Gencar Kritik Film The Santri, Tapi Anteng Lihat Film Pesantren & Rock n' Roll
Cari Berita

Advertisement

Loading...

Gencar Kritik Film The Santri, Tapi Anteng Lihat Film Pesantren & Rock n' Roll

Duta Islam #03
Rabu, 18 September 2019
Loading...

The Santri dan Pesantren & Rock N Roll. Foto: Istimewa.
DutaIslam.Com - Film The Santri yang akan tayang perdana pada Oktober 2019 ramai dikritik oleh sekelompok orang. Sejumlah tudingan buruk muncul meskipun film yang diinisiasi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu baru bisa ditonton trailernya.

Salah satu dasar yang dijadikan kecaman Film The Santri, sebagaimana baru bisa diterka dari trailernya, adanya seorang santri berpacaran di pesantren. Selain itu, adanya adegan seorang santri yang masuk ke geraja dan memberikan tumpeng. Bahkan penceramah sekelas UAS langsung mengeluarkan fatwa haram masuk ke gereja, padahal dalam masalah ini, para ulama berbeda pendapat.

Secara umum, kritik dilancarkan karena Film The Santri dinilai tidak sesuai dengan tradisi pesantren.

Film yang mengangkat tema tentang pesantren sebenarnya bukan hal baru di jagat per-film-an tanah air. Sebelum The Santri, sebuah Film berjudul Film Pesantren & Rock n' Roll sudah lebih dahulu tayang. Bahkan sinetron yang ditayangkan di SCTV tayang perdana pada 14 Februari 2011 silam.

Jika dibandingkan dengan Film The Santri, Film Pesantren & Rock n' Roll tentu sangat tidak sesuai dengan tradisi pesantren di Indonesia meningat dalam film tersebut tidak lepas dari adegan percintaan: salah satu persoalan yang diangkat untuk mengkritik Film The Santri.

Mengapa Film The Santri dikritik dan anteng menyikapi Film Film Pesantren & Rock n' Roll?

Di sinilah titik permasalah mulai terang. Apapun yang diinisiasi oleh PBNU akan selalu menjadi isu yang seksi. NU adalah rumah besar yang memang selalu menjadi sorotan. Para pembenci NU tidak akan pernah tinggal diam dengan kebijakan-kebijakan dan langkah-langkah NU.

Jangankan NU melakukan kesalahan, sebenar dan sebaik apapun langkah NU akan selalu dicari kesalahannya. Jika tidak menemukan kesalahan pada NU, distulah fitnah mulai dihembuskan. Kita tentu masing ingat sederet fitnah kepada NU. Yang terbaru dan masih segar dalam ingatan ketika ada tuntutan pada Banser NU untuk dibubarkan terkait kerusuhan di Papua.

Sampai sekarang tak pernah ada bukti bahwa Banser NU adalah biang kerusuhan di Papua. Fitnah yang terlalu mengada-ngada dan sangat murahan.

Demikian juga dengan Film The Santri yang kalau kita lihat secara sekilas memiliki semangat mengusung toleransi antar umat beragam. Adanya adegan santri yang berpacaran di pesantren tentu tidak dalam rangka membawa misi agar santri berpacaran ketika di pesantren. Adegan itu tentu hanya sebagai bumbu cerita lebih menarik.

Kita semua juga tahu bahwa hampir semua film, baik yang tayang di bioskop maupun di televisi, tidak lepas dari kisah percintaan antara laki-laki dan perempuan. Dan harus diakui bahwa kita telah menjadi penikmatnya. Meskipun begitu, kita tidak serta merta menjadikan kisah sebagai ajaran layaknya dakwah agama yang harus diikuti. Dan kita menjadi orang yang maklum bahwa itu hanyalah film. Sedangkan para pengkritik The Santri terlihat anteng karena film itu tidak ada hubungan dengan PBNU.

Sekali lagi, mengapa hanya Film The Santri yang dipermasahlahan? Titik persoalannya kembali lagi pada yang membuat film itu. Jangankan membuat film yang bernuasa santri atau keagamaan, andai NU bikin film sejenis komedi pun tidak akan lepas dari kecaman dan dianggap penyesatan terhadap umat. Dan mereka para penghujat, pengecam, pemboikot, dan pengkritik itu tak lain adalah bagian dari gerombolan orang-orang itu saja. Kalau tak percaya, silahkan lihat sendiri tampang-tampangnya. [dutaislam.com/pin]


Loading...