Dakwah Damai di Medsos, Gus Nadir Jadi Percontohan Menag
Cari Berita

Advertisement

Loading...

Dakwah Damai di Medsos, Gus Nadir Jadi Percontohan Menag

Duta Islam #03
Minggu, 22 September 2019
Loading...

Rois Syuriah PCI NU Australia Nadirsyah Hosen (Gus Nadir). Foto: Istimewa.
DutaIslam.Com - Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim menjadi pemateri dalam Kopdar Satrinet Nusantara dengan tema "Menyuarakan Moderasi Beragama Berbasis Media Digital Santri" di Hotal Artotel, Jalan Tamrin, Jakarta Pusat, Jumat (20/09/2019).

Dalam salah satu paparannya, Menag mengajak peserta yang berasal dari pegiat media santri agar membuat konten yang mencerahkan dan tidak mempertentangkan perbedaan. Sebagai percontohan, Menag lantas menyinggung Rois Syuriah PCI NU Australia Nadirsyah Hosen sebagai salah satu contoh baik dalam berdakwah di media sosial.

"Misalnya ketika ada salah satu ustadz yang mengharamkan masuk gereja, Gus Nadir tidak menyalahkan, tapi menjelaskan bahwa di dalam Islam ada pandangan begini dan begitu," ujar Mentri Lukman Hakim.

Menurut Menag, santri memiliki pengetahuan lebih daripada yang lain. Santri dituntut untuk memberikan pencerahan bagi publik. Menag pun mengingatkan kepada puluhan santri yang merupakan admin dan pegiat media sosial itu agar menahan diri: tidak terjebak saling serang, menyalahkan, atau menebar kebencian.

"Jadi jangan kita terpancing dan menyalahkan, kita tidak mempetentangan tapi menjelaskan. Ini yang perlu, publik dicerahkan. Itu yang dituntut dari santri karena santri punya pengetahuan lebih," jelasnya.

Menag H Lukman Hakim Saifuddin bersama Direktur PD Pontren Ahmad Zayadi dalam Kopdar Santrinet Nusantara di Ballroom Hotel Artotel, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat (20/09/2019). Foto: NU Online.

Moderasi Beragama
Di awal sesi diskusi, Menag mempertegas tentang moderasi dalam agama. Menurut Menag, moderasi agama tidak dalam rangka memoderasi agama karena ajaran agama sudah sempurna. Moderasi agama berarti memoderasi pemahaman orang agama.

"Kita tidak sedang moderasi agama karena siapa kita? agama, ajarannya sudah sempurna. Yang menjadi masalah adalah cara kita memahami agama itu. Agama itu kan di langit, ketika yang harus dimoderasi. Yang perlu dimoderasi dalam agama cara kita yang mengejawantah dalam amaliah sehari-hari," papar Menag.

Menag tidak menampik adanya perbedaan pemahaman dalam agama. Namun menurutnya, ada perbedaan yang bisa ditolerir dan tidak bisa ditolir. Dalam hal ini, maka setidaknya tiga hal yang harus menjadi pegangan.

Pertama, nilai kemanusiaan. Menag menegaskan bahwa agama hadir untuk kemanusiaan. Dan dari sisi ibadah yang sangat pribadi pun, berhenti pada tuhan saja. Menag mengutip ayat tentang shalat untuk mencegah perbuatan mungkar.

"Maka yang berlebihan, yang tidak pada kemanusiaan, maka ini sudah termasuk ekstrim," jelas Menag.

Kedua, kesepatan bersama. Menurut Menag, setiap umat begama harus mengikuti kesepatakan. Kesepakataan menjadi hal niscaya dan tidak bisa diganggu gugat karena manusia hidup bersosial. Dalam kontek keindonesiaan, kesepatakan tersebur berdasarkan Pancasila.

"Maka, kalau ada pahan kegamaan yang merusak kesepatan ini sudah berlebihan dan ekstrim. Kalau kita tidak setuju dengan kesepatan, mari kita perbaiki sesuai mikaniame yang ada," imbuhnya.

Ketiga, ketertiban umum. Menurut  Menag, jika di masyarakat yang tidak memperhatikan ketertiban umum sudah bisa disebut berlebihan atau ekstrim.

"Jadi maqasid as-syariah, selain yang disebutkan di atas, ialah untuk menciptakan ketertiban umum. Lag-lagi ini untuk memuliakan manusia," tutur Menag. [dutaislam.com/pin]


Loading...