Anggota Banser Sanggau Menangis di Pangkuan Ibu Saat Minta Restu Gabung Banser
Cari Berita

Advertisement

Anggota Banser Sanggau Menangis di Pangkuan Ibu Saat Minta Restu Gabung Banser

Duta Islam #03
Rabu, 11 September 2019

Anggotan Banser menangis di pangkuan ibunya saat minta restu ikut Banser. Foto: Istimewa.
DutaIslam.Com - Pemandangan mengharukan terlihat dalam penutupan Pendidikan dan pelatihan Dasar (Diklatsar) Banser ke-6 di Pondok Pesantren Darul Hidayah, Desa Suka Mulya, Kecamatan Parindu, Kabupaten Sanggau, ditutup, Ahad (08/09/2019). Beberapa anggota Banser menangis dipangkuan ibunya saat meminta restu sebagai anggota Banser.

Satu diantara anggota Banser itu bernama Ardi. Dia  mengaku terharu karena bisa bergabung dengan Banser. Baginya, Banser adalah organisasi terhormat. Perjuangan Banser yang tulus ikhlas menjaga keutuhan NKRI menjadi kebanggaan tersendiri baginya bisa bergabung dengan Banser.

"Saya tadi terharu, menangis dihadapan ibu saya. Saya mohon restunya supaya diizinkan dan alhamdulillah ibu mengizinkan," ujar Ardi dikutip dari Tribunnews.com.

Sementara Ketua GP Ansor Kabupaten Sanggau Hamka Surkati dalam sambutannya mengatakan, ada tiga tantangan bangsa Indonesia lima tahun kedepan. Ketiga tantangan tersebut yaitu munculnya generasi baru, digitalisasi segala aspek kehidupan, dan tren intoleransi dan radikalisme yang mulai mengusik idiologi negara.

“Harus siap menghadapi tantangan tersebut. GP Ansor dan Banser juga harus tetap konsisten meneguhkan sikap sebagai pengawal eksistensi Islam Ahlussunnah waljamaah An-nahdliyah dan Negara Kesatuan Republik Indonesia," katanya.

Hamka mengatakan, kader Ansor dan Banser harus mampu menganalisa dengan cermat berbagai tantangan tersebut. Kemudian merumuskan langkah yang taktis dan strategis guna menjawab kebutuhan zaman.

"Kedepan kaderisasi di Ansor dan Banser harus berjalan dengan baik dan masif,"tegas Hamka.

Proses kaderisasi Banser diharapakan terus dilakukan hingga ditingkat Desa. Melalui proses kaderisasi tersebut diharapkan lahir calon-calon penerus bangsa yang militan, cinta kepada agamanya dan cinta kepada tanah air.

"Ini juga bagian dari upaya kita mengurangi gerak langkah ataupun upaya-upaya dari sekelompok orang yang mencoba-coba merusak mental generasi muda kita dengan paham-paham yang bertentangan dengan idiologi negara dan ahlussunah waljamaah," ujar Hamka dikutip dari Tribunnews.com. [dutaislam.com/pin]


close
Banner iklan disini