Pengakuan Seorang Kristen Tentang Sosok Mbah Moen
Cari Berita

Advertisement

Pengakuan Seorang Kristen Tentang Sosok Mbah Moen

Duta Islam #03
Kamis, 08 Agustus 2019

KH Maiomoen Zubair. Foto: Istimewa.
Oleh Jemima Mulyandari

DutaIslam.Com - Hari ini Indonesia berduka. Tak hanya umat Islam yang berduka. Lintas agama pun sangat kehilangan atas meninggalnya Kyai Haji Maimun Zubair. Ditulis menggunakan ejaan lama Maimoen Zoebair membuat beliau akrab dipanggil dengan sebutan Mbah Moen.

Sayapun merasa sangat kehilangan Mbah Moen. Orang tua yang layak dituakan. Pemimpin sekaligus pengayom yang jadi panutan. Ingatan saya tiba-tiba jadi terkenang pada Gus Dur. We miss you Gus Dur. Bapak pulralisme yang sangat saya hormati.

Mbah Moen yang lahir di Rembang, Jawa Tengah, 28 Oktober 1928 meninggal hari ini di Mekkah, Selasa, 6 Agustus 2019 setelah melaksanakan salat Subuh, pada pukul 04.30 waktu setempat di rumah sakit An-Nur Mekkah. Mbah Moen memang sedang menjalankan ibadah haji di Makkah.

Di usianya yang sepuh mencapai 90 tahun, Mbah Moen adalah sosok yang sangat menginspirasi bagi saya. Sekalipun saya belum pernah bertemu secara langsung dengan Mbah Moen, tapi saya cukup tahu tentang keberadaan beliau sebagai salah satu ulama besar di Indonesia, sekaligus sesepuh di Nahdlatul Ulama (NU).

Sekalipun saya beragama Kristen, tapi saya memang mengagumi banyak tokoh lintas agama seperti Imam Ali bin Abi Thalib, Rumi, Gus Dur, Bunda Teresa, Mahatma Gandi, Sidharta Gautama dan masih banyak lagi yang tak bisa saya sebutkan satu persatu di sini. Perkataan serta perbuatan baik mereka sangat menginspirasi. Terlepas mereka juga pasti punya kekurangan, yang jelas ketokohan mereka memang menginspirasi saya.

Sudah ada banyak tulisan saya yang terinspirasi dari teladan kasih dan kebaikan yang mereka lakukan selama mereka hidup. Salah satunya adalah Mbah Moen. Khusus di artikel ini akan saya bahas beberapa kalimat bijak sekaligus pegangan hidup dari Mbah Moen yang sangat memberkati hidup saya.

Pertama: “Sampean ini jangan main hukum kafir begitu saja (jangan suka mengkafir-kafirkan orang lain), wong sampean saja belum pasti masuk surga. Ngapain ngurusi orang lain.”

Saya terharu dengan kalimat Mbah Moen ini. Sejak kecil sampai sekarang saya sudah kenyang dikafir-kafirkan sana sini. Tak masalah juga sih buat saya pribadi. Emang gue pikirin. Keyakinan dan kecintaan saya pada Tuhan Yesus Kristus biarlah menjadi urusan saya pribadi. Titik. Ngga pake koma.

Tapi yang jelas, suka mengkafirkan orang lain akan jadi masalah serius pada kehidupan berbangsa dan bernegara. Apalagi Indonesia terdiri dari berbagai macam suku, agama, ras dan golongan. Dan faktanya, Indonesia memang dibangun di atas sebuah sumpah yaitu satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa. Bukan satu agama.

Di sinilah saya seringkali merasa sedih dengan berbagai peristiwa kafir mengkafirkan di negara ini. Bahkan sampai ada orang-orang yang tega menghakimi sesamanya tidak percaya Tuhan dan tidak mengenal Allah. Padahal orang yang dimaksud justru rajin dan taat beragama. Keterlaluan khan.

Tragisnya, merasa diri dan golongannya menjadi yang paling berhak atas Tuhan dan surga ini juga melanda umat Kristen itu sendiri. Gereja yang satu menganggap gereja lain yang tak sama dengan mereka sebagai gereja sesat. Pendeta yang satu menuding pendeta lain yang tak sependapat dengan dia sebagai pendeta sesat yang layak dijauhi dan dikucilkan. Jangan datang ke gereja itu, di situ sesat. Astagaaaaa.

Tak perlu saya ceritakan secara detail di sini. Yang pasti saya adalah salah satu saksi hidup yang menyaksikan kejadian tuding menuding antar gereja dan antar umat Kristen itu sendiri. Nyesek jadinya tiap kali mengingat kejadian itu masih terus berlangsung sampai sekarang.

Lalu tiba-tiba sosok Mbah Moen dengan kalimat bijaknya yang tak suka mengkafirkan orang lain dan tak suka ngurusi keimanan orang lain muncul lewat di depan mata saya dengan begitu mesra. Terharu banget khan jadinya.

Kedua: kalimat ini adalah 8 kalimat bijak Mbah Moen yang akan saya rangkai jadi satu karena saling berhubungan antara yang satu dengan yang lain. Kalimat-kalimat ini memang Mbah Moen sampaikan dalam bahasa Jawa. Tapi saya sudah sertakan terjemahannya dalam bahasa Indonesia agar bisa dimengerti oleh seluruh anak bangsa.

Ora kabeh wong pinter kuwi bener (Tidak semua orang pintar itu benar)

Ora kabeh wong bener kuwi pinter (Tidak semua orang benar itu pintar)

Akeh wong pinter ning ora bener (Banyak orang yang pintar tapi tidak benar)

Lan akeh wong bener senajan ora pinter (Dan banyak orang benar meskipun tidak pintar)

Nanging tinimbang dadi wong pinter ning ora bener, Luwih becik dadi wong bener senajan ora pinter (Daripada jadi orang pintar tapi tidak benar, lebih baik jadi orang benar meskipun tidak pintar)

Ono sing luwih prayoga yoiku dadi wong pinter sing tansah tumindak bener (Ada yang lebih bijak, yaitu jadi orang pintar yang senantiasa berbuat benar)

Minterno wong bener kuwi luwih gampang tinimbang mbenerake wong pinter (Memintarkan orang yang benar itu lebih mudah daripada membenarkan orang yang pintar)

Mbenerake wong pinter kuwi mbutuhke beninge ati, lan jembare dhodho (Membenarkan/membuat benar orang yang pintar itu membutuhkan beningnya hati, dan lapangnya dada)

Dari 8 kalimat ini terlihat nyata betapa dalamnya pemahaman Mbah Moen tentang yang namanya kebenaran. Saat mata jasmani dan mata rohani saya berusaha mencerna kata demi kata, jujur saya terkesima. Dalam bahasa bebas versi Jemima, inilah pengertian yang saya dapatkan dari 8 kalimat Mbah Moen di atas.

Jangan sampai kepintaran membuat kita takabur. Karena jauh lebih berharga dari kepintaran adalah kebenaran. Tak ada gunanya kita pintar jika kepintaran itu justru kita gunakan untuk melakukan sesuatu yang tidak benar. Pintar berbohong, pintar menipu, pintar mencuri dan kepintaran-kepintaran negatif lainnya. Untuk apa?

Mbah Moen juga menempatkan kebenaran sebagai sesuatu yang sangat berharga tanpa harus merasa lebih benar dari orang lain. Mbah Moen berusaha mengejar hidup dalam kebenaran tanpa merasa dirinya yang paling benar di antara sesamanya yang lain.

Bagaimana saya tidak terharu dengan sikap bersahaja yang seperti ini??? Sementara dalam kehidupan sehari-hari ada begitu banyak kebenaran diri sendiri yang dipertontonkan oleh orang-orang di sekitar kita, termasuk oleh orang-orang yang seiman dengan kita.

Kebenaran diri sendiri memang sesuatu yang sangat mengerikan terutama dalam kehidupan bersama, baik itu dalam kehidupan berjemaat maupun dalam hidup berbangsa dan bernegara.

Semuanya salah kecuali dirinya sendiri. Itulah kebenaran diri sendiri. Kebenaran yang diperoleh dari hasil menyalahkan orang lain.

Saya jadi teringat pada sebuah cerita di Alkitab tentang Miryam dan Harun yang memberontak pada Musa. Miryam dan Harun merasa lebih tua, lebih berpengalaman, lebih benar dan lebih segalanya dari Musa. Hasilnya Tuhan murka dan menghukum Miryam dengan penyakit kusta seperti yang disebutkan dalam kitab Bilangan 12:10.

“Dan ketika awan telah naik dari atas kemah, maka tampaklah Miryam kena kusta, putih seperti salju.”

Inilah yang dinamakan dengan kebenaran sendiri seperti yang sudah saya ceritakan di atas. Putih identik dengan kebenaran dan kesucian. Putih tapi kusta. Itulah kebenaran diri sendiri yang sangat dihindari oleh Mbah Moen.

Menulis artikel ini sebagai penghormatan saya pada Mbah Moen hatiku dipenuhi dengan keharuan. Untuk kesekian kalinya saya bisa melihat wajah Yesus yang penuh kasih dan kebaikan dalam diri orang-orang yang berbeda iman denganku. Dan hari ini saya bisa melihat itu dalam diri Mbah Moen. Selamat jalan Mbah Moen. Terima kasih untuk teladan kasih dan kebaikan yang sudah Mbah Moen berikan pada kami semua. [dutaislam.com/pin]

Keterangan: Disadur dari Seword.com dengan judul asli 'Sosok Mbah Moen Di Mata Saya Seorang Kristen'.

close
Banner iklan disini