Agama dan Penindasaan Terhadap Minoritas
Cari Berita

Advertisement

Loading...

Agama dan Penindasaan Terhadap Minoritas

Duta Islam #04
Minggu, 06 Oktober 2019
Loading...

Konflik warga berawal dari isu sara (sumber: istimewa)
DutaIslam.Com - Kerusuhan di Tanjung Balai masih menyisakan duka bagi masyarakat Indonesia. Bagaimana tidak? Hanya karena masalah sepele, yakni teguran seorang warga atas pengeras suara dari sebuah tempat ibadah, namun berujung pada tindakan anarkis. Sungguh ironi.

Peristiwa serupa juga terjadi di daerah-daerah lain. Menurut data yang dikeluarkan Setara Institute, selama 2010 setidaknya ada 216 pelanggaran kebebasan beragama yang dibagi dalam 286 bentuk kejadian di berbagai daerah. Salah satunya di Lombok, warga Ahmadiyah mengalami kekerasan luar biasa. Rumah-rumah warga Ahmadiyah di Ketapang, Pulau Lombok, dirusak dan dibakar serta saluran aliran listriknya diputus.

Tak hanya terjadi pada warga Ahmadiyah, kekerasan juga terjadi terhadap minoritas Muslim Syi’ah di Kabupaten Sampang, Madura. Rumah, mushola, hingga madrasah milik warga Syi’ah dibakar pada Desember 2011.  Bahkan penyerangan itu terulang kembali pada 26 Agustus 2012 silam (m.tempo.co/ /kronologi-penyerangan-warga-syiah-di-sampang).

Rentetan kerusuhan yang terjadi di negri ini telah menciderai nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila dan UUD 1945. Baik pancasila  maupun UUD 1945 mengedapankan sikap toleransi dan saling menghargai sesama umat beragama. Tentunya, sikap intoleransi tersebut berbanding terbalik dengan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Kekerasan dan pengrusakan yang terjadi sebab pemahan beragama yang ekslusif. Suatu sikap yang cenderung menutup diri dari adanya keanekaragaman dalam masyarakat, termasuk dalam beragama. Agama akan terkesan jumud dan kaku. Cara pandang beragama yang demikian, akan membawa pemeluk agama merasa dirinya yang paling benar. Akibatnya, ia akan mudah menyalahkan dan menyesatkan kelompok yang tidak sepaham.

Dengan dalih agama, kelompok ini membabibuta menindas golongan yang dianggap “sesat” dan “menyimpang”. Dengan membawa pentungan,  mereka merusak fasilitas pribadi maupun publik bak bangsa Barbar, tanpa etika. Teks-teks suci keagamaan dijadikan sebagai legitimasi dan pembenaran atas tindakan anarkisnya. Sungguh ironi, hal itu dilakukan orang-orang yang katanya beragama.

Maka dari itu, perlu adanya rekonstruksi dalam memahami teks-teks keagaman dengan benar. Pemahaman keagaman yang komprehensif akan menumbuhkan sikap beragama yang inklusif; terbuka dan menghargai keanekaragaman atau perbedaan. Sehingga, agama tidak lagi dikonteskan di ruang publik dalam menilai benar dan salah suatu kelompok.

Pentingnya toleransi dan dialog terbuka

Selain itu, menciptakan ruang dialog di antara komponen umat beragama juga menjadi sebuah keniscayaan. Saat dialog, kita akan mendengarkan dengan sabar apa yang disampaikan orang lain terkait ketidaksepahamannya dengan kita. Begitu pula kita akan menyampaikan apa yang diyakini dan orang lain mendengarkannya. Ini akan membutuhkan kontrol emosi dan ketabahan yang besar.

Dari situ kelompok yang memiliki pandangan atau pemahaman berbeda akan tumbuh sikap keterbukaan satu sama lain, tidak lagi saling curiga. Karena tidak sedikit konflik berawal dari ruang-ruang kecurigaan. Mereka bertindak berdasarkan persepsi, tanpa didasari bukti dan klarifikasi. Adanya dialog yang sehat dan terbuka dapat memupus ruang-ruang itu.

Dengan demikian, sikap toleran akan bermekaran di dalam pribadi masing-masing pemeluk agama. Mereka akan menempatkan agama atau pemahamannya bukan lagi vis a vis dengan yang lainnya. Melainkan sebagai spirit dan moralitas yang akan selalu membawa panji kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, dan keadaban.

Transformasi dari intoleransi menjadi toleransi merupakan salah satu ukuran sebuah bangsa yang beradab dan berkeadaban. Semakin toleran sebuah bangsa, semakin tinggi pula tingkat peradabannya. Oleh karena itu, toleransi merupakan nilai yang harus ditanamkam bagi setiap masyarakatnya.

Menurut Micheal Walzer, sebagaiman dikutip Zuhari Misrawi dalam bukunya Pandangan Muslim Moderat, toleransi sebagai keniscayaan dalam ruang individu dan ruang publik. Sebab, salah satu tujuan toleransi adalah membangun hidup damai di antara berbagai kelompok masyarakat dari beragam perbedaan latar belakang, kebudayaan, maupun identitas.

Toleransi mampu menumbuhkan dan membentuk kemungkinan-kemungkinan sikap atau action. Misalnya, sikap untuk menerima perbedaan, mengakui hak orang lain, menghargai eksistensi orang lain serta antusias mendukung perbedan sudut pandang dan keberagaman ciptaan Tuhan. Indonesia sebagai negara multikultural, toleransi menjadi sebuah keniscayaan agar kesatuan dan perdamaian tetap bersemai di negeri ini.[dutaislam.com/in]
Loading...