Apa yang Harus Dilakukan LDNU Mengahadapi Fenomena Semacam Hijrah-Fest?
Cari Berita

Advertisement

Loading...

Apa yang Harus Dilakukan LDNU Mengahadapi Fenomena Semacam Hijrah-Fest?

Duta Islam #02
Kamis, 17 Oktober 2019
Loading...

Ilustrasi: Pamflet acara Hijrah Fest.

Oleh Mamang M Haerudin

DutaIslam.Com - Bahagia bertabur syukur, hari ini, tepatnya Rabu siang, 16 Oktober 2019, pengurus Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Kabupaten Cirebon mendapat kunjungan dan silaturahim dari pengurus LDNU Kabupaten Bandung. Selain hendak bertukar pikiran bersama kami, para dai dari Bandung tersebut juga hendak berziarah ke makam Sunan Gunung Jati. Sebagai bagian dari cara Nahdliyin untuk memohon kekuatan dalam menjalankan program pengabdian kepada masyarakat. Saya sendiri berdoa, semoga jalinan silaturahim ini dapat terus terjalin, semakin bisa dikonkritkan pada upaya-upaya nyata dalam mengembangkan dakwah di masyarakat.

Saya mencermati betul kegelisahan dan kondisi masyarakat saat ini, entah itu di Kabupaten Bandung ataupun di Kabupaten Cirebon. Menurut para dai LDNU Kabupaten Bandung, sebetulnya NU itu mayoritas, mencapai 85 persen dari umat dan Ormas yang ada. Hanya saja data itu mesti lebih diperjelas lagi, sebab secara kultural--bukan secara struktural dan organisasi--tradisi keagamaan NU menjadi tradisi yang sampai hari ini masih dijalankan oleh masyarakat. Hanya saja, gangguan demi gangguan, gerakan demi gerakan untuk memporakporandakan tradisi keagamaan NU itu semakin masif. Strategi yang dilancarkan sangat ciamik.

Apalagi di Kabupaten Cirebon. Kabupaten yang dikelilingi Pesantren-pesantren besar di antaranya Pesantren Babakan, Ciwaringin, Pesantren Kempek, Pesantren Gedongan, Buntet Pesantren dan masih banyak lagi. Jangankan di Bandung, kami di Cirebon juga seperti keteteran melihat gerakan-gerakan yang mengarah pada indoktrinasi ideologi radikal. Untungnya PCNU Kabupaten Cirebon yang digawangi KH. Wawan Arwani Amin dan KH. Azis Hakim Syaerozie betul-betul memahami kondisi ini, sehingga kemudian Banom dan Lembaga di PCNU semuanya digerakkan untuk turun langsung menjaga masyarakat dari berbagai gangguan.

Saya sendiri berbekal belajar di Pesantren, di Perguruan Tinggi, di Jaringan Islam liberal, bersama saudara-saudara kita yang non Muslim, komunitas Ahmadiyah, Syiah dan terakhir mencoba "belajar merunduk" bersama teman-teman hijrah-radikal selama lebih kurang 2 tahun 4 bulan, saya merasa dakwah NU harus diperbaharui dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Tradisi yang lama tetap dilestarikan, hanya saja inovasi harus diinisiasi dan diwujudkan. Dakwah NU, hari ini tidak bisa hanya mengandalkan ceramah. Kita harus lebih berani dan pro aktif melakukan dakwah-dakwah yang menyeluruh.

Akhirnya saya mengungkapkan bahwa kalau dakwah NU mesti kontekstual dan konkrit. Kita mesti mengupayakan dakwah yang merangkul, bukan memukul. Kepada teman-teman hijrah-radikal sekalipun. Saya titip agar para dai NU tidak lagi "menyerang" dan menyalahkan dakwah-dakwah Ormas dan kelompok lain di luar NU. Selama saya belajar di berbagai tempat dan kesempatan itu, saya selalu meyakini bahwa Islam ala NU adalah Islam rahmatan lil'alamin yang paling sesuai dengan konteks Indonesia. Mengapa? Dakwah ala NU adalah dakwah bersanad yang sanadnya menyambung dengan para ulama Nusantara, para Walisongo sampai Rasulullah saw. Inilah berkah dakwah NU.

LDNU harus membekali para dainya dengan kemampuan public speaking dan manajemen organisasi yang lebih baik. Mengapa dakwah teman-teman hijrah-radikal bisa viral dan garang? Kuncinya para dai mereka mempunyai kemampuan public speaking yang "menyihir" dan dakwah pemberdayaan (sedekah dan infak jemaah digunakan untuk pemberdayaan umat di berbagai bidang: pendidikan, ekonomi, kesehatan, dll). Mereka juga menggenjot dakwah kolaboratif, saling menguatkan dan saling membela. Contoh ketika mereka menyelenggarakan Hijrah-Fest. Mereka menjejerkan dai-dai andalan, para jemaah mendaftar (berapapun biayanya), sambil menginap, jemaah yang mempunyai anak, ada penitipan anak khusus beserta fasilitas lengkapnya, berikut membangun kekuatan ekonomi komunitas (berjualan gamis, cadar dan lain sebagainya).

Hijrah-Fest didesain sedemikian rupa. Sponsornya banyak, termasuk disuport banyak artis hijrah juga. Teman-teman hijrah juga disuport tim IT yang keren, kemasan dakwahnya pun sangat sesuai dengan kebutuhan. Inilah kehebatan manajemen dakwah teman-teman hijrah yang lengah dari perhatian dan garapan NU. Jangan aneh, jika lima sampai sepuluh tahun yang akan datang, akan terus bermunculan para penghafal Qur'an yang hafal secara detail hingga baris ayat (bukan hanya hafal bunyi ayat dan juz saja), termasuk kader-kader hijrah yang akan jago kitab kuning.

Cepat kita bergerak! LDNU harus dakwah total dan segera mengevaluasi dakwah yang tidak efektif dan sendiri-sendiri seperti selama ini ada. Beruntung kita punya Gus Miftah, Sayid Seif, Gus Baha dan Gus Muwafiq. Kita masih sangat kekurangan dai-dai NU yang viral dan membumi. Di wilayah III Cirebon sendiri kita juga punya Buya KH. Syakur Yasin. Sementara dai-dai muda NU masih sangat kekurangan. Kita harus lebih pro aktif dan jemput bola. Semua platform media sosial maupun televisi nasional harus kita garap. Dan tidak ada jalan lain kecuali kita juga harus saling bahu-membahu agar masyarakat lebih selektif menghadirkan para dai atau penceramah. Jangan sampai pengajian di sekitar kita diisi oleh para dai dan penceramah radikal yang merusak budaya dan keutuhan NKRI. Wallaahu a'lam. [dutaislam.com/gg]

Mamang M Haerudin (Aa), Pesantren Bersama Al-Insaaniyyah, 16 Oktober 2019.

close
Banner iklan disini