Bengisnya Taliban, Deritanya Afganistan (1)
Cari Berita

Advertisement

Loading...

Bengisnya Taliban, Deritanya Afganistan (1)

Duta Islam #02
Senin, 21 Oktober 2019
Loading...

Tentara Taliban. (Foto: nationalinterest.org)

Oleh Sumanto Al Qurtuby

DutaIslam.Com - Taliban arti harfiahnya adalah murid atau siswa. Tepatnya murid-murid madrasah Islam yang tersebar di Afganistan dan Pakistan. Dibawah komando Muhammad Omar (1960-2013), murid-murid madrasah Islam tradisional-fundamentalis di bawah jaringan Deobandi ini kemudian membentuk “kelompok milisi” pada tahun 1994.

Alasan pembentukan “grup milisi” ini adalah untuk ikut menyelesaikan carut-marut Afganistan akibat Perang Sipil yang melanda negara itu pasca ambrolnya rezim pemerintah yang ditopang Soviet pada tahun 1992.

Ceritanya begini. Pada tahun 1979, Soviet intervensi Afganistan. Mereka kemudian membentuk pemerintahan berhaluan Marxisme-Komunisme di bawah pimpinan Babrak Karmal (kelak diganti oleh Najibullah Ahmadzai). Intervensi Soviet ini membuat Amerika meradang dan Pakistan ketakutan.

Pakistan yang waktu itu di bawah Ziaul Haq khawatir aneksasi Soviet itu akan merembet ke Balochistan, provinsi terluas Pakistan. Amerika, yang waktu itu di bawah Carter dan kemudian Reagan, meradang tentu saja karena tidak mau pengaruh Komunisme tambah meluas. Sejak dulu rezim kapitalis Amerika memang musuh bebuyutan rezim komunis Soviet.

Untuk menghalau “tentara merah” Soviet ini, dibuatlah skenario: membentuk “laskar jihad” bernama Mujahidin. Maka dibentuklah “laskar jihad” ini yang anggota milisi utamanya direkrut dari para pemuda Afganistan, Pakistan, dan juga kawasan Arab. Sebagian kecil dari Mindanao dan segelintir dari Indonesia.

Kala itu, berpuluh-puluh ribu milisi dari berbagai negara ini dilatih perang oleh para intelejen Amerika (CIA), Pakistan (ISI), dan Arab Saudi (GID) yang ikut gabung dalam koalisi anti-Soviet. Di antara puluhan ribu milisi Mujahidin itu adalah Osama bin Laden (kelak mendirikan Al-Qaidah) dan Muhammad Omar (kelak mendirikan Taliban).

Perang antara Soviet dan Mujahidin ini berlangsung cukup lama sampai akhirnya pada tahun 1992, tentara Soviet mengibarkan bendera putih tanda menyerah dan mudik ke negaranya. Perang Soviet-Mujahidin memang secara resmi sudah berakhir tapi perang di Afganistan belum usai. Kali ini bukan “perang ideologi” tapi “perang sipil”.

Pemicunya: beberapa faksi Mujahidin tidak terima dengan hasil Perjanjian Damai Peshawar yang membuahkan pemerintahan baru bernama “Negara Islam Afganistan” dan pembentukan rezim pemerintah interim di bawah Sibghatullah Mujaddadi (dan kemudian Burhanuddin Rabbani).

Faksi-faksi Islamis garis keras yang menolak tersebut adalah Hizbul Islami, Hizbul Wahdat, dan Ittihadul Islami. Maka demikianlah, perang kembali berkecamuk di Afganistan dari tahun 1992 hingga 1996. Sejumlah wilayah Afganistan kembali menjadi ajang perang dan rebutan para “warlords” yang rakus dan kejam atas nama agama, etnis maupun ideologi.

Di kala Afghanistan berada di masa transisi yang tidak jelas masa depannya itulah, Taliban, di bawah komando Muhammad Omar yang seorang guru ngaji, imam langgar dan eks kombatan Mujahidin tadi, tampil ke publik pertama kalinya pada tahun 1994 dengan dalih: ingin membebaskan rakyat Afganistan dari penderitaan panjang dan perang saudara. Menurut para pentolan dan pentilan Taliban, Afganistan hancur-lebur karena ketamakan dan jauhnya para pemimpin dan rakyat dari ajaran syariat Islam.

Maka dimulailah “gerakan pembebasan” dari kelompok milisi Taliban yang diawali dari Kabul itu kemudian berhasil menguasai kota ini setelah beberapa kali sebelumnya gagal dihalau pasukan loyalis Menhan dan warlord Ahmad Shah Massoud. Pada tahun 1996, Omar dan milisi Talibannya berhasil menguasai Kabul dan mendeklarasikan pemerintahan baru bernama Emirat Islam Afganistan. Kenapa pakai nama “Emirat Islam Afganistan” bukan “Negara Islam Afganistan” karena justru rezim pemerintah “Negara Islam Afganistan” itulah yang mereka perangi.

Apakah sejak mendeklarikan Emirat Islam Afganistan, Muhammad Omar dan Taliban berhasil membuat Afganistan damai dan makmur seperti yang mereka khayalkan? Tidak sama sekali tidak. Alih-alih ingin menjadikan Afganistan laksana syurgah yang menggiurkan, di bawah kontrol Omar dan Taliban, negara ini justru dalam sekejab berubah bagaikan neraka yang mengerikan.

Seperti apa derita Afganistan di bawah kendali Omar dan Taliban, jangan kemana-mana pantengin terus KV di Pesbukku ini, saya mau “bobok-bobok siang” dulu. Tapi sebelumnya mari berpantun dulu: Jalan-jalan di tol Tuban, mampir di warung makan kluban; jangan percaya dengan Taliban, orangnya edan-edan. [dutaislam.com/gg]

Source: Fb Sumanto Al Qurtuby

close
Banner iklan disini