Faqir Menjadi Pilihan Hidup Al-Imam Syaikh Ibnu Hajar Al-Haitami
Cari Berita

Advertisement

Loading...

Faqir Menjadi Pilihan Hidup Al-Imam Syaikh Ibnu Hajar Al-Haitami

Duta Islam #07
Jumat, 13 September 2019
Loading...

kisah hidup ibnu hajar
Kisah hidup ibnu hajar. Foto: istimewa
DutaIslam.Com - Syaikh Ibnu Hajar Al Haitami hidup dalam kemiskinan selama 4 tahun, dia tidak pernah makan daging karena tidak punya uang untuk membelinya, walaupun sesungguhnya dia sangat menginginkannya. Istrinya sejak lama ingin mandi di pemandian umum khusus air panas, akan tetapi Syaikh Ibnu Hajar tidak mampu membelikan tiket masuknya.

Istrinya Syaikh Ibnu Hajar sangat ingin ke pemandian umum khusus air panas, Syaikh Ibnu Hajar berkata kepadanya,:"Bersabarlah wahai istriku, saya kumpulkan uang dulu untuk ongkos masuk kesana."

Biasanya ketika Allah membukakan rizki kepada beliau, maka disisakan sedikit sampai terkumpul setengah riyal, lalu diberikan kepada istrinya.

Setelah uangnya terkumpul, istrinya pergi ke pemandian air panas, ketika sampai disana dia meminta penjaganya untuk membukakan pintu untuknya tapi ditolak.

Baca: Debat Cerdas Seorang Imam Sufi VS Inspirator Salafy Wahabi

Penjaga berkata : "Hari ini saya tidak akan membukakan pintu ini untuk siapapun, karena istrinya Syaikh Al 'Alim Al Faqih Muhammad Ar-Romli sedang berada di dalam bersama para sahabatnya. beliau berpesan untuk tidak membukakan pintu ini untuk siapapun pada hari ini, dan beliau telah memberi kepada kami semua ongkos yang biasa masuk kepada kami setiap harinya, yaitu 25 riyal. Jika engkau ingin masuk ke pemandian datanglah besok pagi, kalo hari ini tidak bisa."

Istrinya pulang menemui suaminya sambil mengembalikan uang setengah riyal, dia berkata,:"Sekarang ini yang mempunyai ilmu adalah Syaikh Muhammad Ar-Romli yang istrinya hari ini masuk ke pemandian air panas dengan membayar 25 riyal dan tidak mengizinkan seorangpun untuk masuk kesana. Lalu mana ilmumu ? sudah fakir, kesulitan, susah payah sendiri dan tidak mendapat sesuatupun dari ilmumu, ambillah uangmu yang kau kumpulkan berhari-hari ini"

Ketika Syaikh Ibnu Hajar mendengar ucapan istrinya, beliau berkata,:"Aku ini tidak menghendaki dunia dan ridlo atas apa yang Allah tetapkan kepadaku di dalamnya, sedangkan engkau jika menginginkan dunia, mari kita ke sumur zam-zam".

Keduanya pergi ke sumur zam-zam, ketika sampai disana, Syaikh menimba sekali, ternyata satu timba isinya penuh dengan uang dinar.

Beliau berkata : "apakah segini cukup ?"
Istrinya berkata : "kurang."
Syaikh menimba untuk kedua kalinya, ternyata isinya penuh dengan uang dinar lagi.
Beliau berkata : "apakah segini cukup?"
Istrinya berkata : "aku ingin tiga timba."
Syaikh menimba untuk yang ketiga kalinya dan isinya juga sama dengan sebelumnya.

Syaikh Ibnu Hajar berkata kepada istrinya,:
Aku suka keadaan fakir berdasarkan pilihanku sendiri, kupilih untuk diriku sendiri apa yang ada di sisi Allah, adapun dunia maka semuanya sama bagiku, dunia lewat, umurnya pendek dan kehidupannya hina, dan sekarang ini aku punya dua pilihan untukmu :

1. kembalikan semua uang emas ini ke dalam sumur zam-zam dan engkau masih bersamaku, atau
2. kau bawa semua uang emas ini, kau pulang kerumah keluargamu dan kau ambil talakmu dariku, karena aku tidak menginginkan dunia.

Kisah Hidup Ibnu Hajar


Istrinya berkata :"Bagaimana kalau kita nikmati saja semua uang ini seperti yang dilakukan oleh orang-orang."

Syaikh berkata : "Tidak mau, kau kembalikan semua emasnya ke dalam sumur atau kau ambil semuanya, bawa pulang ke rumah keluargamu dan ambil talakmu."

Istrinya berkata : "Bagaimana kalau kita kembalikan satu timba saja ke dalam sumur."

Syaikh berkata : " Tidak mau, kau kembalikan semua emasnya ke dalam sumur atau kau ambil semuanya, bawa pulang ke rumah keluargamu dan ambil talakmu.

Istrinya bekata : "Bagaimana kalau kita kembalikan dua timba dan yang satu timba kita simpan".

Syaikh berkata : "Tidak mau, kau kembalikan semua emasnya ke dalam sumur atau kau ambil semuanya, bawa pulang ke rumah keluargamu dan ambil talakmu."

Istrinya berkata : "Kita ambil satu dinar saja untuk bersenang-senang hari ini."

Syaikh berkata : "Tidak mau, kau kembalikan semua emasnya ke dalam sumur atau kau ambil semuanya, bawa pulang ke rumah keluargamu dan ambil talakmu".

Istrinya berkata : "Kita kembalikan semuanya ke dalam sumur, aku tidak ingin berpisah denganmu karena kita sudah bersama-sama selama bertahun-tahun. Engkau telah memperlihatkan karomah ini dan kita berpisah di hari ini? aku tidak mau".

Aku memilih untuk bersabar saja bersamamu. Aku semakin mantap hidup bersamamu, walau kita hidup dalam keadaan miskin. Demi Allah, aku akan bersabar dengan segala kesulitan hidup ini,"

Al-Qur’an memperingatkan adanya fitnah istri, anak-anak dan harta benda yang bisa menjadi sebab kelalaian dalam mewujudkan ketaatan, dan terkadang menjerumuskan ke dalam kemaksiatan. Sangat sesuai dengan konteks ini bila Allah memerintahkan ketakwaan dan infak di jalan Allah, sebab tindakan tersebut menjadi modal manusia dan jalan untuk membahagiakan dirinya di dunia dan akhirat, setiap penyakit memiliki obatnya, sedangkan obat bagi penyimpangan adalah bersegera mewujudkan sikap istiqamah dan menetapi jalan lurus amal dan ketaatan. Sebagaimana dijelaskan oleh ayat-ayat berikut,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (١٤) إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ (١٥) فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَأَنْفِقُوا خَيْرًا لأنْفُسِكُمْ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (١٦) إِنْ تُقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا يُضَاعِفْهُ لَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ شَكُورٌ حَلِيمٌ (١٧) عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar. Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu, dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipatgandakan balasannya kepadamu dan mengampuni kamu, dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantun. Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. At-Taghaabun: 14-18).

Baca: Al Maqamat Suyuti Perspektif Tasawuf

Wallahu'alam Bis-Showab
Semoga berkah bermanfaat dunia akhirat. Aamiin. [dutaislam/ka]

Sumber: Kitab Tuhfatul Asyrof dan kisah sejuta hikmah kaum sufi

close
Banner iklan disini