Zuhud Pergi Dengan Lupa yang Dicintai oleh Allah
Cari Berita

Advertisement

Zuhud Pergi Dengan Lupa yang Dicintai oleh Allah

Duta Islam #07
Sabtu, 14 September 2019

zuhud in islam
Sikap zuhud. Foto: istimewa
Oleh: Yudhie Haryono

DutaIslam.Com - Yang tersisa kini ritualnya. Yang terhempas kini sosialnya. Yang terbuang kini intelektualnya. Yang terkubur kini spiritnya. Tergambarlah kesalihan ritual. Padahal, salih ritual tanpa salih sosial itu menajamkan gerak ke dasar samudra berupa pudarnya jihad dan purbanya zuhud.

Sebagai sebuah metode sekaligus tujuan, zuhud menjadi penting untuk direproduksi dan dikembangbiakkan demi menghadapi kejahiliyahan yang bertubi-tubi. Kurikulum ini wajib dikreasi kembali demi kemartabatan ummat dan bangsa.

Secara etimologi, zuhud berarti "raghaba ‘ansyai’in wa tarakahu" (tidak tertarik terhadap sesuatu dan meninggalkannya karena bukan utama). Zahada fi al-dunya, berarti meninggalkan (struktur) dunia untuk mencapai derajat yang lebih mulia. Ia ultima dari empat kondisi: lahir, jihad, zuhud dan syahid.

Baca: Alasan Tegas Gus Dur dan Gus Yaqut Menghadapi Kelompok Islam Radikal

Mengapa kini kurikulum itu hilang? Ada banyak jawaban. Minimal ada tiga.

Pertama, Islam mengalami kebosanan kemenangan. Sebagai sebuh konsep, ia datang, bertanding dan menang (veni, vidi, vici). Sebagai sebuah bangunan, ia telah menyempurnakan diri (kaffah/paripurna). Maka gerak kebosanan pasti datang sebagai hukum alam. Berganti dengan kaum baru dengan nilai-nilai baru.

Islam sebagai komunitas dihancurkan oleh kesempurnaan dalam dirinya. Ini mirip logika terkutuknya negara-negara yang kaya akan SDA. Kebanyakan negara kaya SDA itu terjajah dan paria. Indonesia adalah contoh terbaik dari kondisi ini. Catat yah. Indonesia adalah bangsa Muslim yang sangat kaya SDA-nya.

Kedua, konsep, nilai dan metode zuhud ini mengerikan buat bangsa-bangsa lain. Akibatnya, mereka berlomba-lomba menghancurkan dan menggantinya. Dalam logika perang peradaban, menghancurkan nilai-nilai dan metode peradaban musuh adalah hal lumrah. Tentu via proxy dan agensi. Dibantu oleh pengkhianatan dalam dan begundal lokal yang lelah plus tergoda (limbah).

Ketiga, ini konsekuensi dari globalisasi yang meniscayakan lahirnya hibridasi masyarakat antara produsen (penjajah), konsumen (terjajah) dan komersial (persetubuhan penjajah dan terjajah). Dalam arsitektur bangsa komersial, yang menjadi nilai, metode dan tujuan adalah "uang." Sampai-sampai pemilihan ketua ormas keagamaan saja yang terpilih adalah yang bayar pakai uang. Bukan terpilih karena ilmu dan kezuhudannya.

Tentu saja, para alim yang menyembah uang itu tak akan ada harganya di depan penguasa dan sponsornya. Memang ada harganya ketua NU, Muhamadiyah, Persis, HMI dan ICMI di depan pemerintah dan konglomerat asing-aseng? Pasti tidak ada sama sekali. Mereka kini hanya buih yang nista.

Zuhud in Islam


Tetapi, saudara-saudara jangan kaget. Sebab kondisi itu pernah dinujum Nabi Muhammad dengan mengatakan, “Akan datang tahun-tahun penuh dengan kedustaan yang menimpa manusia. Para pendusta dipercaya; orang jujur didustakan; orang cerdas dinistakan; amanat diberikan kepada pengkhianat; orang zuhud dikhianati; para jihadis ditinggalkan; orang bodoh mengurusi soal-soal publik dan kepemimpinan” (HR Muslim).

Lalu, kita harus bagaimana? Tak ada jalan lain kecuali mereproduksi kembali gagasan tersebut di mana saja. Dengan ingatan yang jernih dan hati yang bersih, daya baca harus meraksasa. Bahwa dunia berubah ke arah baik karena pemimpin yang zuhud. Pemimpin crank. Manusia yang menyempal dari keumuman. Sebab, ia mencintai yang tak lazim. Di hati, pikiran, jiwa, raga dan tindakannya hanya cinta pada intelektualisme, spiritualisme dan kapital-sosial. Ia anti libidinal (menyembah lawan jenis), anti status quo (feodalisme dan fasisme), anti kapitalisme (ekonometrika).

Baca: Menduniakan "Bhineka Tunggal Ika

Ia adalah pribadi agung yang mewariskan nama baik. Ia hidup abadi. Ia menginsiprasi. Ia melegenda dengan moral dan mentalnya. Itulah si zuhud. Ultima dari perjalanan pendek: lahir, jihad dan syahid. Kaliankah itu yang sedang siyam? Semoga saja. [dutaislam/ka]

close
Banner iklan disini