Mengikuti Pemahaman Para Sahabat Salafus Sholih
Cari Berita

Advertisement

Mengikuti Pemahaman Para Sahabat Salafus Sholih

Duta Islam #07
Sabtu, 03 Agustus 2019

Salafi bukan wahabi
Salafi bukan wahabi. Foto:istimewa
DutaIslam.Com - Supaya kita lebih faham arti terminologi yang dipakai Ulama Salaf dan pengikut Salaf asli.

1. Imam Hanafi : Lahir 80 Hijrah

2. Imam Maliki : Lahir 93 Hijrah

3. Imam Syafi'i : Lahir 150 Hijrah

4. Imam Hanbali : Lahir 164 Hijrah

5. Imam Asy'ari : Lahir 240 Hijrah

Mereka ini semua ulama Salafus Sholih dikenali dengan nama ulama Salaf. Apa itu Salaf?

Salaf ialah nama "zaman" yaitu merujuk kepada golongan ulama yang hidup antara kurun zaman kerasulan Nabi Muhammad hingga 300 Hijrah. 3 kurun pertama itu bisa diartikan 3 Abad pertama (0-300 H).

1) Golongan generasi pertama dari 300 tahun hijrah itu disebut "Sahabat Nabi" kerana mereka pernah bertemu Nabi.

2) Golongan generasi kedua pula disebut "Tabi'in" yaitu golongan yang pernah bertemu Sahabat Nabi tapi tidak pernah bertemu Nabi.

3) Golongan generasi ketiga disebut sebagai "Tabi' tabi'in" yaitu golongan yang tidak pernah bertemu Nabi & Sahabat tapi bertemu dengan Tabi'in.

Baca: Jawaban Bagi Wahabi yang Sombong Menanyakan Imam Tahlil Rasul Wafat

Jadi Imam Abu Hanifah (pengasas Madzhab Hanafi) merupakan murid Sahabat Nabi maka beliau seorang Tabi'in, Imam Malik, Imam Syafii, Imam Hanbali, Imam Asy'ari pula berguru dengan Tabi'in maka mereka adalah golongan Tabi'' Tabi'in.

Jadi kesemua imam-imam yang mulia ini merupakan golongan Salaf yang sebenar dan
pengikut mazhab mereka lah yang paling layak digelar sebagai "Salafi" kerana "Salafi" bermaksud "pengikut golongan Salaf".

Jadi beruntung lah kita di (Nusantara) yang masih berpegang kepada Madzhab Syafi'i yang merupakan madzhab Salaf yang Sebenar dan tidak lari dari faham Nabi dan Sahabat.

Masyayih Ahlus Sunnah wal jamaah Nusantara:

Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi
Syeikh Machfudl At-Turmusi
Syeikh Ahmad Zaini Dahlan
Syeikh Nawawi Al-Bantani
Syeikh Hasyim Asy'ari Al-Jumbani
Syeikh Soleh Darat

Rujukan Wahhabi:

1) Ibnu Taimiyyah lahir: 661 Hijrah (lahir 361 tahun selepas berakhirnya zaman Salaf)

2) Albani lahir: 1333 Hijrah (mati tahun 1420 hijrah atau 1999 Masehi,lahir 1033 tahun selepas berakhirnya zaman Salaf)

3) Muhammad Abdul Wahhab (pendiri gerakan Wahhabi): 1115 Hijrah (lahir 815 tahun selepas berakhirnya zaman Salaf)

4) Abdullah bin Baz lahir: 1330 Hijrah (mati tahun 1420 hijrah atau 1999 Masehi, sama dengan Albani, lahir 1030 tahun selepas berakhirnya zaman Salaf)

5) Utsaimin lahir: 1928 Masehi (mati tahun 2001,lebih kurang 12 tahun lepas dia mati,lahir entah berapa ribu tahun selepas zaman Salaf.

Mereka ini semua hidup di akhir zaman kecuali Ibnu Taimiyyah yang hidup di pertengahan zaman antara zaman salaf dan zaman dajjal (akhir zaman). Saat Islam diserang oleh tentara Mongol. Tidak ada sorang pun Imam rujukan mereka yang mereka ikuti secara buta hidup di zaman Salaf.

Mereka ini semua teramat lah jauh dari zaman salaf  tapi sangat-sangat aneh apabila puak-puak Wahhabi menggelarkan diri sebagai “Salafi” (pengikut Golongan Salaf).
Sedangkan rujukan mereka adalah dari kalangan yang datang dari golongan ulama’ akhir zaman.
Mereka menuding ajaran Sifat 20 Imam Asy’ari yang lahir tahun 240 H sebagai bid’ah yang sesat. Padahal ajaran Tauhid Uluhiyyah, Rububiyah, dan Asma wa Shifat yang mereka ajarkan juga bid’ah dan diajarkan Khalaf yang lahir tahun 1115 H. Ini mendangkalkan aqidah ummat Islam.

Salafi Bukan Wahabi


Mereka tuduh pula dzikir berjama’ah usai shalat di masjid bid’ah sesat sehingga mereka diam saja usai shalat. Ummat Islam jadi jauh dari dzikir dan doa. Mereka tuduh tahlilan bid’ah. Padahal itu Syiar Islam oleh Wali Songo yang berhasil meng-Islamkan ummat Islam Indonesia yang semula beragama Hindu. Banyak tuduhan mereka bahwa ummat Islam itu penuh bid’ah dan sesat dan mereka ingin “memurnikannya”. Mereka tidak kenal bid’ah hasanah sebagaimana yang dipahami Imam Syafi’i, Umar bin Khothob RA, Abu Bakar RA, dan sebagainya.

Bagi Wahabi, qunut subuh dan usholli yang dilakukan Imam Syafi’i adalah bid’ah sesat. Padahal Imam Mazhab seperti Imam Hambali tak berpendapat semua bid’ah sesat. Itulah sebabnya Imam Hambali justru berguru pada Imam Syafi’i. Jelas yang dilakukan Imam Hambali yang konon jadi acuan Wahabi, tidak diikuti oleh kaum Wahabi.

Mereka tidak paham adanya bid’ah hasanah. Jadi mereka anggap sesat semua Muslim/Ulama yang melakukan bid’ah hasanah sebagai sesat, karena menurut mereka semua bid’ah itu sesat.
Jika menuduh orang sesat, apalagi tiap jum’at mengatakan itu padahal ternyata tidak benar, maka label sesat berbalik kepadanya.

“Barangsiapa memanggil seseorang dengan kafir atau mengatakan kepadanya “hai musuh Allah”, padahal tidak demikian halnya, melainkan panggilan atau perkataannya itu akan kembali kepada dirinya”.[HR Muslim]

Saat merasa benar dan menuduh Muslim lain sesat, akhirnya di antara mereka pun jadi saling berpecah-belah. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ.

Artinya:
Sebaik-baik manusia adalah pada masaku ini (yaitu masa para Sahabat), kemudian yang sesudahnya (masa Tabi’in), kemudian yang sesudahnya (masa Tabi’ut Tabi’in).”

Menurut Al-Qalsyani: “Salafush Shalih adalah generasi pertama dari ummat ini yang pemahaman ilmunya sangat dalam, yang mengikuti petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjaga Sunnahnya. Allah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallamdan menegak-kan agama-Nya...”

Syaikh Mahmud Ahmad Khafaji berkata di dalam kitabnya, Al-‘Aqiidatul Islamiyyah bainas Salafiyyah wal Mu’tazilah: “Penetapan istilah Salaf tidak cukup dengan hanya dibatasi waktu saja, bahkan harus sesuai dengan Al-Qur-an dan As-Sunnah menurut pemahaman Salafush Shalih (tentang ‘aqidah, manhaj, akhlaq dan suluk-pent.).

Barangsiapa yang pendapatnya sesuai dengan Al-Qur-an dan As-Sunnah mengenai ‘aqidah, hukum dan suluknya menurut pemahaman Salaf, maka ia disebut Salafi meskipun tempatnya jauh dan berbeda masanya. Sebaliknya, barangsiapa pendapatnya menyalahi Al-Qur-an dan As-Sunnah, maka ia bukan seorang Salafi meskipun ia hidup pada zaman Sahabat, Ta-bi’in dan Tabi’ut Tabi’in.

Penisbatan kata Salaf atau as-Salafiyyuun bukanlah termasuk perkara bid’ah, akan tetapi penisbatan ini adalah penisbatan yang syar’i karena menisbatkan diri kepada generasi pertama dari ummat ini, yaitu para Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in.

Ahlus Sunnah wal Jama’ah dikatakan juga as-Salafiyyuun karena mereka mengikuti manhaj Salafush Shalih dari Sahabat dan Tabi’ut Tabi’in. Kemudian setiap orang yang mengikuti jejak mereka serta berjalan berdasarkan manhaj mereka di sepanjang masa, mereka ini disebut Salafi, karena dinisbatkan kepada Salaf.

Baca: Perbedaan dan Pertikaian Antara Salafi, Wahabi dan Ikhwanul Muslimin

Salaf bukan kelompok atau golongan seperti yang difahami oleh sebagian orang, tetapi merupakan manhaj (sistem hidup dalam ber‘aqidah, beribadah, berhukum, berakhlak dan yang lainnya) yang wajib diikuti oleh setiap Muslim. Jadi, pengertian Salaf dinisbatkan kepada orang yang menjaga keselamatan ‘aqidah dan manhaj menurut apa yang dilaksanakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabat Radhiyallahu anhum sebelum terjadinya perselisihan dan perpecahan. [dutaislam/ka]

close
Banner iklan disini