Sumber Dana Gerakan HTI dan Tipu Muslihat Berjubah Syariah
Cari Berita

Advertisement

Loading...

Sumber Dana Gerakan HTI dan Tipu Muslihat Berjubah Syariah

Duta Islam #03
Minggu, 15 September 2019
Loading...

Bendera Tauhid jadi tameng gerakan makar HTI. Foto: Istimewa.
Oleh Ichsan

DutaIslam.Com - Anda tidak akan bisa mengalahkan lawan kalau tidak tahu kekuatan apa yang mereka gunakan.

Saya ingin sedikit cerita bagaimana kelompok pengasong khilafah memiliki dana yang kuat untuk setiap gerakan mereka. Tidak sedikit dari kita yang menyimpulkan adanya aliran dana sangat besar dari untuk organisasi transnasional mereka. Ya, Anda tidak salah, dan saya juga percaya adanya dana tersebut. Tapi sumber dana terbesar mereka bukan dari luar, melainkan dari dalam negeri sendiri. Dan tanpa Anda sadari, mungkin Anda pernah menyumbang dana untuk mereka dengan membeli produk yang mereka jual.

Lho, kok bisa?

Sumber dana terbesar untuk gerakan mereka ya dari anggota sendiri. Mereka yang sudah expert jualan online menyumbangkan profitnya untuk organisasi dan gerakan khilafah. Dan sumbangan terbesar yaitu dari bisnis property syariah.

Coba ketik di google dengan kata kunci/keyword berikut:

- Property Syariah
- Perumahan Syariah
- Kavling Syariah
- Kavling Produktif Syariah

Dan lain sebagainya dengan tambahan kata "syariah", akan muncul segala jenis usaha dan kegiatan dengan label “syariah”.

Bisnis property adalah bisnis inti. Semua jenis usaha pasti butuh properti. Coba bayangkan, adakah bisnis yang tidak membutuhkan property?

Dari property, mereka bisa membuka lahan baru, pemukiman baru, sekolah baru, lembaga baru, dan masjid baru. Sementara kita masih disibukkan rebutan masjid dengan Wahabi Tarbiyah yang tugasnya di bidang dakwah. Mereka banyak membuka lahan baru dan zona radikal baru.

Bayangkan, sekali proyekan perumahan atau kavlingan 1Ha saja. Mereka dapat keuntungan lebih dari 2M dalam hitungan 1-6 bulan. Dan sekali proyekan, mereka bisa bebaskan lahan hektaran. Dan dengan hasil milyaran, mereka aktif mendirikan mesjid, membuat sekolah, mendanai gerakan, mendanai cyber, dan lain sebagainya.

Dan mereka tahu sebuah pepatah: siapa yang menguasai media akan menguasai dunia. Seperti halnya google dan facebook, yang lebih mengetahui hampir semua orang dari A-Z dibanding dengan pemerintahnya sendiri yang tidak bisa mengontrol melalui teknologi.

Untuk misi khilafiah, sebenarnya mereka punya target besar di 2020, tapi harus tertunda karena jagoan yang ditungganginya kalah pilpres.

Gerakan ini adalah sayap ekonomi mereka. Salah satu tokoh endorse mereka contohnya Syekh Ali Jaber, kini sedang menggarap proyek property besar di banyak kota. Cek di sini : https://madinah-city.id/gathering/

Di sayap yang lain ada tukang mancing emosi agar para cendekiawan nahdliyin terpancing dengan isu-isu. Akhirnya nahdliyin terjebak dalam pusaran konflik seperti mesjid Ahmad bin Hambal. Atau seperti Sugik Nur yang ngoceh terus-menerus. Dan Nahdliyin akan terus dipancing isu semacam itu. Juga dengan isu-isu lainnya atau isu-isu khilafiyah agar sayap ekonomi mereka bergerak leluasa. Ini semacam jebakan, bukan? Dan lihat hasilnya, suara PKS terus mendapatkan tambahan kekuatan.

Bisnis mereka sudah sangat besar di property. Belum lago bisnis-bisnis lainnya. Salah satu web mereka dan menjadi organisasi terbesar penyumbang dana untuk gerakan khilafah: https://www.developerpropertysyariah.id/ dan https://developerpropertysyariah.net/. Dan banyak sekali websitenya yang bergabung dalam Depelover Property Syariah (DPS).

Sekarang beberapa proyek mereka bermasalah karena izin tidak selesai dan ini yang membuat mereka semakin membenci pemerintah. Kalau saya boleh bertanya, di antara kita, atau di tingkat nasional, barangkali ada yang terjun di bisnis property?

Bayangkan saja, tanah seharga 15 - 100 ribu permeter, mereka jual minimal 350 ribu per meter. Coba anda iseng ketik di google juga di penelusuran google image/gambar, ketik dan cari ini berikut ini:

- Kampung Durian
- Kampung Kurma
- Kampung Buah
- Kampung Quran

Ya, itu juga beberapa contoh proyek mereka yang kekinian dengan polesan “syariah”.

Bagaimana Cara Mereka Bergerak?
Awalnya, mereka merangkul developer konvensional melalui pengajian-pengajian dan doktrin. Lalu terjadilah simbiosis mutual. Mereka membangun organisasi aliansi bisnis sudah lebih dari 10 tahun.

Cara mereka mengeksekusi lahan sangat sederhana bahkan hanya modal secangkir kopi. Konsep mereka hampir sama seperti ini:
https://youtu.be/525-lYquBnQ. Dan ini yang cukup serem “Kampung Juragan” https://lp.managix.id/kj-neng

Hati-Hati dan Waspada
Tools-tools dan software digital marketing atau aplikasi yang mereka jual ke publik juga sangat membantu mereka untuk riset. Kita yang bayar mereka, mereka yang dapat data. Satu prinsip yang mereka patuhi adalah: Kalau jual boleh ke publik, tapi kalau beli harus dari mereka sendiri.

Mereka menguasai bisnis plus digital. Dan strategi yang mereka lakukan adalah menyerang mainstream di setiap bidang. Bisnis lainnya yang sudah merambah digitalisasi:

1. Informasi dan Teknologi (IT)
2. Pertanian
3. Kehutanan
4. Pariwisata
5. Peternakan
6. Penguasaan mesjid
7. Kesehatan
8. Travel
9. Coahcing bisnis/Training
10. Dan lainnya jika saya uraikan akan terlalu banyak daftar dan contoh bisnisnya.

Kasus Enzo di TNI seharusnya meningkatkan kewaspadaan kita dan membuat kita berbenah. Jangan-jangan sudah masuk rumah kita?

Oh ya, prinsip digital marketing mereka juga terapkan untuk konten-konten propaganda untuk mendapatkan “pelanggan” dan pengikut baru sebanyak-banyaknya. Dalam dunia digital marketing istilahnya yaitu “copywriting” (bahasa iklan). Dan hasilnya, semakin banyak masyarakat awam yang “membeli propaganda dan konspirasi mereka” dengan bangga.

Sebuah Masukan
Kalau mau menyalip mereka, kuncinya ada tiga: inovasi, kolaborasi, digitalisasi.

Seperti halnya mereka berkolaborasi dengan property konvensional, jadilah mereka property syariah. Hasilnya luar biasa. Semua hal mereka beri label syariah, dan menjudge yang lainnya bukan syariah. Halal Mart, Bekam Syariah, dan lain-lain.

Nah Kapan Anda Mau Mulai?
Seharusnya Nahdlatut Tujjar menjadi pilar yang kokoh untuk membangun kemandirian dan kekuatan organisasi melalui kekuatan finansial. Seperti halnya yang dilakukan oleh KH. Wahab Chasbulloh sebelum mendirikan Nahdlatul Ulama.

Dan sudah seharusnya prinsip wal akhdu bil jadiidil ashlah kita patuhi di samping prinsip al muhafadzotu halal qodiimis shoolih yang sudah melekat dengan kita. Jadi, saya ingin berkolaborasi dengan anda di bidang teknologi informasi dan digitalisasi ekonomi.

Jika Anda sadar pentingnya bisnis dengan teknologi informasi, hubungi saya. Sekian, terima kasih atas perhatiannya. Mohon maaf jika ada kesalahan.  [dutaislam.com/pin]

Kang Ichsan, Nahdliyin Sukabumi

Loading...