Puasa 9 Dzulhijjah Tidak Harus Mengacu Kepada Wukuf di Arafah
Cari Berita

Advertisement

Loading...

Puasa 9 Dzulhijjah Tidak Harus Mengacu Kepada Wukuf di Arafah

Duta Islam #04
Sabtu, 03 Agustus 2019
Loading...

Penjelesan puasa tanggal 9 Dzulhijjah tidah harus mengacu pada wukuf di Arafah (sumber:istimewa)

Umat Islam pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dianjurkan untuk meningkatkan amala ibdahnya. Salah satu ibadah yang disunahkan pada sepuluh hari pertama tersebut adalah puasa pada tanggal 9 Dzulhijjah atau pada hari Arafah.

DutaIslam.Com - Puasa pada hari kesembilan bulan Dzulhijjah atau hari Arafah memiliki fadhilah yang besar. Hadis nabi yang diriwayatkan Imam Muslim menegaskan begitu besarnya pahala yang dijanjikan Allah SWt bagi orang yang berpuasa Arafah.

يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْـمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ

“(Puasa Arafah) menghapus dosa-dosa setahun yang lalu dan yang akan datang.” (HR. Muslim)

Puasa hari Arafah seringkali berkaitan dengan wukuf di Arafah. Namun, acapkali terdapat perbedaan hari antara di Indonesia dan di Arab Saudi. Misalnya, pemerintah Saudi Arabia menetapkan wuquf di Arafah jatuh pada hari Selasa dan lebaran Idul Adha pada hari Rabu. Akan tetapi pemerintah Indonesia menetapkan hari raya Idul Adha pada hari Kamis dan puasa Arafah pada hari Rabunya.

Baca: Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah

Melihat fenomena seperti ini, seringkali umat Islam merasa kebingungan. Mereka terkadang mempertanyakan harus puaa Arafah pada hari apa. Lantas bagaimana sikap umat Islam di Indonesia, Apakah kita tetap berpuasa dengan meyakini ketentuan dari pemerintah kita, ataukah kita harus ikut penetapan pemerintah Saudi Arabia?

Kebingungan umat Islam seperti itu karena berpandangan bahwa puasa Arafah sangat berkaitan erat dengan ibadah haji yang  berupa wukuf di padang Arafah. Sehingga, berkesimpulan bahwa puasa Arafah dilakukan serentak oleh umat Islam seduian bersamaan dengan wukufnya jamaah haji di Padang Arafah.

Padahal, antara puasa Arafah dan ibadah wukuf di Arafah merupakan dua ibadah yang sendiri-sendiri. Keduanya adalah jenis ibadah yang tidak ada kaitannya sama sekali. Wukuf di padang Arafah dan puasa Arafah jika ditelaah lebih detail, keduanya itu disyariatkan secara terpisah dan sendiri-sendiri.

Menurut beberapa riwayat, puasa pada tanggal 9 Dzulhijjah disyariatkan pada tahun kedua hijriyah. Artinya, puasa ini telah disyariatkan jauh sebelum Nabi Muhammad SAW melaksanakan ibadah haji dan wukuf di padang Arafah.

Baca: Ini Dalil Puasa Sunnah Tarwiyah

Sedangkan Rasulullah pergi menunaikan ibadah haji pada tahun kesepuluh hijriyah. Ada rentan delapan tahun lamanya antara disyariatkannya puasa Arafah dan hajinya Nabi Muhammad SAW. Di rentan waktu itu, Rasulullah melaksanakan puasa sunnah pada tanggal 9 Dzulhijjah, akan tetapi di Arafah tidak sedang wukuf di Arafah.

Hal itu menunjukkan bahwa andai puasa sunnah pada tanggal 9 Dzulhijjah mengacu pada ritual wukuf jamaah haji di padang Arafah, maka tentunya Rasulullah SAW dan para sahabat tidak akan berpuasa di rentan waktu tersebut. Karena, waktu itu belum ada perintah wajib haji dan wukuf di Arafah.

Dengan demikian, asumsi bahwa puasa tanggal 9 Dzulhijjah harus mengacu pada prosesi wukuf di Arafah, sejatinya tidka berdasar sama sekali. Sebab, anggapan itu bertolak belakang dengan pensyariatan kesunahan puasa tanggal 9 Dzulhijjah di masa kenabian. [dutaislam.com/in]
Loading...