KH. Hasyim Muzadi: Konsep HTI Meniadakan Sekat dan Teritorial
Cari Berita

Advertisement

KH. Hasyim Muzadi: Konsep HTI Meniadakan Sekat dan Teritorial

Duta Islam #07
Senin, 16 September 2019

hti tolak pancasila
Penjelasan kh. hasyim muzadi
DutaIslam.Com - Setelah HTI digenjot oleh berbagai kalangan maka sikap wajah gandanya keluar. Mulailah menebar pesan rahmat, "sesama Muslim jangan begitu; sesama Muslim jangan saling mencari kesalahan dan menjelekkan. Bukankah mereka juga Muslim". Bukankah wajah dua termasuk bagian dari sifat munafik?

Gaya beragama begitu itu kayak orang muallaf saja. Lah, kemarin-kemarin mengkufurkan sudah lupa yah. Menjelek-jelekan pemerintah sudah lupa yah?. Kalau lupa, ayuk menolak lupa. Biar gak lupa, minum susu anti lupa.

Baca: Halusinasi HTI dalam Ketidakbakuan Sistem Khilafah Menganut Demokrasi

Jadi, HTI dalam perspektif KH. Hasyim Muzadi itu masuk ke konsep "sosio-politik", tidak "cultural" apalagi "sosio-cultural". Konsep "sosio-politik" ala HTI itu jelas meniadakan sekat dan teritorial. Emangnya negara ini kayak tanah yang tidak ada batasnya. Seenaknya ingin menghilangkan sekat. Hilang semeter aja bisa berkelahi, apalagi menghilangkan se negera dan disatukan dengan negara lain. Disinilah letak perbedaan NU dan HTI. Tokoh-tokoh NU itu masuk ke wilayah "sosio-cultural", mengembangkan teks-teks suci dengan pemahaman yang menunjang dan menguntungkan semua kalangan.

Dalam kasus ini, HTI sama kayak Wahabi. Wahabi usai digenjot, mulai memunculkan istilah "ustadz sunnah", emangnya ada "ustadz bid'ah", "ustadz mutawatir", "ustadz ahad" dan lain-lain. Dia lupa bahwa wajah-wajah "ustadz sunnah" itu tidak ada dijaman Nabi, kalau tidak ada, itu sesat dan "dhalalah". Kalau HTI mulai membentuk opini, "jangan kriminalisasi ulama", "jangan nodai Islam", "jangan menjelek-jelekan sesama Muslim".

HTI Tolak Pancasila


Di satu sisi pun, pemerintah melalui undangan salah satu menterinya yang kemasukan angin. HTI masih dipersoalkan, eh dia mengundang ustadz HTI. Apakah menteri itu tidak tau, salah sata asbab orang-orang mau demoin KH. Said itu berkah pesannya. Dan yang bilang tokoh-tokoh NU terindikasi liberal, sedangkan yang masih lurus seperti Idrus Romli yang pernah "menjelekkan" KH. Hasyim Muzadi. Apakah negara kekurangan stok ustadz atau kiai yang lebih berbobot darinya?

Baca: Mantan HTI Minta Sahabatnya yang Masih di HTI Sadar dan Kembali ke Pangkuan NKRI

Jangan lupa sebelum makan ucapkan Basmallah yah, bukan "Basalamah". Salah ucap salah makna. Salah ucap bisa gagal paham nanti. Kayak HTI: Gagal Paham Khilafah.⁠⁠⁠⁠ [dutaislam/ka]

close
Banner iklan disini