Tafsir Surat Al-Hujurat Ayat 2, Etika Berbicara di Hadapan Nabi
Cari Berita

Advertisement

Loading...

Tafsir Surat Al-Hujurat Ayat 2, Etika Berbicara di Hadapan Nabi

Duta Islam #04
Minggu, 08 September 2019
Loading...

Penjelasan kandungan Surat al-Hujurat ayat 2 (sumber: istimewa)
Surat al-Hujurat ayat 1-9 berkaitan dengan akhlak. Di dalam ayat tersebut dijelaskan tentang akhlak terhadap Allah SWT dan Rasul-Nya, akhlak terhadap diri sendiri, sampai akhlak kepada orang lain, baik yang muslim maupun yang non muslim.

DutaIslam.Com - Adapun Surat al-Hujurat ayat 2 membincang tentang etika berbicara di hadapan Nabi Muhammad SAW. Di dalam Surat al-Hujurat ayat 2 disebutkan, bahwa para sahabat ketika berbincang-bincang dengan Rasulullah SAW hendaknya bertutur kata yang sopan.

Surat al-Hujurat ayat 2 memberikan tuntunan kepada umat Islam agar mengedepankan etika saat berbicara dengan Nabi Muhammad SAW. Allah SWT di dalam Surat al-Hujurat ayat 2 mengingatkan kepada umat Islam tidaklah pantas berbica dengan nabi seperti berbicara kepada temannya sendiri.

Surat al-Hujurat ayat 2 menegaskan agar ketika menyampaikan pendapat atau usulan di hadapan Nabi Muhammad SAW dengan penuh akhlak. Sebagai muslim, ia tidak boleh meninggikan suaranya ketika berbicara di hadapan Nabi Muhammad SAW.

Baca: Tafsir Surat Al-Hujurat Ayat 1, Etika Murid Kepada Guru

Sebagai konsekuensi dari iman kepada Rasulullah SAW, setiap mukmin
haruslah dapat mencintai, menghormati dan memuliakan beliau, lebih daripada menghormati dan memuliakan tokoh mana pun dalam sejarah umat manusia. Bahkan, dalam suatu hadis disebutkan, cinta kepada rasul harus melebihi cintanya anak kepada orangtuanya.

Di antara bentuk penghormatan dan pemuliaan terhadap Nabi sebagaimana dijelaskan dalam Surat al-Hujurat ayat 2 adalah tidak berbicara keras atau meninggikan suara di hadapan Nabi, baik berbicara sesama, apalagi berbicara dengan beliau sendiri. Dengan berbicara yang keras kepada Rasulullah SAW, sama halnya telah menyakiti hati beliau, sehingga kita tidak sadar telah menghapus amal ibadah kita.

يأأيها الذين أمنوا لا ترفعوا أصواتكم فوق النبي ولا تجهروا له بالقول كجهر بعضكم لبعض أن تحبط أعمالكم وأنتم لا تشعرون

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari” (QS. al-Hujurat: 2).

Baca: Tafsir Surat Al-Hujurat Ayat 6, Membudayakan Tabayyun

Asbabun nuzul Surat al-Hujurat berkaitan dengan perbedaan pendapat yang terjadi di antara sahabat nabi. Perbedaan pendapat tersebut digawangi oleh sahabat Abu Bakar dan sahabat Umar bin Khattab. Pokok permasalah berkaitan tentang siapa yang ditunjuk menjadi pemimpin Banu Tamim yang datang berkunjung ke kediaman Nabi Muhammad SAW.

Sahabat Abu Bakar berpendapat bahwa yang menjadi pemimpin adalah al-Aqra bin Habis. Sedangkan sahabat Umar bin Khattab mengusulkan al-Qa'qa' bin Ma'bad.

Melihat sahabat Umar bin Khattab, Sahabat Abu Bakar mengomentari pendapat sahabatnya tersebut dengan nada emosi, Engkau hanya mengatakan itu sekadar untuk menentangku," kata Abu Bakar. Sahabat Umar pun menjawab: “Aku tidak ingin menentangmu".

Kemudian keduanya terlibat pertengkaran mulut dengan suara keras
di hadapan Nabi SAW. Ibn Abi Malikah, sahabat yang meriwayatkan kisah ini mengomentari: hampir saja dua orang terbaik
itu celaka.

Allah SWT di dalam Surat al-Hujurat ayat 2 ini memperingatkan kepada siapapun yang menerjang larangan tersebut, akan lenyap seluruh pahala amal kebaikan yang telah dilakukan.

Melihat begitu besar sanksi bagi orang berperilaku seperti di atas, Tsabit bin Qais merasa putus asa, karena ia menyakini dirinyalah (yang terkenal bersuara keras) yang dituju oleh ayat tersebut. Akhirnya, sahabat Tsabit mengurung diri di rumah, ia merasa dirinya pasti masuk neraka dan pahala seluruh amal kebaikannya telah hilang.

Baca: Tafsir Surat Al-Hujurat Ayat 11, Larangan Memandang Rendah Orang Lain

Setelah beberapa lama tidak kelihatan salat berjama’ah di masjid, Rasulullah menanyakan kemana perginya Tsabit. Setelah mengetahui penyebab Tsabit menghilang, beliau menegaskan bukan bukan dia yang dimaksud oleh ayat tersebut.

Demikian penjelasan Surat al-Hujurat ayat 2 tentang akhlak seorang muslim saat berbicara di hadapan Rasulullah SAW. Bagi orang-orang yang sanggup berbicara dengan suara rendah di hadapan Rasulullah SAW dijanjikan pula pahala yang besar. [dutaislam.com/in]

close
Banner iklan disini