Mengapa NKRI Bersyariah Ramai-ramai Ditolak Bahkan oleh Umat Islam?
Cari Berita

Advertisement

Loading...

Mengapa NKRI Bersyariah Ramai-ramai Ditolak Bahkan oleh Umat Islam?

Duta Islam #02
Jumat, 16 Agustus 2019
Loading...

FUI aksi NKRI Bersyariah. (Foto: istimewa)
Oleh Ahmad Muntaha AM

DutaIslam.Com - Karena umat Islam sadar bahwa sejarah telah mencatat klaim idiom-idiom Islam acapkali digunakan untuk kepentingan politik dan bahkan memakan korban yang tidak sedikit jumlahnya.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah menjadi korbannya gegara menerima tahkim antara pihaknya dengan pihak Sayyidina Muawiyah. Bahkan penuh ketidaksopanan khotbah beliau pun dipotong dengan teriakan demo: "Tidak ada hukum kecuali milik Allah. Tidak ada hukum kecuali milik Allah. Tidak ada hukum kecuali milik Allah."

Sayyidina Ali pun menjawab penuh ketegasan: "Kalimatu haqqin urida bihal bathil (Kalimat itu benar tapi yang dikehendaki dengannya adalah kebatilan)."

Dalam konteks dunia modern, politisasi agama telah memakan korban ribuan nyawa manusia. Bagaimana kita lihat Syiria, Libia, Irak dan negeri lainnya luluh lantak karena politisasi ayat-ayat suci.

Di Indonesia sendiri, ujaran kebencian, radikalisme dan terorisme dengan dalih ayat-ayat Tuhan telah memakan korban nyawa anak-anak bangsa.

Politisasi NKRI Syariat ini telah membuka ruang untuk mempermasalahkan dasar, bentuk, idiologi dan falsafah bangsa dan negara. Memberi panggung ideologi khilafah HTI dan anasir-anasir radikalisme lainnya. Karenanya wajar bila muncul penolakan dari berbagai kalangan, terlebih yang telah ikut bersusah payah berjuang memerdekakan, mempertahankan, merawat Negara Kesatuan Republik Indonesia, seperti NU, Muhammadiyah, TNI, Polri dan elemen bangsa lainnya.

Bagi NU sebagai organisasi ulama yang telah matang kiprahnya di negeri ini, politisasi idiom-idiom agama seperti NKRI Syariat ini harus tegas ditolak. Dalam keputusan Bahtsul Masail Alim Ulama NU 1-2 November 2014 poin 6 telah dirumuskan:

"Umat Islam tidak boleh terjebak dalam simbol-simbol dan formalitas nama yang tampaknya islami, tetapi wajib berkomitmen pada substansi segala sesuatu. Dalam adagium yang populer di kalangan para ulama dikatakan:

 العبرة بالجوهر لا بالمظهر.
“Yang menjadi pegangan pokok adalah substansi, bukan simbol atau penampakan lahiriah.”

 العبرة بالمسمى لا بالإسم (مرقاة المفاتح، ج ٨ ص ١٢٢).
“Yang menjadi pegangan pokok adalah sesuatu yang diberi nama, bukan nama itu sendiri".”

Bila demikian, masihkah kita tertipu dan terjebak dalam idiom-idiom agama yang sekilas terkesan agamis, islamis, tapi justru menimbulkan perpecahan, pertikaian dan rusaknya kehidupan berbangsa dan bernegara kita? [dutaislam.com/gg]

close
Banner iklan disini