Logika Menceng Ustadz Mualaf Steven Indra Soal Larangan Membunuh Orang di Gereja
Cari Berita

Advertisement

Logika Menceng Ustadz Mualaf Steven Indra Soal Larangan Membunuh Orang di Gereja

Duta Islam #03
Minggu, 01 September 2019

Ustadz Mualaf Steven Indra Wibowo. Foto: Istimewa.
DutaIslam.Com - Dalam salah satu ceramahnya, Ustadz Mualaf Steven Indra Prabowo menyerang Banser NU. Dia menyebut bahwa tindakan Banser menjaga gereja hanya demi uang dan dengan itupun Banser rela mati konyol.

Dari sudut pandang keagamaan, Ustadz Steven menganggap bahwa tindakan Banser menjaga gereja dianggap sebagai bagian dari kesalahan dalam memahami agama. Menurut ustadz, Banser hanya mengambil sepenggal dari ajaran Islam tentang bagaimana melindungi pemeluk agama lain. Ustadz menggunakan fiqih perang untuk menilai Banser.

Berikut kutipan ceramah Ustadz Steven:

"Dari sisi umat muslim, memang ada aturan dari Rosulullah dulu. Dulu, ya, pada saat berperang, jangan bunuh pemuka agama mereka, jangan bakar rumah ibadah mereka, pertahankan dan selamatkanlah jangan cabut pohon, jangan tebang pohon, jangan bunuh pohon kurma, jangan ganggu ibuk-ibuk, jangan balik menyerang perempuan yang tidak melawan balik, jangan bunuh orang tua, jangan  renggut bayi yang masih menyusui dari ibunya." 

"Ini aturan-aturan perang ada. Cuma kalau dikutipnya hanya sepenggal, sedikit saja, "jagalah rumah ibadah mereka", itunya aja yang diambil. Nggak diambil secara keseluruhan, jadi bener apa nggak? Kalau mereka bilang ini dari Rasulullah, bener nggak ini dari rasulullah? ya bener, ini memang ada di kitab fiqih perang. Cuma itunya aja yang diambil, dijadikan dasar untuk ngejagain gereja."

Komentar Ustadz Steven terekam dalam video saat dirinya mengisi ceramah di SMK Muhamamdiyah, Mungkid, Magelang, 2017. Saat itu Ustadz Steven menjawab pertanyaan soal Banser yang sering ikut serta menjaga gereja. Ceramah tersebut kembali beredar di media sosial dan digunakan untuk menyudutkan Banser.

Setelah pernyataan di atas, Ustadz Steven tidak menjelaskan lebih lanjut pendapatnya. Namun dari pernyataan itu, ustadz Steven seolah ingin mengatakan dua kemungkinan: Pertama, larangan membunuh orang di gereja hanya berlaku pada saat perang sehingga saat ini dianggap tidak kontekstual. Kedua, karena saat ini tidak terjadi perang maka Banser tidak perlu menjaga gereja. Dua kemungkinan ini diketahui dari pernyataan bahwa Banser hanya mengambil ajaran Islam  secara sepenggal-sepenggal.

Dalam sejarah, harus diakui memang Islam di masa Rasulullah tidak lepas dari peperangan. Hanya yang perlu kita garis bawahi bahwa perang yang dilakukan Rasulullah bersama para sahabat hanya untuk pertahanan. Secara mandiri tanpa sebab, Islam tidak pernah menganjurkan ajaran untuk berperang. Andai saja orang-orang kafir Qurasy pada waktu itu tidak mengajak untuk perang, niscaya tidak akan ada peperangan antara Rasulullah dan kafir Quraisy.

Mengingat perang terpaksa harus dilakukan itu, Rasulullah kemudian memberikan sejumlah peraturan yang harus diperhatikan para sahabatnya. Rosulullah meminta para sahabat agar tidak merusak rumah ibadah, fasilitas publik, perumahan atau hunian warga, dan lingkungan hidup. Rasulullah juga melarang membunuh para pemuka agama (rijal ad-din), anak kecil, orang tua, perempuan dan pekerja.

Nabi Saw selalu mewanti-wanti kepada sahabatnya supaya memperhatikan peraturan perang dalam Islam yang membedakannya dengan perang-perang lain yang pernah dilakukan umat manusia dalam lintasan sejarah.

Nabi Saw berpesan:

لَا تَقْتُلُوا الْوِلْدَانَ، وَلَا أَصْحَابَ الصَّوَامِعِ

“Janganlah kalian membunuh anak-anak dan orang-orang yang berada di gereja.” (HR. Al-Baihaqi, 2834).

Dari sini dapat kita pahami bahwa Islam sejatinya menginkan kedamaian. Jika pun sampai terjadi perang, maka Islam melarang untuk melakukan hal-hal yang telah disebutkan di atas.

Langkah Banser untuk menjaga gereja adalah bagian dari semangat menjaga kedamaian dan memberikan rasa aman bagi orang lain meskipun bukan umat Islam. Yang dilakukan Banser sesuai dengan semangat agama Islam yang diajarkan nabi Muhammad.

Namun kontras dengan pemahaman tersebut, sebagian kelompok muslim sampai sekarang masih terus menerus menganggap non muslim sebagai musuh. Sejumlah kasus bom yang meledak di gereja menjadi bukti adanya ancaman bagi pemeluk agama lain di Indonesia karena lemahnya pemahaman agama.

Langkah Banser pun tidak lepas dari sejumlah kasus yang mengganggu kenyamanan umat Nasrani itu. Jika disesuaikan dengan kontek pada zaman nabi, maka langkah Banser justru semakin selaras. Logika yang semestinya ditarik adalah jika pada saat perang saja, umat Islam dilarang membunuh para pemuka agama, maka apalagi saat tidak terjadi perang. Tentu saja sangat dilarang keras. Sampai-sampai Allah dalam Surat Al-Maidah ayat 32 menegaskan bahwa barang siapa yang membunuh orang lain sama halnya dengan membunuh manusia seluruhnya.

Berikut terjemahan Firman Allah tersebut.

“Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu. sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi”. (QS. al-Maa’idah : 32)

Namun Ustadz Steven menilainya justru tidak demikian. Dengan menggunakan dalil yang katanya dalam fiqih perang itu, Ustadz Steven seolah ingin mengatakan bahwa ajaran untuk tidak membunuh pemuka agama hanya berlaku pada saat perang. Jika tidak terjadi perang maka tidak berlaku lagi. Karena itu dia sampai pada kesipulan negatif terhadap tindakan Banser yang menjaga gereja.

Kesimpulan demikian tentu saja bermasalah karena akan berakibat pada bolehnya membunuh para pemuka agama dan larangan-larangan Rasulullah seperti yang telah disebutkan di atas. Ini jelas menceng dari akal sehat dan keluar dari semangat Islam sebagai rahmat bagi semesta alam.

Ustadz Steven terlihat tidak memahami bagaimana Islam harus memberikan rasa aman kepada orang lain bahkan pemeluk agama lain. Ustadz Steven juga seperti menutup mata bahwa banyak kasus bom yang mengicar gereja saat umat nasrani melakukan ibadah. Pada kesempatan yang sama, Ustadz Steven secara tersirat mengatakan bahwa teror bom digereja hanya dilakukan oleh orang yang iseng.

Karena Ustadz Steven tidak menggunakan logia yang lurus, Banser yang menjaga gereja pun dinilai salah hingga dia juga menyebut Baser menjaga gereja demi uang Rp 50 juta. Masih tak percaya? tonton saja videonya. [dutaislam.com/pin]


close
Banner iklan disini