Metafora Imam Al Ghazali: Asyiknya Close Reading Bersama Gus Ulil
Cari Berita

Advertisement

Metafora Imam Al Ghazali: Asyiknya Close Reading Bersama Gus Ulil

Duta Islam #07
Senin, 16 September 2019

imam al-ghazali mukhtasar ihya ulum ad-din
Penjelasan imam al-ghazali mukhtasar ihya ulum ad-din. Foto: istimewa
Oleh: Hernowo Hasim

DutaIslam.Com - Metafora adalah pemakaian kata atau kelompok kata bukan dengan arti yang sebenarnya, melainkan sebagai lukisan yang berdasarkan persamaan atau perbandingan.

Salah satu metafora yang digunakan oleh Imam Al-Ghazali adalah cermin. Kalbu yang diterjemahkan oleh Gus Ulil sebagai intelek dimetaforakan oleh Imam Al-Ghazali sebagai cermin. Ketika kalbu berupaya untuk memperkaya pengetahuan (yang bersumber kepada Tuhan), Imam Al-Ghazali menunjukkan cara bekerjanya cermin ketika merefleksikan obyek-obyek yang ada di sekitarnya.

Cara kalbu menangkap pengetahuan adalah bagaikan cermin yang mencerminkan (merefleksikan) obyek-obyek yang ditangkapnya. Apabila cermin itu kotor, kalbu pun akan tidak sempurna dalam menangkap atau menyerap pengetahuan.

Baca: Tentang Imam Mawardi dan Pentingnya Literasi Publik

Kalbu menjadi kotor akibat banyak melakukan dosa. Dosa yang sedikit akan menimbulkan bercak (noda) di cermin (kalbu) tersebut. Apabila si pemilik kalbu terbiasa melakukan dosa (maksiat) hingga bertumpu-tumpuk, bercak itu akan membesar dan menggelapi kalbu.

Menurut Gus Ulil, metafora Imam Al-Ghazali itu merupakan sebuah strategi menulis yang brilian. Strategi dalam bentuk metafora tersebut menjadikan hal-hal yang semula abstrak dan rumit menjadi lebih konkret (terjangkau) dan sederhana.

Imam Al-Ghazali menguasai ilmu tasawuf dan juga filsafat. Dalam pengajian yang ke-14, yang membahas halaman 889 kitab Ihya’, Gus Ulil sempat mengisahkan tentang salah satu guru Imam Al-Ghazali yang mengajar di Madrasah Nizhamiyah. Guru Imam Al-Ghazali itu bernama Imam Haramain Al-Juwaini.

Menurut Wikipedia, Imam Al-Haramain yang lahir di Khurasan, Nisyapur adalah seorang ulama fikih, ahli ushul fikih, ilmuwan, agamawan, pemuka masyarakat, dan teolog Muslim yang sering membahas persoalan-persoalan teologis secara mendalam. Imam Al-Haramain meninggalkan Nisyapur sekitar tahun 443-447 H. Dia kemudian pergi ke Mu'askar, Baghdad, Isfahan, Makkah dan Madinah. Di Baghdad dia belajar kepada Abu Muhamamd Al-Jauhari, disamping banyak menelaah buku karya Al-Baqillani tentang teologi.

Imam Al-Ghazali Mukhtasar Ihya Ulum Ad-din


Di Isfahan, dia belajar kepada Abu Nu'aim Al-Isfahani, penulis kitab terkenal, Hilyatul Auliya' (biografi para sufi). Pada tahun 450 H/1058 M, dia pergi ke Hijaz dan menetap di Makkah dan Madinah selama kurang lebih 4-5 tahun. Pada tahun 455 H/1063 M, dia memutuskan untuk kembali lagi ke Nisyapur. Sesampainya di Nisyapur, dia pun diangkat menjadi tenaga pengajar di Madrasah An-Nizhamiyah hingga akhir hayatnya.

Ketika sampai pada pembahasan tentang kalbu yang tidak mampu menerima atau menyerap pengetahuan karena taklid (mengikuti pendapat orang lain tanpa mengetahui sumber atau alasannya), Gus Ulil menunjukkan satu hal yang menarik. Apa yang menarik itu? Yang menarik adalah tentang otokritik yang dilakukan Imam Al-Ghazali semasa muda.

Jadi, di halaman kitab Ihya’ yang dibaca Gus Ulil, Imam Al-Ghazali menunjukkan kekeliruannya yang dilakukan semasa masih muda dan ketika belajar kepada Imam Al-Haramain. Taklid itu dialami oleh Imam Al-Ghazali akibat fanatisme (perilaku yang menunjukkan ketertarikan terhadap sesuatu secara berlebihan)-nya kepada salah satu mazhab. Inilah yang membuat kalbu Imam Al-Ghazali kotor (gelap) dan tidak mampu secara jernih (bersih) menyerap pengetahuan.

Baca: 4 Golongan Manusia Menurut Imam Al-Ghazali, Kamu Termasuk yang Mana?

Dalam Al-Qur'an terkandung makna yang berbunyi: (QS Al-Isra’ [17]: 36)
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak ada bagimu pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya, pendengaran, pengilhatan, dan hati, semua itu pasti akan dimintai pertanggungjawabannya.” [dutaislam/ka]

close
Banner iklan disini