Ini Sebaiknya yang Dilakukan FPI daripada Sibuk Ngurusi Khilafah
Cari Berita

Advertisement

Ini Sebaiknya yang Dilakukan FPI daripada Sibuk Ngurusi Khilafah

Duta Islam #03
Kamis, 01 Agustus 2019

Diskusi FPI Mata Najwa, Selasa (31/07/2019) malam. Foto:dutaislam.com.
DutaIslam.Com - Dalam program siaran televisi Mata Najwa bertajuk "FPI: Simalakama Ormas", Selasa (31/07/2019) malam, terungkap bahwa Front Pembela Islam (FPI) memang punya misi menegakkan khilafah di Indonesia. Namun Kabid Penegakan Khilafah FPI Awit Mashuri membantah bahwa khilafah yang diinginkan FPI anti Pancasila.

Khilafah FPI kata Awit hanya ingin menerapkan syariat Islam secara kaffah. Dalam AD/ART FPI yang dibacakan Presenter Najwa Shihab dan sempat disampaikan Imam FPI Habib Rizieq, proyek khilafah FPI memiliki 10 langkah (baca: 10 Langkah FPI Ingin Tegakkan Khilafah).

Menanggapi itu, Ketua PBNU Kiai Marsudi Syuhud yang juga diundang dalam diskusi tersebut mengatakan bahwa negara Indonesia adalah hasil dari ijtihad para ulama dan kiai. FPI sendiri tinggal mengisi saja dan masuk pada sistem yang sudah ada. Tidak perlu lagi merubah atau mengganti sistem.

"Inilah ijtihadnya para ulama, kiai-kiai Indoensia. Kalau menurut saya, FPI tinggal ngisi aja. Ngisi apa yang sudah disepakati bersama," ujar Kiai Marsudi.

"Kesepatan membentuk negara inilah oleh para kiai disebut muahada wathoniyah, kesepakatan bersama. Nah siapa saja yang ingin membangun negara, tadi kan ingin membangun nih? ya tinggal masuk sistem aja, tinggal bangun," sambungnya.

Pembangunan itu, dicontohkan Kiai Marsudi, dalam aspek ubudiyah atau muamalah. Di Indonesia dua aspek ini belum selesai digarap dan masih banyak orang yang butuh ilmu tentang ubudiyah dan muamalah. Kiai Marsudi menyarankan FPI masuk ke lini-lini ini.

"Masuklah ke lini-lini ini. Coba lihat berapa banyak organisasi-organisasi Islam yang lagir sebelum berdirinya Indonesia? faktanya sampai sekarang masih eksis. Jadi nggak usah ganti sistem, betulin saja, perbaikin saja inilah jihad kita," tegas Kiai Marsudi.

Hasil Ijtihad Ulama
Sebelumnya Kiai Marsudi menegaskan pembentukan sejumlah negara di dunia berdasakan hasil ijtihad ulama.

"Negara Mesir dibangun oleh masyayikh di Mesir, ijtihad, mencari bentuk sebuah negara. Ketemulah model negara Mesir. Begitu pula saudi, kiai-kiainya, para masyayikh masyayikhnya, ulama-ulamanya ijtihad, ketemulah model negara saudi. Malaysia, Brunai, ijtihad, ketemu model negara Malaysia dan Brunai," ujar Kiai Marsudi.

Begitu pula dengan Indonesia. Menurut Kiai Marsudi, kelahiran Nahdlatul Ulama (NU) antara lain untuk memikirkan negara ketika itu. Karena dua tahun sebelum NU yang lahir pada tahun 1926, tahun 1924 adalah fase akhir kekhalifahan Turki Utsmani, sehingga para ulama berijtihad mencari bentuk negara.

"Indonesia, kiai-kiainya ijtihad, NU lahir, antara lain untuk memikirkan membuat negara ketika itu. Memikirkan, ijtihad untuk sebuah negara, karena 1924 ketika itu Turki Utsmani runtuh. Kemudian mereka mencari bentuk, ijtihad, ketemulah negara model Indonesia yang model khilafahnya Negara Kesatuan Republik Indonesia," papar Kiai Marsdi.

Meskipun begitu, kata Kiai Masudi, bukan berarti hasil ijtihad para ulama tersebut tidak menghadapi ujian dan tantangan. Di sisi lain, ada satu kelompok yang menginginkan model lain. Misalnya Taqiyudin An-Nabhani yang menginginkan khilafah sebagai buah dari hasil pemikirannya. Yang perlu dilihat adalah bagaimana hasil pemikiran tersebut.

"Taqiyuddin An-Nabhani seorang mufakkir, al mufakkir huwa soniul afkar, seorang mufakkir, pembuat ide-ide. Ide dalam hal ini membuat bentuk negara. Beliau membuat suatu ide-ide yang kemudian dipasarkan, tapi faktanya di tempat dia lahirkan ide ini (ditolak), lalu dibawa ke Mesir, di bawa ke Indonesia. Faktanya yang sudah nyata ijtihadnya adalah ijtihad kiai dan ulama Indonesia," jelas Kiai Marsudi. [dutaislam.com/pin]




close
Banner iklan disini