Kontradiktif Al-Bani dalam Memberi Penilaian Dhoif dan Shohih Suatu Hadist
Cari Berita

Advertisement

Kontradiktif Al-Bani dalam Memberi Penilaian Dhoif dan Shohih Suatu Hadist

Duta Islam #07
Jumat, 20 September 2019

hadits dhaif dan hadits shahih
Penjelasan kontadiktf hadist al bani. Foto; istimewa
DutaIslam.Com - Tulisan ini bukan untuk melecehkan atau menghina Al-Bani sebab kami tahu setiap manusia pasti bisa salah dan lupa, tidak ada manusia yang ma'sum kecuali para Nabi, namun kami kutipkan ini agar saudara-saudara kita yang beraliran Wahabi bisa sedikit berpikir jernih dan tidak fanatik dan taqlid hanya terhadap penilaian Al-Bani semata sehingga menolak penilaian Ahli hadis lain yang mu'tabar.

Berikut episode pertama contoh hadits yang bertentangan dalam penilaian Al-Bani. Hadits riwayat At-Tirmidzi, Al-Hakim dan Abu Nuaim dari Ibnu Umar....

"ما كان الله لا يجمع هذه الأمة على ضلالة أبداً، وإن يد الله مع الجماعة هكذا، فعليكم السواد الأعظم، فإن من شذ في النار"

Artinya:
Sesungguhnya Allah tidak menghimpun ummat ini diatas kesesatan selamanya. Dan tangan Allah bersama al jama’ah. maka hendakllah kalian bersama sawudul a'dzam(kelompok muslimin terbanyak) dan barangsiapa yang menyimpang, maka ia menyimpang ke neraka

Al-Bani dalam kitabnya Zhilal Al-Jannah mengatakan sanad hadits ini dhaif. Namun dalam kitabnya yang lain yaitu kitab Silsilah Al-Hadits Ash-Sahihah Al-Bani mengatakan sahih.
Ini salah satu bukti dan fakta banyaknya pertentangan dalam penilaian derajat hadits yang di lakukan oleh Al-Bani.

Baca: Salafi Wahabi Menyerah Dialog dengan Aswaja Perihal Cium Tangan Kiai

Berikut ini contoh lain penilaian Al-Bani pada suatu hadits, yang bertentangan penilaiannya di dalam 3 kitab yang berbeda karyanya sendiri.

حديث عليّ رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : إن الله وتر يحب الوتر فأوتِرُوا يا أهل القرآن . رواه الترمذي وأبو داود و والنسائي.

Artinya:
Hadits Sayyidina Ali Bin Abi Thalib. Nabi shallallhu ‘alaihi wasallam bersabda:
Sesungguhnya Allah itu ganjil, mencintai yang ganjil (witir), maka shalat witirlah kalian hai Ahli Qur'an. (HR. At-hirmidzi, Abu Daud dan Nasa'i )

Dalam kitab Al-Misykah karya Al-Bani mengatakan ; perawi hadits ini tsiqah kecuali Abu Ishaq (As-Suba'i) yang mengalami perubahan. Dalam kitab karya Al-Bani yang lain yaitu kitab shahih Ibnu Majah, Al-Bani mengatakan hadits shahih. Dalam kitab karya Al-Bani yang lainnya lagi yaitu kitab Shahih Al Jami, Al-Bani mengatakan hadits hasan.

Pada bagian ke tiga ini kami akan membawakan salah satu contoh dari ratusan bahkan ada pendapat yang mengatakan ribuan, penilaian derajat suatu hadits yang mengalami pertentangan demi pertentangan pada kitab-kitab Al-Bani.

عن سلمان الفارسي رضي الله عنه ، : سُئِلَ رَسُولُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّم عَنِ السَّمنِ وَالجبنِ والفِراءِ فَقَالَ : الحَلالُ مَا أَحَلَّ اللهُ فِي كِتَابِهِ ، وَالحَرَامُ مَا حَرَّمَ اللهُ فِي كِتَابِه ، وَمَا سَكَتَ عَنهُ فَهوَ مِمَّا عَفَا عَنهُ . أخرجه الترمذي وابن ماجه

Artinya:
Dari Salman Al Farisi RA, Rasulullah SAW ditanya tentang lemak, keju dan keledai liar, maka beliau bersabda; yang halal apa yang telah di halalkan oleh Allah dalam kitab-Nya, dan yang haram adalah apa yang telah di haramkan Allah dalam kitab-Nya dan apa-apa yang di diamkan-Nya, maka itu dimaafkan bagi kalian .(HR. At Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Al-Bani menilai hadits ini hasan dalam kitabnya Shahih Sunan At-Tirmidzi. Namun dalam kitab yang lain yaitu kitab Ghayat Al-Maram, Al-Bani mengatakan hadits dhaif.

Hadits Dhaif dan Hadits Shahih


حديث مالك بن الحويرث قال : سمعت رسول الله صلي الله عليه وسلم يقول : من زار قوما فلا يؤمهم، وليؤمهم رجل منهم .

Artinya:
Hadits Malik bin Al-Huwairits yang mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda; 
Barang siapa mendatangi suatu kaum, maka janganlah ia mengimami (menjadi imam bagi kaum tersebut), dan hendaklah yang menjadi imam adalah seorang laki-laki di antara mereka sendiri.(HR. Abu Daud, At-Tirmidzi dan Nasa'i)

Albani dalam kitabnya Shahih Al-Jami' mengatakan hadits ini sahih. Namun dalam kitab yang lain yaitu kitab Al-Misykah Al-Bani mengatakan hadits ini cacat sebab ada perawi yaitu Abu Athiyah yang majhul (misterius).


حديث أبو هريرة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : إذا أفضى أحدكم بيده إلى ذكره ليس بينه بينهما شيء فليتوضأ .

Artinya:
Hadits dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: Jika salah seorang di antara kalian menyentuh kemaluanya dengan tanganya sedangkan tidak ada penghalang di antara keduanya, maka hendaklah ia berwudhu'.

Al-Bani mensahihkan hadits ini di dalam silsilah Al-Hadits Ash-Sahihah. Namun di dalam Al-Misykah Al-Bani mengatakan hadits tersebut dhaif sebab terdapat seorang perawi yaitu Yazid bin Abdul Malik seorang yang dhaif. Dan anehnya Al-Bani juga mensahihkan hadits tersebut di dalam Shahihul Jami’.

عن عبد الله بن عكيم قال أتانا كتاب النبي صلى الله عليه وسلم ، أن لا تنتفعوا من الميتة بإهاب ولا عصب.

Artinya:
Hadits dari Abdullah bin Ukaim, beliau berkata; " Kami menerima surat dari Nabi SAW yang isinya; janganlah kalian memanfaatkan kulit dan urat dari hewan yang telah menjadi bangkai". [HR. Imam Abu Daud, An-Nasa'i, At-Tirmidzi, Ibnu Majah]

Dalam Irwa Al-Ghalil, Al-Bani menilai hadits ini sahih. Namun dalam Al-Misykah, Al-Bani memberi kesimpulan tentang hadits ini bahwa hadits ini simpang-siur (mudhtharib) pada matan dan sanad-nya.

Baca: Tafsir Surat an-Nur ayat 55, Benarkah Allah Menjanjikan Kembalinya Khilafah?

Ini baru sebagian contoh kecil pertentangan demi pertentangan yang terjadi dalam penilaian derajat suatu hadits yang dilakukan oleh Al-Bani dan masih sangat banyak lagi bahkan jumlahnya ratusan dan juga ada pendapat yang mengatakan ribuan pertentangan yang dialami oleh Al-Bani.
Semoga hal ini membuka wawasan ikhwan salafiyin (wahabi) agar tidak fanatik dan taqlid hanya terhadap penilaian Al-Bani semata sehingga menolak penilaian ahli hadits yang mu'tabar. [dutaislm/ka]

close
Banner iklan disini