Ragam Etnis dan Latar Belakang Banser Kalbar
Cari Berita

Advertisement

Loading...

Ragam Etnis dan Latar Belakang Banser Kalbar

Duta Islam #02
Minggu, 15 September 2019
Loading...

Salah satu kegiatan jenjang kaderisasi anggota Banser di Kalimantan Barat. (Foto: istimewa)
DutaIslam.Com - Para komandan dan pelatih senior Banser sangat militan. Mereka dengan dedikasi sangat tinggi juga sudah berkeliling melatih dan menelorkan kader banser di seluruh penjuru Kalbar yang sekarang jumlahnya sudah mencapai 5000 orang anggota.

Di antara Komandan tangguh tersebut adalah Komandan Hamka Surkati, SE, Panglima Melayu Sekaligus Ketua PC GP ANSOR Sanggau juga sekaligus pelatih senior di jajaran Satkorwil Kalbar. Pria Kelahiran Mempawah ini juga pernah tiga periode menjabat sebagai Komisioner KPU Sanggau.

Adapula Komandan Herman Wijaya, Panglima Melayu Asal Kuala Behe Mandor yang sangat dihormati dan menjabat sebagai asisten Infokom Satkorwil Banser Kalbar, Di Kabupaten Landak sendiri Bang Herman, begitu panggilan akrabnya adalah salah satu pelopor lahirnya Banser di Kota Intan dan penggerak utama Banser di tempat tinggalnya.

Selain kegiatan kaderisasi, ia juga aktif memimpin pengajian rutin dan kegiatan pemberdayaan ekonomi anggota dan warga masyarakat. Perjuangannya yang tidak mengenal lelah telah mengantarkan Herman menjejaki setiap tanah di Borneo ini.

Selanjutnya Komandan Bujang Irwan, sehari hari bekerja di Kantor KPU Kabupaten Sekadau. Panglima Melayu dari Tanah Mualang Belitang Hulu ini sangat terkenal dan dipatuhi anggota karena dedikasi yang luar biasa dalam hal pengkaderan dan melatih anggota. Ia adalah pelatih Profesional Banser bersertifikat yang sudah lulus berbagai jenjang pendidikan di Banser.

Tak kalah militan dan terlatih adalah Komandan Iwan dari Sosok Tayan Hulu, murid langsung dari ulama besar berdarah Melayu Ustadz Zulkarnain ini selalu aktif di garda terdepan dalam setiap kegiatan dan khidmah ke-Banseran dan ke-NU-an. Dengan niat yang tulus karena ketaatannya kepada gurunya ia hampir tidak pernah alpa dalam setiap moment kegiatan dan pengabdian di Banser dan NU. Dia sangat dihormati karena ketulusan dan kerja kerasnya yang seolah tidak mengenal lelah.

Komandan Bambang adalah sahabat dekat dan bertetangga dengan Wakasatkorwil Banser Kalbar, dua tokoh pemuda milenial asal Kembayan ini adalah tokoh kunci massifnya pengkaderan Banser yang seolah tak kenal berhenti, setiap saat. Dua orang tokoh pemuda legendaris ini selalu berkeliling Borneo untuk memastikan semua proses pengkaderan sukses rapi dan disiplin, agar hasil pendidikan sejalan dengan harapan dan ketentuan organisasi. Bahkan yang bersangkutan sudah lulus jenjang pendidikan kader tertinggi di Banser yaitu kursus Banser pimpinan di Batam yang dilatih khusus oleh para senior dan tokoh tokoh nasional baik sipil, TNI maupun Polri.

Di luar itu masih banyak yang lain seperti Komandan Aang Tato, tokoh adat yang juga dikenal sebagai panglima ini sangat familiar di semua kalangan di tempat tinggalnya, masih ada lagi Cel Heri tokoh pemuda sekaligus anggota BPD ini juga aktif sebagai ketua Panwascam pada masanya. Sebagai kepala rumah tangga Banser Kalbar apapun petunjuk nya selalu ditunggu oleh anggota dan jajaran pengurus.

Di luar nama nama itu masih banyak kader hebat berdarah Borneo yang sangat luar biasa dan menjadi rujukan. Hal ini diungkapkan Kasatkorwil Banser Kalimantan Barat, Tohidin. Dia mengatakan, bahwa NU tidak memandang latar belakang seseorang.

"Kita di keluarga besar NU dan semua badan otonomnya, masalah nasionalisme sudah selesai, di NU dan semua keluarga besarnya siapapun dengan latar belakang apapun bisa jadi apapun," ujarnya, Sabtu (14/09/2019).

Oleh karena itu, lanjutnya, di Ansor dan Banser kepengurusan dan anggotanya terdiri dari beragam latar belakang suku, bangsa dan etnis. Banyak sekali perwira dan kader senior yang berasal dari suku Melayu, Senganan, Jawa, Madura, Bugis, Makasar, Sunda, Batak dan Dayak yang muslim.

"Jadi tidak benar jika ada yang mengatakan NU dan banomnya didominasi oleh etnis tertentu, itu hanyalah opini sepihak yang tidak sesuai kenyataan," ungkapnya.

Di sisi lain, Yogi yang merupakan Wakasatkorwil Banser Kalbar menceritakan dirinya berasal suku Melayu. Meski demikian ia tetap menjaga nilai persatuan dan kesatuan.

"Saya asli Melayu dan saya bersama Komandan Zarkasih yang merupakan Komandan Banser Kota Pontianak sudah lulus jenjang pendidikan tertinggi di Banser. Kami di banser NU ini sudah seperti keluarga yang saling mengisi dan akan saling membantu kapanpun dibutuhkan, karenanya kami tidak pernah bicara atau mempersoalkan latar belakang etnis. Bahkan banyak juga kok Banser yang latar belakangnya etnis Dayak yang muslim. Begitu juga etnis lain seperti Jawa, Madura dan lain, kami sudah menyatu seperti satu tubuh yang saling menguatkan," jelasnya.

Kemudian Robiansyah Wakasatkorcab Landak, Andi Irsan Komando Ansor Banser Sintang, bahkan Ketua Ansor Melawi yang juga Wakil Bupati Melawi adalah sebagian kecil tokoh penting di Ansor yang tembuninya tertanam di bumi tempat lahirnya peradaban pertama di nusantara yang sebentar lagi akan jadi bagian dari tempat ibu kota negara yang baru.

"Saya ini blasteran ibu saya Melayu asli Belitang, bapak saya Dayak Balai Sepuak, dan saya sudah lama memimpin sebagai Komandan Banser Kabupaten Sekadau, saya juga kepala satuan provost Banser Kalbar, saya sudah lulus jenjang pendidikan seperti perwira menengah, lulus pendidikan khusus dan aktif keliling Kalbar, bahkan keluar Kalbar," pungkas Rahman Syahril, Komandan Banser Sekadau.

Selain itu juga, Di Sekadau, Sanggau, Sintang, Kapuas Hulu, Landak, Ketapang, dan kabupaten/kota lain banyak anggota Banser yang berasal dari berbagai suku dan bahkan banyak juga yang asli Dayak muslim, akan tetapi nilai persatuan dan kesatuan tetap selalu terjaga demi kedamaian hidup beragama bernegara yang di dalamnya ada berbagai budaya. [dutaislam.com/sidiq/gg]

Loading...