5 Tahun Islam Nusantara, Gus Nadir: Belum Ada Kritik Valid dan Bisa Dikaji Secara Akademik
Cari Berita

Advertisement

5 Tahun Islam Nusantara, Gus Nadir: Belum Ada Kritik Valid dan Bisa Dikaji Secara Akademik

Duta Islam #03
Kamis, 03 Oktober 2019

Rais Syuriah PCINU Asutralia-New Zealand Nadirsyah Hosen. Foto: NU Online.
DutaIslam.Com - Sejak pertama kali muncul pada 2015, Islam Nusantara masih jadi pembahasan hingga saat ini. Namun, hanya sedikit kritik yang valid dan bisa dikaji secara akademik. Termasuk di media sosial atau Medsos.

"Ketika kita berbicara tentang Islam Nusantara, dan ini heboh di Medsos, yang mengkritik juga banyak, tetapi sampai sekarang belum menemukan kritik yang valid dan bisa dikaji secara akademik," kata Rais Syuriah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Australia-New Zealand Nadirsyah Hosen, saat mengisi pelatihan Lokakarya Internasional dan Pelatihan Metodologi Islam Nusantara di Universitas Yudharta Pasuruan, Jawa Timur, Rabu-Jumat (25-27 /09/2019).

Menurut Gus Nadir, sapaan akrabnya, sampai saat ini semua kritikan yang ada menentang karena ketidaktahuan dan kebencian terhadap Nahdlatul Ulama (NU). "Yang ada adalah kritikan karena ketidak tahuan plus kebencian terhadap Nahdlatul Ulama, sehingga yang ada adalah kritikan-kritikan yang sangat karikatural," jelasnya.

Komentar atas Islam Nusantara, lanjut Gus Nadir, tidak dapat dipertanggungjawabkan dan hanya menyudutkan. Ini dapat dilihat dari komentar yang disampaikan berbagai kalangan.

"Misalnya, jika Islam Nusantara lebih baik shalat, minta shalat bukan dengan Assalamu'alaikum kanan kiri tapi selamat pagi, selamat pagi. Atau jika meninggal kain kafannya bukan kain putih, tapi batik. Ini tidak ada yang dilakukan oleh para ulama kita,”urai Gus Nadir.

Atas penyebaran informasi palsu mengenai sifatnya karikatural itu hingga banyak orang menjadi antipasti terhadap Islam Nusantara. "Itu yang disiarkan, yang dibicarakan orang antipati terhadap Islam Nusantara," bebernya.

Gus Nadir kemudian mengisahkan istilah sebelum munculnya istilah Islam Nusantara. Pada tahun 60 hingga 70-an para ulama Indonesia sudah membahas apa yang disebut dengan fiqih Indonesia. Para ulama itu adalah Hazairin dan Hasbi Assiddiqi, penggagas masalah fiqih Indonesia.

“Jadi kalau dulu kita membaca ada Ahlul Kufah, Ahlul Hijaz. Jadi, barangsiapa yang membaca fiqih klasik itu selalu ada istilah Ahlul Kufah, Ahlul Hijaz, Ahlul Rayi. Lalu mengapa tidak ada fiqih Indonesia?” ujar Gus Nadir.

Dengan demikian, dalam pandangan Gus Nadir, bukan kemudian fiqihnya ditambah-tambahi atau mengakhiri shalat subuh dengan selamat pagi. Namun itu yang disebut fiqih Indonesia. Gus Nadir juga menyinggung soal salah satu ijtihad para ulama Nusantara dalam menerima Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI.

“Ketika para ulama menerima NKRI sebagai harga mati sebagai bentuk final, hal itu tidak usah dibantah dengan mengatakan mana ada di Al-Qur'an ataupun di hadits kalimat Negara Kesatuan Republik Indonesia? Itu tidak ada,” sergahnya.

Karena itu Gus Nadir lantas mengajak hadirin untuk mempelajari tarikh tasyri’ dan ushul fiqih dari mulai masa Nabi yang menerima lokalitas. Yakni, bagaimana konsep fiqih yang menerima lokalitas dan bagaimana para ulama yang menjadikan adat atau urf itu sebagai salah satu sumber hukumnya.

“Sehingga ketika para ulama kita menerima NKRI sebagai harga mati, sebagai bentuk final itu tidak usah bingung karena ulama kita memahami tarikh tasyri' dan ushul fiqih,” terangnya.

Menurut Gus Nadir, kalangan yang menolak NKRI itu yang tidak paham tarikh tasyri’ dan ushul fiqih. Begitu juga dengan kalangan yang menolak Islam Nusantara. “Mereka yang menolak Islam Nusantara itu tidak paham tarikh tasyri' dan ushul fiqih,” ujarnya.

Gus Nadir juga mengajak hadirin bangga lantaran pesantren dan kampus bisa melakukan hal itu semua. “Karena itu berbanggalah bahwa pesantren dan kampus kita di sini, kajian kitab turats, kitab kuningnya jalan, karena pesantren dan kampus ini lah yang akan menjadi benteng bagi NKRI,” tutupnya. [dutaislam.com/pin]

Keterangan: Disadur dan diedit dari NU Online dengan judul asli 'Gus Nadir Beberkan Alasan Islam Nusantara Ramai Dibicarakan'

close
Banner iklan disini