia dan rezim Taliban mengontrol sekitar 2/3 wilayah Afganistan dari tahun 1996 hingga 2001 saat mereka tumbang diserbu pasukan Amerika pasca tragedi teroris 9/11 di Washington, DC, dan New York.

Karena tidak memiliki pengetahuan dan pengalaman sama sekali di dunia pemerintahan dan kenegaraan, Taliban memerintah dengan ngawur seenak perut mereka sendiri. Taliban yang berideologi campuran antara fundamentalisme-konservatisme Deobandi plus militan Islamisme atau Salaf jihadisme model Al-Qaeda ini memerintah dengan kebodohan, kebengisan dan teror. Syariat / Hukum Islam ditafsirkan dan dipraktikkan secara ngawur dan teror dan kekerasan dijalankan untuk mengontrol warga.

Selama dikendalikan oleh rezim dan milisi gemblung Taliban, sudah tak terhitung berapa jumlah korban kekerasan dan pembunuhan warga. Tak peduli sesama Muslim, mereka yang tidak tunduk terhadap aturan konyol Taliban akan dieksekusi.

Tak terhitung lagi berapa jumlah kaum perempuan yang menjadi target kebrutalan. Puluhan ribu rumah penduduk dibakar, minoritas dieksekusi, dan banyak daerah yang dibumihanguskan karena Taliban mengadopsi kebijakan “scorched earth”, sebuah strategi dan taktik pemusnahan kawasan penduduk yang dipandang berpotensi digunakan oleh kelompok tertentu untuk melawan rezim.

Bukan hanya itu saja. Taliban juga menghancurkan warisan-warisan budaya warisan leluhur yang tak ternilai harganya seperti patung Budha Bamiyan yang berusia ratusan tahun. Mereka juga melarang berbagai bantuan makanan dan obat-obatan dari PBB dan negara-negara lain.

Taliban mengisolasi Afganistan dari dunia luar. Maka tak pelak, kelaparan merajalela, kemiskinan dimana-mana, dan kematian menjadi pemandangan biasa. Infrastruktur dan perekonomian mati total. Semua kebutuhan dasar manusia: air bersih, listrik, makanan, rumah, dlsb semuanya dalam kondisi menyedihkan.

Rezim Taliban sendiri untuk menghidupi para milisi dan begundalnya – seperti pernah ditulis oleh Ahmad Rashid yang ahli tentang Afganistan – hidup dengan menjual ganja (mariyuana) yang memang tumbuh subur di Afganistan, selain disuplai oleh Bin Laden dan Al-Qaeda.

Tahun 2001, rezim Taliban tumbang. Tapi teror tidak berakhir. Sejak itu hingga kini, gerakan teror dan kekerasan brutal terus dilancarkan dari luar pemerintah hingga ribuan nyawa melayang. Masjid-masjid juga banyak yang dibom oleh mereka.

Tercatat selama tiga bulan saja (dari Juli sampai akhir September, 2019), terdapat sekitar 1.174 nyawa melayang akibat bom) belum termasuk ribuan lain yang menderita luka. Omar memang sudah mampus pada tahun 2013 tapi Taliban tidak mati. Kini, mereka dikomandoi oleh Hibatullah Akhundzada yang menggantikan Akhtar Muhammad Mansur yang mati karena serangan drone Amerika tahun 2016.

Kasus Taliban menjadi pelajaran berharga: jangan mudah percaya dengan orang-orang dan elit politik-agama yang sering ndobos bengak-bengok ngomong tentang syariat, negara Islam, khilapah, dlsb. Mereka tidak lebih hanya ingin menjadikan agama sebagai tangga untuk menggapai kekuasaan dan mengontrol umat manusia. [dutaislam.com/gg]

Jabal Dhahran, Jazirah Arabia.

Source: Sumanto Al Qurtuby

close
Banner iklan disini