Orang Mukmin Yang Keluar Dari Kegelapan Menuju Cahaya Ilahi
Cari Berita

Advertisement

Loading...

Orang Mukmin Yang Keluar Dari Kegelapan Menuju Cahaya Ilahi

Duta Islam #07
Kamis, 05 September 2019
Loading...

gus mus baru
Gus mus menuju cahaya ilahi. Foto: istimewa
Oleh: KH. A. Mustofa Bisri

DutaIslam.Com - Cahaya Ilahi ibarat ceruk di dinding yang di dalamnya ada pelita besar yang benderang, pelita itu berada dalam kaca yang cemerlangnya bagaikan bintang gemerlap. Pelita itu dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, pohon zaitun yang senantiasa mendapat sinar matahari sejak terbit dari timur hingga tenggelam di barat. Minyaknya saja nyaris menyinari sekalipun tak tersentuh api. Cahaya di atas cahaya. Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa saja yang Ia kehendaki (QS. 24: 35).

Tamsil yang dibuat oleh Sang Pemilik Cahaya itu sungguh luar biasa. Bayangkan. Pelita benderang di dalam kaca cemerlang dengan minyak yang berkilauan berada di ceruk dinding. Dalam ceruk, pastilah cahaya benderang pelita dalam kaca cemerlang dengan minyak berkilauan itu terfokus. Hamba yang dikehendaki-Nya, pastilah sangat mudah mendapatkan cahaya di atas cahaya itu.

Baca: Di Mesir, Gus Mus Cari Teman, Quraish Shihab Cari Ilmu. Tapi Keduanya Belajar

Pertanyaannya: Siapakah kira-kira hamba Allah yang Ia kehendaki mendapat bimbingan ke arah cahaya-Nya itu? Tentu kita tidak tahu persis. Namun setidaknya kita dapat menduga dengan mencermati firman-firman-Nya. Kita pun bisa membatasi wilayah pencarian kita terhadap hamba yang Ia kehendaki itu, misalnya, dalam kalangan hamba-hamba-Nya yang ia senangi.

Menilik firman-Nya di Surat Al-Baqarah (Q.2: 257), orang-orang mukminlah yang Ia keluarkan dari kegelapan-kegelapan menuju ke cahaya-Nya. Lawannya adalah Thaghut, setan, yang menarik dari kebenderangan cahaya menuju ke pekat gelap.

Sementara orang mukmin yang dicintai Allah ialah orang mukmin sejati. Hamba mukmin yang sabar, yang adil, yang pemaaf, yang suka mensucikan diri, yang tawakkal, yang berbuat baik, yang tahu berterimakasih, yang tidak berlebih-lebihan, yang tidak sombong, yang tidak zalim, yang tidak membuat kerusakan di muka bumi, yang tidak khianat, yang tidak suka membanggakan diri, dan seterusnya. Pendek kata hamba yang takwa kepada-Nya.

Gus Mus Baru


Dan takwa itulah yang diharapkan dari puasa kita. (Baca Q.2: 183). Apabila dalam puasa ini, kita melaksanakannya dengan ikhlas, hanya mengharapkan dengan keyakinan penuh mendapatkan ridha Allah, menjaga hati pikiran dan indera kita agar tidak melanggar angger-angger-Nya insya Allah kita akan dimudahkanNya menjadi hamba yang bertakwa.

Apalagi bila kita dapat menghayati pendidikan puasa ini dan dapat memperoleh darinya kekuatan menahan diri, menutup jalan setan yang berupa syahwat dan amarah menuju diri kita, dengan izin Allah kita akan terjaga oleh Maha cahaya-Nya dari tarikan setan yang ingin menjerumuskan kita ke dalam kegelapan yang berlapis-lapis.

Baca: Gus Mus: Ciri “Wali” Tidak Takut dan Tidak Susah

Al-Quran, sebagai firman Allah yang turun di malam Qadar di bulan Ramadan, tak pelak merupakan Maha cahaya yang benderangnya melebihi seribu purnama. Wahai siapakah yang berbahagia tercerahi olehnya. [dutaislam/ka]

close
Banner iklan disini