Kedekatan Hati Mbah Maimun Zubair dengan Mbah Dimyati Rois
Cari Berita

Advertisement

Kedekatan Hati Mbah Maimun Zubair dengan Mbah Dimyati Rois

Duta Islam #07
Sabtu, 21 September 2019

kisah para ulama nusantara
Kisah para ulama nusantara. Foto: istimewa
DutaIslam.Com - Kiai Maimoen Zubair dan Kiai Dimyati Rois, keduanya secara fisik memang jarang bertemu tapi sepertinya tidak dengan hati beliau. Dua Ulama sepuh yang merupakan bagian dari Ahwa 9, yaitu Ulama Sembilan yang menjadi Rujukan menentukan Rois Aam PBNU pada Muktamar ke 33 di Jombang.

Abah Dim (panggilan akrab Kiai Dimyati Rois) merupakan murid dari Kiai Zubair Sarang yang merupakan orang tua dari Kiai Maimun. Tapi antara Kiai Maimun dan Kiai Dimyati sangat jarang bertemu, ini karena pada saat Abah Dim ngangsu kaweruh selama 7 tahun di Sarang tepatnya di MIS asuhan Kiai Imam Kholil nderek Ndalem (santri Hidmah), sementara Mbah Maimun masih menuntut ilmu di negri Hijjaz. Namun demikian, keduanya memiliki kedekatan emosional yang sangatlah dekat, karena Kiai Maimun itu Gusnya bagi Abah Dim, dan banyak sekali kecocokan pandangan antara keduanya.

Abah Dim pernah menjelaskan bahwa Mbah Zubair itu La'llahu Faqih Zamanihi, artinya bahwa Mbah Zubair adalah diantara Ulama yang Allamah pada zamannya. Mbah Zubair itu saat membaca kitab, baru membaca saja sudah seperti menjelaskan, santri yang mengaji sudah faham. Ini sama seperti halnya yang disampaikan Kiai Maimun: Mbah Zubair niku yen moco kitab kados dene nerangake.

Baca: Kontradiktif Al-Bani Dalam Memberi Penilaian Dhoif dan Shohih Suatu Hadist

Suatu ketika para alumni Al-Fadlu pesantren asuhan Abah Dim, berziarah pada Masyayikh Syaikhina. Diawali dari Kaliwungu, lanjut ke Lirboyo dan beberapa daerah di Jawa. Pada saat rombongan di Sarang sowan pada Kiai Maimun,

Ngendikane Mbah Mun: Mbah Zubair niku mboten gadah pondok, tapi seng nderek ngaji yo ono teng ndaleme, Mbah ber, senajan gak ono pondoke, mung katon sinare, nak neng Kudus koyok Mbah Asnawi. ( Mbah Zubair itu tidak punya pondok, sehingga yang ngaji pada beliau ditempatkan di dalam rumah, meskipun demikian rupanya kealiman beliau begitu bersinar. Sama halnya di Kudus seperti Mbah Asnawi. )

Kiai Maimoen melanjutkan. Sakwuse bapakku wafat, terus kepekso aku berusaha senajan abot, anane pondok yo ngarep omah iki, seng pertama kali ngirim santri ndok pondok iki, yo Mbah Dim. (Setelah ayah saya (Mbah Zubair) wafat, saya terpaksa membuat pondok meskipun susah. Dan yang pertama kali mengirim santri di pondok ini ya Mbah Dim.)

Kisah Para Ulama Nusantara


Abah Dim pun mengalami hal yang sama, bahwa memangku pondok itu dipaksa oleh keadaan. Terutama pondok putri Al-Fadhilah itu sejatinya dibuat pondok karena ada seorang dari Tegal Gubug Cirebon menitipkan putrinya. Yang padahal sudah ditolak namun si putri tetap ditinggal hingga temannya pun santri putri banyak dan berkembang hingga sekarang. Adapun yang menamai Al-Fadhilah adalah Mbah Cholil Bisri Rembang.

Mengenai santri pertama Mbah Maimun, beberapa hari lalu pada acara Haflah Lirboyo, Mbah Maimun menceritakan bahwa santri pertamanya adalah Gus Imam Makhrus Ali Lirboyo. Diketahui pula bahwa Abah Dim mempunyai kedekatan yang erat terhadap Kiai Makhrus Lirboyo bahkan sampe ke tiga putra Kiai Makhrus itu mengaji di Kaliwungu diikutkan pada Abah Dim.

Baca: Nasehat Kiai Jamal untuk Ustadz dan Ustadzah TPQ

Kepada Mbah Dim mari kita kirim Al Faatihah semoga diberikan kesehatan dan panjang umur senantiasa menuntun kita semua. Juga kepada Ulama Syaikhona Maimun Zubair semoga khusnul khatimah dan Almadzkur pada tulisan diatas semoga keberkahannya melimpah pada kita semua. Al Faatihah. [dutaislam/ka]

close
Banner iklan disini