Film 'Kucumbu Tubuh Indahku' Lolos Sensor, Didukung Pemkot, Diijinkan Kepolisian, Tak Lolos di Mata FPI
Cari Berita

Advertisement

Loading...

Film 'Kucumbu Tubuh Indahku' Lolos Sensor, Didukung Pemkot, Diijinkan Kepolisian, Tak Lolos di Mata FPI

Duta Islam #03
Selasa, 17 September 2019
Loading...

Kucumbu Tubuh Indahku. Foto: Istimewa.
DutaIslam.Com - Film 'Kucumbu Indah Tubuhku' yang diputar di acara Pasar Sentiling, Kota Semarang, Jawa Tengah, ditolak oleh Front Pembela Islam (FPI), Ahad (15/09/2019). FPI meminta pemutaran film garapan sutradara Garin Nugroho tersebut dihentikan karena mengandung unsur LGBT.

Padahal, film tersebut akan mewakili Indonesia dalam seleksi Komite Oscar 2020 bersama Ave Maryam dan 27 Steps of May. Komite akan memilih satu dari tiga film untuk dikirim ke seleksi The Academy Awards dalam kategori The Oscars Foreign Language Film.

Selain itu, film ini sudah lolos sensor dari pihak berwenang yang juga perwakilan dari institusi keagamaan. Sementara Festival Kota Lama Semarang telah didukung Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang dan sudah mendapatkan izin dari kepolisian.

"Lembaga Sensor Film telah melakukan diskusi dan pertimbangan untuk meloloskan sensor film ini. Festival Kota Lama Semarang adalah festival yang didukung oleh pemerintah Kota Semarang dan izin acara sudah diberikan oleh kepolisian setempat, maka tindakan membubarkan secara sepihak ini merupakan tindakan yang tidak menghormati prosedur hukum," ujar Garin Nugroho, dikutip dari Medcom.id.

Meskipun begitu, ternyata Film tersebut tak lolos di mata FPI.

Dilansir dari Tirto.id, Film 'Kucumbu Tubuh Indahku (Memories of My Body)' bercerita tentang penari Lengger Lanang. Film tersebut berkisah tentang perjalanan Juno (Muhammad Khan) dari kecil sampai dewasa.

Juno kecil lahir di sebuah desa kecil di daerah Jawa yang terkenal dengan penari Lengger Lanang atau penari laki-laki yang menari tarian perempuan. Kemampuan alami tersebut didapat dari lingkungan desa dan keluarganya yang sering meleburkan tubuh maskulin dan feminin.

Kekerasan akibat keadaan politik membuatnya hidup sendiri, menjadikan ayah dan ibu dari dirinya sendiri. Juno sering melihat kekerasan di lingkungannya.

FPI Tolak Film The Santri
Di lain pihak, menantu Imam Besar FPI, Hanif Alathas menolak penayangan film The Santri yang diinisiasi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan disutradarai Livi Zheng.

"Front Santri Indonesia menolak film The Santri karena tidak mencerminkan akhlak dan tradisi santri yang sebenarnya," kata Hanif dikutip dari CNNIndonesia.com.

Film The Santri sedianya akan tayang di Bioskop Oktober 2019 mendatang. [dutaislam.com/pin]


Loading...