Said Nursi Menekankan Pentingnya Tasawuf Sebagai Panduan Akhlak
Cari Berita

Advertisement

Said Nursi Menekankan Pentingnya Tasawuf Sebagai Panduan Akhlak

Duta Islam #07
Minggu, 01 September 2019

cerita bediuzzaman said nursi
Cerita bediuzzaman said nursi. Foto: istimewa
Oleh: Zulkaida Akbar

DutaIslam.Com - Guru Fisika SMA saya, yang juga kerap bercerita tentang "Babad Wali" serta "Babad tanah Jawa" bercerita bahwa generasi pertama Wali Songo itu sebenarnya adalah ulama-ulama yang dikirim oleh Ottoman Turki ke tanah Jawa.

Saat itulah pertama kalinya nama Turki melekat dalam dibenak saya. Awal masuk ITB, saya diajak kawan yang merupakan alumni semesta Semarang (SMA yang dikelola yayasan Turki) untuk mengunjungi sekolah yang baru didirikan di Bandung oleh yayasan Turki itu; Namanya sekolah Pribadi.

Tak dinyana, yang dinamakan sekolah itu ternyata "hanya" satu rumah yang disewa, lalu dalamnya disekat-sekat untuk ruang kelas. Namun, yang lebih mengherankan lagi adalah 6 tahun kemudian sekolah itu telah menjelma menjadi sekolah besar, dengan gedung dan reputasi besar, serta  punya brand  "olimpiade sains".

Adik saya pernah ikut olimpiade math yang diadakan oleh sekolah pribadi, saat itu pesertanya mencapai belasan ribu. Ini asal mula kekaguman saya akan kehebatan orang-orang Turki ini dalam mengelola institusi pendidikan.

Baca: Ini Dalang Kudeta Turki yang Gagal Total

Tahun 2013, saya menjadi panitia Olimpiade Fisika Asia. Saya mendapati bahwa "team leader" dari beberapa negara pecahan Soviet seperti Kirgistan, Turkmenistan (negara-negara yang mayoritas warganya beragama Islam) adalah orang Turki. Mereka bilang kalau di negara-negara tersebut, sekolah-sekolah yang bagus biasanya sekolah nya yayasan Turki.

Bertambah kekaguman saya, tahun pertama di FSU, saya ikut pengajiannya orang Turki. Waktu itu saya kira mereka  adalah orang-orang AKP (partainya Erdogan), saat itu saya menyangka kalau Turki cuma punya dua faksi : Islamis vs Sekuler. Dan kelompok Islamis ini dimotori AKP.
Setelah lama bergaul dengan mereka, saya  jadi punya harapan besar ke Turki, seakan-seakan saya mendapati titik cerah.

Saya mendapati sosok-sosok yang pandai, sekumpulan PhD yang punya visi besar, ramah, berakhlak baik, dan yang tak kalah penting mereka itu sangat terorganisir. Saya menjadikan mereka sebagai role model.

Di kemudian hari saya baru sadar kalau kawan-kawan Turki ini rupanya orang-orang kelompok Fethullah gulen; Mantan Aliansi erdogan yang kemudian menjadi seterunya. Tokoh yang menjadi inspirasi kelompok gulen adalah Said Nursi Badruzzaman, Sosok Ulama kurdi yang sangat cerdas.

Di pengajian itu kami mengkaji "Risalah An Nur", Masterpiece nya Said Nursi.
Said Nursi yang hidup di masa akhir kekhalifahan Utsmani sangat concern dengan pendidikan. Beliau berpendapat bahwa salah satu prasyarat kemajuan adalah penguasaan sains modern. Diantara perkataan beliau adalah:
"Cahaya hati adalah ilmu agama, cahaya akal adalah sains modern. Dengan menggabungkan keduanya maka akan sampai kepada hakikat."

Cerita Bediuzzaman Said Nursi


Said Nursi tumbuh di lingkungan sufisme, terutama dari Thariqat Naqsabandiyah (juga merupakan salah satu tariqat terbesar di Indonesia).
Oleh karena itu, Said Nursi juga menekankan pentingnya tasawuf sebagai panduan akhlak (moral guidence). Integrasi dari Ilmu agama, khazanah tasawuf serta sains modern merupakan pokok pemikiran Said Nursi tentang fondasi pendidikan.

Ketiga hal inilah yang akan mengobati penyakit umat yang menjadikan umat ibarat buih di lautan; yakni penyakit Wahn : Cinta dunia dan takut mati. Gagasan Said Nursi menjadi ruh dibalik tersebarnya ribuan sekolah Turki yang menjamur hingga Indonesia, Kazakstan, Turkmenistan, Kirgistan dan sebagainya. Gagasan Said Nursi juga lah yang menjadi urat nadi perlawanan terhadap sekulerisme turki. Lebih dari 20 tahun Said Nursi diasingkan oleh rezim Kemal Attaturk.

Saya senang kudeta berhasil digagalkan. Saya sangat menyayangkan perseteruan AKP dan kelompok Gulen. Saya tidak akan berkomentar tentang perseteruan mereka, hanya doa yang bisa saya panjatkan agar mereka akur kembali.

Gerakan kelompok Gulen ini mirip dengan gerakan NU dan Muhamadiyah di Indonesia. Tak terhitung banyaknya madrasah, sekolah, rumah sakit, panti asuhan, lembaga zakat yang telah mereka bangun.

NU sering dilabeli sebagai kelompok "tradisional", namun saya tahu persis mereka punya banyak intelektual muda yang mumpuni. Beberapa tahun terakhir, Agus Purwanto, dosen ITS yang merupakan alumni Jepang gencar menyerukan integrasi sains ke pesantren. Senada dengan Said Nursi.

Baca: Mursi, Erdogan dan Spekulasi Kudeta HTI

Beliau mendirikan sekolah trenSains. Semoga Allah memudahkan perjuangan beliau.
Pelan tapi pasti, Sekolah-sekolah Muhamadiyah juga makin menjamur dan meningkat kualitasnya, diilhami semangat surat Al Ma'un. NU dan Muhamadiyah bagi saya adalah salah satu anugrah terbesar bagi Bangsa Indonesia. Semoga mereka berdua selalu akur dan dijaga Allah. [dutaislam/ka]

close
Banner iklan disini