Menjaga Tariqah Alawiyah, Nasab Menjadi Sumber Kekuatan Dzurriah
Cari Berita

Advertisement

Menjaga Tariqah Alawiyah, Nasab Menjadi Sumber Kekuatan Dzurriah

Duta Islam #07
Kamis, 29 Agustus 2019

Nasab nasab rasulullah
Menjaga tariqah alawiyah, nasab menjadi sumber kekuatan dzurriah. Foto: istimewa
DutaIslam.Com - Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya memang menjaga Tariqah Alawiyah, tariqahnya para Salaf Ba'alawi (keturunan Nabi) yang masih murni, yang diajarkan turun temurun, dari kakek ke ayah, hingga ke cucu-cucunya dan tidak pernah ada "konflik" kecuali yang melupakan atau meninggalkan ajaran salafnya.

Apa rahasia dan kunci dibalik itu semua?
Didalam nasab inilah terkandung "Sirr dan Keberkahan" dari para leluhurnya yang menjadi kunci kekuatan Bani Alawiyyin dan sekaligus pemersatu. Jangan heran jika ada seseorang yang kurang menghargai nasabnya, akan dengan sendirinya melupakan ajaran leluhurnya.

Di zaman para Salaf Ba'alawi terdahulu, seakan-akan tiada lagi ilmu yang penting kecuali ilmu nasab, sehingga kedudukan ilmu ini begitu terhormat dan dipegang oleh para Wali Quttub yang terpandang di zamannya.

Mereka mencatat dengan rapi dan sistematis semua kalangan marga-marga Dzurriah yang ada.
Tidak ada satupun yang menganggap remeh dan takut dengan ancaman-ancaman yang memutuskan nasab suci ini (kafaah syarifah pun begitu terjaga). Tapi sayang dengan berjalannya waktu, Kemuliaan ilmu nasab ini mulai "terabaikan", semakin kurang yang ingin mempelajarinya lagi.

Baca: Nasab Bukanlah Jaminan Nasib Seseorang

Para ahli-ahli nasab (pejuang nasab) tidak begitu diperhatikan dan terabaikan. Yang pada akhirnya ikut berdampak menurunnya "citra" para Sayyid dan Syarifah itu sendiri karena tidak menghargai dan memaknai darah suci yang mengalir pada diri mereka. Dan begitupun dengan "maraknya para pemalsu nasab" akibat ilmu nasab ini tidak terkelola dengan baik dan kurangnya penghargaan terhadap ilmu ini, sehingga kemurnian nasab Keluarga Rasulullah akan terus "ternodai", hingga pada akhirnya akan memusnahkan Dzurriah Nabi di Bumi Nusantara ini.

Penghancuran sistematis kemurnian penjagaan nasab
Di penghujung abad 20, para Orientalist menyelidiki tentang pergerakan dakwah dan syiar Islam di Nusantara. Mereka mengambil kesimpulan bahwa dakwah ini di motori oleh orang-orang yang datang dari Hadramaut. Sementara para da'i dari Hadramaut itu identik dengan Dzurriyah Nabi yakni para anak keturunan Rasulullah SAW.

Dalam berdakwah, mereka mempunyai satu garis komando (garis perintah) dalam pergerakannya.
Para musuh-musuh Islam mengeluarkan banyak uang dan memakan waktu ratusan tahun untuk mencari jawaban dimana "Garis komando para dzurriyah rasul ini ".

Akhirnya para Orientalist telah menyadari garis komando nya (kekuatan) adalah terletak pada terjaganya kemurnian kesucian nasab keluarga dzurriyah Rasul. Jadi untuk menghancurkan dan mencerai beraikan para dzurriyah Nabi Muhammad SAW dalam berdakwah, maka langkah yang paling awal adalah dengan merusak dan menghancurkan nasab-nasab nya dahulu.

Mereka sangat sadar Islam tidak mudah dihancurkan dengan fisik, tapi melalui proses memecah belah umat Islam. Dengan berbagai cara mereka upayakan, termasuk berselubung dalam golongan-golongan Islam dan berupaya merusak sistem pemahaman Islam dari dalam, dan sangat menyadari sumber kekuatan Islam ada pada keturunan Nabi, dimana sumber kekuatan para Dzurriah ini ada pada nasabnya.

Mereka mulai mengacaukan pemahaman umat tentang nasab, keturunan Nabi, kafa'ah, kemuliaan dan hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan para keturunan Nabi ini. Dengan faham Liberismenya (pluralisme, materialisme, sekuler, kebebasan berbicara, dll), mereka berhasil mengacaukan pandangan umat sesuai dengan kehendaknya.

Fakta-fakta yang terjadi dalam upaya mereka merusakkan kesucian dan kemurniaan nasab ini adalah :

  • Keberadaan oknum-oknum pengurus lembaga nasab yang tidak ahli dalam bidang ilmu nasab.

  • Dengan pembiaran Habib-Habib palsu yang dekat dengan tokoh-tokoh Habaib ternama.
  • Dengan membangun opini mengatakan bahwa ilmu nasab tidak perlu dipelajari karena sudah ada lembaga nasab yang resmi, yang menyebabkan "Kebutaan orang terhadap nasabnya sendiri".
  • Dengan merusak pola pikir generasi muda bahwa "Nasab tidak ada gunanya, semua manusia sama kecuali taqwanya". 
  • Tidak boleh berbicara nasab karena dikuatirkan menjadikan kita sombong, sehingga nasab dijadikan "tabu" dalam pembicaraan.
  • Dengan membangun opini dalam masyarakat Alawiyyin bahwa yang berhak mengatur dan menjaga nasab ini hanya satu lembaga dan yang lain tidak legal/resmi.
  • Dengan sengaja tidak menciptakan lembaga kaderisasi ahli-ahli nasab di masa akan datang. Ilmu nasab, ilmu yang tidak semua orang bisa memahaminya, bahkan beberapa ulama ahli nasab, menyarankan agar jika ingin bicara nasab jangan di forum terbuka atau didepan masyarakat umum, sebab ilmu nasab adalah ilmu yang sulit dicerna.
Jangankan orang awam, para akademisipun akan sulit menghadapi. Abu Muhammad bin Ali bin Ahmad bin Said Al-Andalus berkata didalam buku Sejarah silsilah dan gelar keturunan Nabi Muhammad SAW oleh Idrus Alwi Al-Masyhur :
Bahwa pendapat sebagian manusia yang mengatakan ilmu nasab tidak bermanfaat dan tidak mengetahui ilmu nasab tidak membahayakan, adalah pendapat yang bathil”.
Menurut beliau, "ilmu nasab itu adalah ilmu yang agung dan wajib bagi manusia untuk mempelajarinya."

Nasab- Nasab Rasulullah


Dalam mukadimah Al-Ansab, Al-Sam'ani berkata:
"Dan ilmu silsilah nasab merupakan ni'mat yang besar dari Allah SWT, yang karena hal itu Allah SWT memberikan kemuliaan kepada hambanya. Karena dengan ilmu silsilah mempermudah untuk menentukan nasab-nasab yang terpisah-pisah dalam bentuk kabilah-kabilah dan kelompok-kelompok, sehingga dengan ilmu silsilah nasab menjadi sebab yang memudahkan penyatuan tersebut."

Tidak ada lagi yang "mempermainkan" dan yang mencoba memalsukannya, kecuali bagi yang memiliki hati-hati yang tertutup. Semoga ini menjadi renungan yang baik dan diharapkan agar menjadikan nasab sebagai bagian dari tauladan dalam hidup.

Peringatan dini buat para pemalsu nasab (baik secara individu maupun yang berlindung dibalik tirai lembaga nasab).

"Duhai sang pemalsu nasab dan para habaib palsu...
Ketahuilah oleh kalian bahwa kami para alawiyyin mudah dalam barisan jundullah (tentara-tentara Allah)...
Tak akan pernah tinggal diam menghadapi kalian...
Kami akan berada dalam setiap lini disetiap jengkal bumi Allah untuk mempertahankan kemurnian dan kesucian nasab...
Kami akan bertahan sampai darah-darah kami menetes dan mengering di muka bumi ini...
Kami akan menjadi saksi atas adzab yang akan kalian terima baik di dunia yang fana ini maupun di akhirat kelak....

Baca: Mbah Sabilan, Dzurriyah Rasul ke-29 yang Berjuang Semasa Untung Suropati



Semoga nasab ini menjadi pengerat Ukhuwah Islamiyah dan memperkecil perbedaan diantara sesama muslim dan menjadi perhatian seluruh umat Islam dan khususnya buat kalangan sendiri (Dzurriah). [dutaislam/ka]

Centre Intelegent Alawiyin

close
Banner iklan disini