Tafsir Surat Al-An'am Ayat 108, Larangan Mencaci Sesembahan Agama Lain
Cari Berita

Advertisement

Loading...

Tafsir Surat Al-An'am Ayat 108, Larangan Mencaci Sesembahan Agama Lain

Duta Islam #04
Sabtu, 24 Agustus 2019
Loading...

Penjelasan kandungan Surat al-An'am ayat 108 (sumber:istimewa)
Surat al-An'am ayat 108 berkaitan dengan larangan mencaci sesembahan agama lain. Surat al-An'am secara tegas melarang umat Islam untuk mencela Tuhan yang disembah umat agama lain.

DutaIslam.Com - Asbabun nuzul Surat al-An'am ayat 108 berhubungan berkaitan etika komunikasi dengan non muslim. Di dalam Surat al-An'am ayat 108 diterangkan, ketika bergaul dengan umat agama lain, dilarang mencaci sesembahan mereka.

Asbabun nuzul Surat al-An'am ayat 108 bermula dari salah seorang umat Islam yang mencela Tuhan orang musyrik. Kemudian, Allah SWT melalui Surat al-An'am ayat 108 memperingatkan umat Islam agar tidak mencela Tuhan mereka lagi.

Baca:  Tafsir Surat Al-Hujurat Ayat 10, Persatuan Umat Islam

 وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ كَذَلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ 

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan Setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan" (QS. al-An'am: 108)

Imam Ibnu Katsir di dalam kitabnya menjelaskan, Imam Abdurrazaq meriwayatkan dari Ma'mar dari Qatadah: "Di zaman Nabi dulu, ada seorang muslim yang mencela sesembahan orang-orang kafir, lalu celaan tadi dibalas oleh orang kafir dengan berlebihan. Mereka mengolok-olok Allah SWT dengan celaan yang amat dan tanpa didasari ilmu.

Berdasarkan kejadian itu, menurut riawayat Qatadah, turunlah Surat al-An'am ayat 108 sebagai respon dari perilaku orang muslim. Allah SWT berfirman: laa tasubbulladziina yad’uuna min duunillaahi (Dan janganlah kamu memaki Tuhan-Tuhan yang mereka sembah selain Allah).

Begitulah asbabun nuzul Surat al-An'am ayat 108 berbicara tentang larangan memaki sesembahan kaum musyrikin. Allah SWT melarang Rasulullah SAW dan para sahabatnya untuk mencela Tuhan mereka, meskipun celaan itu mengandung maslahat.

Baca: Tafsir Surat Al-Ahzab Ayat 70, Pentingnya Berkata Jujur

Di dalam Surat al-An'am ayat 108 disebutkan, larangan cacian tersebut karena hal itu bisa memicu kemadharatan yang lebih besar. Orang-orang musyrik secara frontal akan membalas celaan umat Islam.

Imam Ali bin Abi Thalhah juga meriwayatkan dari sahabat Ibnu Abbas tentang larangan mencela sesembahan agama lain.

كما قال علي بن أبي طلحة ، عن ابن عباس في هذه الآية : قالوا : يا محمد ، لتنتهين عن سبك آلهتنا ، أو لنهجون ربك ، فنهاهم الله أن يسبوا أوثانهم ، ( فيسبوا الله عدوا بغير علم 

"Sebagaimana yang dikatakan Imam Ali bin Abi Thalhah, dari Ibnu Abbas, mengenai ayat ini, Mereka berkata: `Hai Muhammad, berhentilah memaki Tuhan-Tuhan kami atau kami akan mencela Tuhanmu. Kemudian, Allah SWT melarang mereka untuk memaki-maki berhala orang musyrik" (Tafsir Ibnu Katsir, hal. 141).

Baca: Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 3, Kriteria Orang Bertakwa

Surat al-An'am ayat 108 mengajarkan kepada umat Islam agar senantiasa dalam berdakwah tidak mencela ajaran agama lain. Memang tugas setiap muslim adalah mengajak kepada kebenaran, akan tetapi jika dakwahnya tidak disertai sikap arif dan bijaksana, maka yang terjadi hanya sikap keras kepala serta perilaku tidak senonoh kepada Allah SWT.

Berdakwalah sebagaimana yang diajarkan Rasulullah SAW dan sesuai amanat Surat al-An'am ayat 108. Berdakwa tanpa menyinggung perasaan serta mencela umat agama lain. [dutaislam.com/in]

close
Banner iklan disini