Strategi Pendukung Khilafah Merangkul Masyarakat Terbuang untuk Hijrah
Cari Berita

Advertisement

Strategi Pendukung Khilafah Merangkul Masyarakat Terbuang untuk Hijrah

Duta Islam #03
Sabtu, 10 Agustus 2019

Artis Hijrah. Foto: Istimewa.
Oleh Denny Siregar

DutaIslam.Com - Sejak lama saya mengamati konsep "hijrah" yang dilakukan para pendukung khilafah.

Hijrah itu dalam artian sebenarnya adalah perpindahan atau migrasi Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Tetapi pada masa kini, hijrah bisa diartikan sebagai perpindahan dari yang "kurang baik" menjadi "lebih baik".

Hebatnya para pendukung khilafah ini - baik HTI, FPI maupun organisasi agama lain - punya strategi dengan merangkul kelompok masyarakat terbuang, seperti para preman, anggota genk motor, anak punk dan banyak lagi. Mereka berdakwah, mengajak anak-anak muda ini kembali kepada Tuhan.

Selain itu mereka juga mengadakan kegiatan amal seperti program menghilangkan tatto, sunatan massal sampai rukyiah atau pengobatan bagi mereka yang kerasukan. Dan kegiatan itu dilaksanakan secara massif dan serentak, tanpa bayaran.

Lho, tanpa bayaran?

Ya, tanpa bayaran. "Bayarannya dari Allah Subbhana Wa Ta'ala." Begitu kata mereka dengan penuh keyakinan. Dan ternyata kegiatan positif itupun mengundang donasi darimana-mana sehingga mereka bisa hidup dan berkembang.

Di puncak elitenya, mereka merangkul para artis-artis yang sudah redup masanya dan bingung mencari pendapatan untuk keluarga. Artis-artis ini kemudian diajak mempopulerkan konsep hijrah, sekaligus mengkapitalisasi aksesoris yang disponsori oleh brand-brand busana muslim ternama.

Kegiatan yang sudah berlangsung puluhan tahun ini sukses merekrut ribuan anak muda di seluruh Indonesia dalam satu konsep "umat".

Nah, keumatan ini juga akhirnya di kapitalisasi dalam berbagai acara. Mulai acara ceramah sampai politik. Jadi anda bisa bayangkan, seorang ustadz yang dulu bukan siapa-siapa, akhirnya menjadi besar dan punya jadwal "manggung" sampai tiga tahun penuh berkat jaringan ini.

Jadwal manggung ini berarti ekonomi, dan jika si ustadz - juga artis - ini keluar dari barisan mereka, maka runtuh juga ekonomi mereka.

Begitulah secara garis besar model doktrinisasi khilafah - atau sekarang mereka perhalus dengan negara bersyariah yang mereka lakukan. Ngeri, kan?

Kenapa mereka bisa lakukan itu?

Mereka mengambil peluang besar hal-hal yang selama ini tidak diperhatikan negara bahkan oleh ormas Islam besar di negeri ini. Demokrasi memunculkan residu atau sesuatu yang terbuang. Residu inilah yang dikumpulkan oleh kelompok mereka dan dimanfaatkan untuk tujuan mereka juga.

Dan melihat pola yang sama di Timur Tengah, pemberontakan muncul dari kelas terpinggirkan seperti ini yang terabaikan bahkan tidak dilirik sama sekali oleh kelas menengah mapan.

Dari penjelasan itu, kita bisa melihat bahwa "rangkulan" ternyata bisa menjadi senjata pemusnah massal yang akan menghancurkan negara ini.

Mereka bukan hanya merangkul, tetapi sekaligus membisikkan bahwa negara telah gagal merawat para kaum terbuang dan khilafahlah yang akan merawat mereka kelak. "Mari hijrah," bisik mereka.

Semakin banyak yang kita buang dan tidak kita rangkul, semakin banyak yang akan menjadi pengikut para pendukung khilafah.

Kita membuang mereka yang kita anggap "bukan bagian dari kita" dan mereka memungutnya menjadikan "bagian dari mereka".

Tanpa kita sadari, kitalah sebenarnya yang menciptakan mereka. Kita bagian dari masyarakat paranoid yang tidak ingin bersentuhan dengan mereka.

Dan kita akan membuang lagi seorang Enzo Allie hanya karena pernah menjadi bagian dari mereka. Lalu mereka rangkul seorang Enzo Allie, dan mereka bentuk sebagai bagian dari mereka.

Kita bahkan tidak belajar dari lawan bahwa merangkul seharusnya menjadi senjata utama kita. Kita bahkan tidak memberi kesempatan mereka "hijrah" menjadi bagian dari kita.

Kita yang paranoid dan merasa lebih "benar" dari mereka. [dutaislam.com/pin]

Keterangan: Disadur dari Akun Facebook Deny Siregar dengan judul asli 'Hijrah, Senjata Pemusnah Massal'.

close
Banner iklan disini