Tafsir Surat Al-Hujurat Ayat 1, Etika Murid Kepada Guru
Cari Berita

Advertisement

Tafsir Surat Al-Hujurat Ayat 1, Etika Murid Kepada Guru

Duta Islam #04
Sabtu, 07 September 2019

Penjelasan kandungan Surat al-Hujurat ayat 1 (sumber: istimewa)
Surat al-Hujurat berkaitan dengan beragam persoalan. Surat al-Hujurat ayat 1 memnjelaskan tentang etika seorang murid terhadap guru.

DutaIslam.Com - Surat al-Hujurat ayat 1 mengejarkan kepada umat Islam tentang hubungan seorang murid dengan gurunya. Bagaimana seorang murid harus berkomunikasi dengan orang yang mengajarkan ilmu kepadanya.

Surat al-Hujurat ayat 1 mencontohkan kisah Nabi Muhammad SAW dengan para sahabatnya dulu. Di dalam Surat al-Hujurat ayat 1 dijelaskan bagaimana etika para sahabat ketika sedang berkomunikasi dengan Rasulullah SAW.

Baca: Tafsir Surat Al-Hujurat Ayat 6, Membudayakan Tabayyun

Surat al-Hujurat ayat 1 menggambarkan bahwa salah satu yang menarik dalam ajaran Islam adalah penghargaan yang sangat tinggi kepada guru. Saking tingginya derajat guru, Islam menempatkan kehormatan guru setingkat di bawah kedudukan nabi.

Islam memberikan penghormatan yang tinggi kepada guru, karana ia telah mengajarkan ilmu pengetahuan. Sedangakan agama Islam sangat menghargai ilmu pengetahuan. Terbukti, orang yang berilmu pengetahuan melebihi orang yang senang ibadah.

Kedudukan guru di mata murid amatlah tinggi, sehingga keharusan murid adalah berkhidmah kepada gurunya. Pendangan ini yang membedakan dengan pandangan orang Barat tentang kedudukan guru.

Di Barat, hubungan seorang guru dan buru hanya sebatas pemantik dan penerima materi. Sedangkan di dalam Islam, guru bukan hanya sekedar penyampai materi pelajaran, akan tetapi juga sebagai penuntun sekaligus penyejuk jasmani dan rohani seorang murid.

Baca: Tafsir Surat Al-Hujurat Ayat 11, Larangan Memandang Rendah Orang Lain

Dalam kitab Ta'lim Muta'alim, Syekh Zarnuji menjelaskan bahwa seorang murid mempunyai etika terhadap gurunya. Beliau menegaskan adanya pemahaman yang mendalam terkait etika komunikasi murid kepada guru sebagaimana tersurat dalam Surat al-Hujurat ayat 1.

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تُقَدِّمُوۡا بَيۡنَ يَدَىِ اللّٰهِ وَرَسُوۡلِهٖ​وَ اتَّقُوا اللّٰهَ​ؕ اِنَّ اللّٰهَ سَمِيۡعٌ عَلِيۡمٌ‏

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui" (QS. al-Hujurat: 1).

Surat al-Hujurat ayat 1 di atas menegaskan peran Nabi Muhammad SAW bukan hanya sebagai seorang utusan. Akan tetapi beliau juga merupakan figur pendidik yang mempunyai keluasan ilmu. Rasulullah mendapatkan bimbingan langsung Allah SWT melalui wahyu yang dibawa oleh malaikat Jibril.

Surat al-Hujurat ayat 1 mengajarkan kepada para sahabat nabi agar tidak mendahului Rasulullah dalam perkataan atau perbuatan. Terlebih lagi, memotong pembicaraan di sela-sela beliau menyampaikan pesan-pesan ketuhanan.

Baca: Tafsir Surat Al-Hujurat Ayat 10, Persatuan Umat Islam

Selepas meninggalnya Nabi Muhammad, tongkat estafet sebagai figur pendidik umat adalah para ulama dan kiai. Peran ini diemban para ulama atau kiai dengan sabar dan ikhlas

Ulama atau kiai senantiasa mengajari masyarakat penuh keuletan serta keseriusan. Mereka sebagai pendidik tidak hanya bertugas mengajar atau menyampaikan materi pelajaran, namun sebagai teladan dalam kehidupan para santri. [dutaislam.com/in]

close
Banner iklan disini