Ironisnya Mayoritas Bermental Minoritas
Cari Berita

Advertisement

Ironisnya Mayoritas Bermental Minoritas

Duta Islam #02
Senin, 19 Agustus 2019

Tolak kekerasan atas nama agama. (Foto: istimewa)
Oleh Muh Kashai Ramadhani Pelupessy

DutaIslam.Com - “Kepada Tempo, Sugiarta bercerita bahwa semua perwakilan warga Bandut Lor, Bantul, Yogyakarta berkukuh menolak kehadiran gereja di daerah itu” (Pramono, koran Tempo, 18 Agustus 2019). Berita ini menarik sekaligus menggelitik. Menariknya ialah karena kasus seperti ini sudah terjadi berulang-ulang kali bagaikan film Korea yang ber-episode-episode itu. Ruang dan waktu kejadiannya berbeda tapi isi permasalahannya masih tetap sama.

Menggelitiknya ialah alasan penolakan IMB gereja karena gerejanya tidak berwujud rumah ibadat jika di lihat dari tampak depan dan jemaat gerejanya bukan penduduk setempat. Iya, memang betul, sebagaimana yang di beritakan, bahwa rumah pendeta (Pdt. Tigor Yunus Sitorus)-lah yang dijadikan tempat ibadah, sehingga terlihat bahwa gerejanya tidak berwujud rumah ibadat, tidak ada lonceng di depan rumah, dst. Usut punya usut, ternyata bukan itu alasan yang paling mendasar dari warga setempat menolak IMB gereja. Alasan mendasarnya ialah karena rasa “gelisah” dari penduduk setempat melihat, kok ramai jamaahnya Sitorus. Apakah ini terlihat rasional?

Kasus ini bisa kita indikasikan, sebenarnya sudah sejauhmana sih cara berpikir masyarakat muslim di daerah itu, gelisah karena takut “tersaingi”? Atau-kah karena merasa tidak aman “sebagai kaum mayoritas” dengan hadirnya jamaah Pdt. Sitorus itu? Tapi, kok bisa, kaum mayoritas merasa tidak aman? Padahal, mentalitas “tidak aman” ini harusnya muncul dari kaum minoritas. Apakah ini berarti bahwa kondisi masyarakatnya memang mayoritas tapi sebenarnya bermental minoritas?

Pada kasus ini, juga sangat tercium aroma “salafi-puritan” dalam struktur berpikir masyarakat setempat. Lantas, darimana masyarakat terpengaruh ajaran “salafi-puritan” ini. Ada dua bentuk gerakan “salafi-puritan” yaitu: pertama, mereka mengambil jalur dakwah melalui penguasaan mimbar-mimbar masjid untuk menyuntikkan ide “salafi-puritan”, dan kedua melalui jalur partai politik. Kedua bentuk gerakan ini sudah satu paket. Indikasi aroma “salafi-puritan” ini bisa kita ketahui melalui persepsi politik masyarakatnya, yakni kepada partai mana yang mereka pilih, dan siapa yang menjadi wakil mereka di kantor legislatif daerah. Artinya, penolakan IMB gereja ini pasti ada faktor “x” yang sudah bermain sejak lama. Alasan bermainnya cukup beragam, mungkin pertama takut massa politiknya berpindah haluan atau kedua takut masyarakat muslimnya berpindah agama. Untuk alasan yang kedua yakni takut berpindah agama ini saya pikir sangat lebai.

Sekali lagi, dalam kasus penolakan IMB gereja ini, karena “gelisah” melihat jamaah pendeta Sitorus, sungguh sangat-sangat menggelitik. Karena penolakan itu tidak berdasar sama sekali, irasional, dan terlalu mendramatisir keadaan. Meminjam perkataan gus Ulil, “sebagai seorang Muslim, terus terang saya tidak bisa menyembunyikan rasa geli tetapi juga sekaligus jengkel...” (Ulil, islamlib.com). Kata-kata itulah yang paling tepat menggambarkan kasus penolakan IMB gereja ini.

Apa yang membuat masyarakat gelisah alih-alih merasa tidak aman dengan hadirnya jamaah Pdt. Sitorus? Kalau penolakannya karena rumah Pdt. Sitorus tidak berbentuk rumah ibadah, lantas apa bedanya dengan mushollah (bukan masjid) yang berbentuk rumah warga? Kenapa tidak di tolak IMB-nya? Toh mushollah itu juga rumah ibadah? (Cttn: Saya pernah menemukan mushollah jenis ini). Hal ini kalau di teruskan akan mengarahkan kita pada satu argumen, bahwa sesungguhnya penolakan IMB gereja itu sangat tidak rasional.

Selanjutnya, apa yang membuat masyarakat muslim merasa tidak aman saat mengetahui kalau jamaah Pdt. Sitorus ini banyak? Secara logis, bahwa jika rasa tidak aman ini muncul dari kalangan minoritas sih menjadi hal yang wajar sehingga patut di lindungi, tapi  jika rasa tidak aman ini muncul dari kalangan mayoritas menjadi suatu hal yang sangat aneh. Kenapa mayoritasnya merasa tidak aman? Apakah hal ini berarti mayoritasnya bermental minoritas?

Jika kita perhatikan kasus penolakan IMB gereja ini, menunjukkan bahwa mayoritasnya bermental minoritas yang cenderung agresif, reaktif, egois, dan ingin menang sendiri. Wujudnya ialah kaku-tekstualis, serta kebenaran di anggap bersifat tunggal. Sikap kaku-tekstualisnya cenderung fokus pada hal-hal yang simbolik, atau menurut Soekarno “terlalu fokus pada abu-nya bukan api-nya”. Contoh dari tipe masyarakat ini sangat terlihat pada zaman berkuasanya ideologi Nazi Hitler, kalau kita perhatikan waktu itu, mayoritas di Jerman adalah Nazi tapi bermental minoritas yang sangat menindas. Tipe masyarakat ini tidak akan bertahan lama.

Berbeda halnya dengan mayoritas bermental “mayoritas-murni”, cenderung inklusif, progresif, toleran, dan moderat. Wujudnya ialah kontekstualistis, dan kebenaran di pandang milik semuanya. Cenderung tidak melihat hal-hal yang simbolik tapi esensi. Contohnya bisa kita lihat di Barat (Amerika). Tipe masyarakat ini mengingatkan saya pada tulisan gus Ulil Abshar Abdalla tentang “Menjadi Muslim Amerika” terbit tahun 2006 di islamlib.com. Tulisan gus Ulil itu menjelaskan bagaimana masyarakat Amerika, yang mayoritasnya Kristen, berhasil menciptakan nuansa saling menerima perbedaan dalam payung kebebasan yang sama, yakni beribadah sesuai keyakinan masing-masing. Sepertinya, gus Ulil menginginkan masyarakat Muslim seperti yang ada di Amerika. Kalau memang warga Amerika diperlihatkan gus Ulil sangat beradab seperti itu, maka saya teringat dengan pernyataan Hoffman yaitu, bahwa “kegemilangan Islam tidak muncul dari timur melainkan dari barat”.

Artinya, sebagai mayoritas, umat muslim harus bermental sebagaimana “mayoritas-murni” itu sendiri. Yakni bersikap toleran serta menghargai kebebasan beribadah masing-masing agama. Inilah wujud masyarakat yang “dewasa” sebagaimana yang pernah di contohkan Nabi Muhammad ketika membangun masyarakat Madinah, yang dalam praktiknya semua agama di lindungi oleh Nabi. Sehingga Madinah waktu itu bergelar “masyarakat tamaddun” (berperadaban). Pertanyaannya ialah apakah kita bisa seperti itu? Kalau memang kita ingin mengikuti sunnah Nabi, dan menolak segala bid'ah. Jika kita masih bersikap seperti mayoritas yang bermental minoritas, maka sama halnya kita telah melakukan bid'ah dalam skala yang paling luas. Wallahua’lam. [dutaislam.com/gg]

Muh Kashai Ramadhani Pelupessy, Mahasiswa S2 Psikologi UNY.

close
Banner iklan disini