Tanggapan Atas Rencana Kedatangan UAS di Cirebon
Cari Berita

Advertisement

Loading...

Tanggapan Atas Rencana Kedatangan UAS di Cirebon

Duta Islam #02
Sabtu, 17 Agustus 2019
Loading...

Abdul Somad. (Foto: istimewa)
Oleh Mamang M Haerudin (Aa)

DutaIslam.Com - Saat sedang menulis catatan harian ini, saya sedang berada dalam perjalanan menuju Stasiun Gambir, Jakarta, dari Stasiun Kejaksan, Cirebon. Perjalanan berlanjut ke Bandara Soekarno Hatta lalu nanti sore insya Allah akan tiba di Banda Kuala Lumpur, Malaysia. Saya bersama kiai dan beberapa teman akan berada di Malaysia, selama lebih kurang 10 hari. Buat apalagi kalau bukan buat jihad fi sabilillah. Hehe. Kalau ada kesempatan dan akses yang baik, setiap harinya insya Allah saya akan menuliskan pengalaman dalam bentuk catatan harian seperti biasa. Nah pagi ini, saya sengaja ingin menyampaikan pesan untuk warga Cirebon, khususnya warga Nahdliyin atas rencana kedatangan Ust Abdul Somad (UAS), pada 22 Agustus 2019 mendatang. Sebab pada tanggal tersebut saya sendiri sedang tidak ada di Cirebon.

Saya berharap jika warga Nahdliyin di Cirebon tidak perlu gusar. Kedatangan UAS bahkan merupakan sebuah keniscayaan yang bisa dibilang telat. Saya tidak bisa membayangkan, akan ada berapa ribu jemaah yang hadir dalam acara Tabligh Akbar perdana bersama UAS, yang rencananya akan digelar di kampus Universitas Swadaya Gunungjati (UGJ, dulu Unswagati), Cirebon. Berkaca dari pengalaman sebelumnya, pengajian Ust Hanan Attaki disambut luar biasa. Namun dulu pengajian Ust Bachtiar Nasir digagalkan dan kemudian diganti oleh Prof. Dr. Nasaruddin Umar, karena apalagi kalau bukan karena desakan warga Nahdliyin. Ust Bachtiar Nasir ditengarai menjadi salah satu dalang gerakan radikalisme di Indonesia. Sebagai tokoh agama yang getol mengampanyekan penegakan Khilafah Islamiyah. UBN, UAS, UHA dan Ust serupanya memang berada dalam satu gerbong, dengan lokomotif utama penegakan syariat Islam atau Khilafah Islamiyah.

Saya juga berharap para kiai di PCNU Kota dan Kabupaten Cirebon bisa merespon terkait dengan kedatangan UAS ke Cirebon. Sambut dengan baik dan pastikan UAS tetap berceramah dalam konteks NKRI. Para kiai di dua PCNU tersebut bisa dengan leluasa meminta agar UAS menegaskan bahwa dirinya mencintai NKRI dan tidak menghendaki penegakan Khilafah versi HTI, FPI dan versi manapun. Para kiai juga bisa melakukan pernyataan pers di hadapan semua media lokal bahkan nasional, agar ini bisa menjadi teladan untuk daerah-daerah lain. UAS boleh menyampaikan ceramah, tetapi lebih dahulu dengan penyampaian ceramah salah satu dari dua Rais Syuriah PCNU di Cirebon. Saya berharap oleh Dr. KH. Wawan Arwani Amin.

Saya yakin dengan begitu, potensi jemaah yang membludak akan sangat efektif untuk digunakan sebagai sarana edukasi jemaah berkenaan dengan dakwah Islam rahmatan lil'alamin, dakwah Islam Nusantara, dakwah Ahlus sunah wal jamaah An-Nahdliyah. Saya juga berpesan agar sahabat-sahabat Banser Kabupaten dan Kota Cirebon untuk berkoordinasi dengan GP Ansor dan Banser pusat. Semua ini dilakukan agar Cirebon tetap damai dan bersatu. UAS bahkan dijadwalkan akan berduet dengan Buya Yahya, salah seorang pendatang yang telah dianggap ulama dan mempunyai jemaah fanatik yang banyak.

UAS memang fenomena. Ia viral setelah ceramahnya menyebar di media sosial. Dan momen itu ditangkap dengan sangat baik oleh teman-teman hijrah. UAS lalu dijadikan "maha guru", bukan hanya karena cakap dalam menyampaikan ceramah, melainkan juga pandai dalam kajian keislaman yang sumbernya dari berbagai kitab kuning. Dalam hal ini UAS memang tidak diragukan lagi. Bahkan UAS sendiri pernah menjadi pengurus Lembaga Bahtsul Mahasail PWNU Riau. Hanya saja UAS terjebak euforia karena sambutan luar biasa dari para fansnya, teman-teman hijrah. Sehingga setelah viral itu, UAS sudah tidak lagi membawa bendera NU. UAS merasa dirinya tidak mewakili atau lebih besar daripada NU.

Pucuk dicinta ulam tiba. UAS bergaul dan diagung-agungkan oleh para pengusung khilafah. UAS pun semakin kehilangan kendali. Banyak sekali ucapan-ucapannya yang offside. Videonya yang beberapa hari ini kembali viral, berisi ceramah yang penuh dengan kekonyolan. Membercandai dan merendahkan agama lain dan simbol-simbol yang sebetulnya tidak perlu diulas. Hal ini patut disayangkan. Sehingga akibatnya akan mencederai persatuan dan perbedaan di antara kita sebagai warga bangsa. Ibarat kata pepatah: mulutmu harimaumu. Lidah tak bertulang. Ceramah demi ceramahnya yang mudah dicerna itu justru melukai saudara-saudara kita yang berbeda. Saya pikir kita harus mengingatkan UAS.

Dalam konteks inilah saya ingin berpesan untuk yang kesekian kalinya. Bahwa sekalipun UAS mengujar kebencian, kita tidak perlu membalasnya dengan ujaran kebencian yang serupa. Kita: para ulama, warganet dan siapapun agar bersama menyampaikan pengingat ini kepada UAS. Agar UAS semakin hati-hati, tidak lagi terjebak euforia popularitas, dan tidak mengungkit SARA. Sayang sekali kalau kemudian UAS menjadi pemicu disintegrasi umat dan warga bangsa. Kita yang berada di Cirebon, mendapatkan momentumnya. Apabila tidak aral merintang, UAS akan dipastikan hadir menyapa dan menyampaikan ceramahnya di hadapan banyak jemaah. Inilah momen tepat untuk kita, terutama para ulama NU untuk mengingatkan UAS.

Bagaimana pun UAS kadung dekat dan dipuja-puja teman-teman hijrah. Sementara kita tahu, teman-teman hijrah itu begitu lekat dengan formalisme syariat Islam dan politik identitas. Puncaknya UAS juga dekat dengan Habib Rizieq Shihab. HRS memang berpengaruh sekali di hadapan teman-teman hijrah. Fatwanya dinanti-nanti dan kepulangannya ke Indonesia sedang dirindukan. Bagi mereka, apapun yang keluar dari mulut HRS semuanya kebenaran. Bahkan HRS mencaci-maki dan melakukan ujaran kebencian di banyak kesempatan ceramahnya. Jadilah UAS dan HRS corong keislaman dan bahkan arah politik teman-teman hijrah. Dalam konteks inilah pesan saya, saya sampaikan agar kita tetap menjaga NKRI. Jangan biarkan siapapun atas nama apapun mengganggu NKRI. Wallaahu a'lam. [dutaislam.com/gg]

close
Banner iklan disini