Hoax Ustadz Abdul Somad: Alkohol Dibuat dari Babi
Cari Berita

Advertisement

Loading...

Hoax Ustadz Abdul Somad: Alkohol Dibuat dari Babi

Duta Islam #02
Kamis, 22 Agustus 2019
Loading...

Tangkapan layar ketika UAS menjelaskan tentang alkohol.
DutaIslam.Com - Grup Facebook Forum Anti Fitnah, Hasut, dan Hoax mengoreksi pernyataan Ustadz Abdul Somad (UAS) yang menyebutkan Alkohol dibuat dari Babi. Hal tersebut dibeberkan oleh akun Eko Juniarto, Kamis (22/08/2019).

"UAS saat menjawab pertanyaan mengklaim bahwa alkohol ada dua jenis, satu dibuat dari buah dan satunya lagi dibuat dari babi untuk dipergunakan dalam parfum," tulis Eko mengawali analisisnya.

Eko kemudian menyantumkan sumber video UAS, narasi UAS, penjelasan, hingga referensi yang digunakannya.

"Alkohol terbagi dua. Alkohol dari buah, kalau diperas anggur, dimasukkan ke dalam botol, ditutup selama seminggu, terjadi fermentasi, muncul barang baru di dalam, disebut dengan alkohol, dari anggur. Yang satu lagi dari babi. Yang masuk ke dalam parfum itu apakah alkohol dari anggur atau dari babi? Alkohol dari babi. Alkohol nabati, bukan hewani. Alkohol hewani, dari babi. Kenapa bukan dari anggur? Karena yang dari anggur itu mahal. Maka yang murah itu dari babi, karena babi anaknya banyak. Kalau kambing, anaknya dua, kalau babi, anaknya tiga belas," demikian transkip video pernyataan UAS yang ditulis Eko.

Adapun penjelasannya, sebagai berikut:

Alkohol yang dipergunakan dalam parfum adalah etanol, yang aman untuk dipergunakan di kulit, dan merupakan hasil fermentasi dari zat gula, karbohidrat atau starch, yang banyak didapatkan pada tanaman, atau merupakan hasil sintesis dengan proses hidrasi langsung dari etilena atau alkana lain dari proses cracking dari minyak bumi yang didistilasi, jadi tidak ada yang berasal dari babi. 

Alkohol yang diklaim berasal dari binatang antara lain adalah mead yang dibuat dari madu, namun inipun sebenarnya adalah nabati, karena dihasilkan dari nektar yang dikumpulkan oleh lebah menjadi madu, bukan berasal dari lebahnya sendiri. Lalu ada kumis, minuman beralkohol yang dibuat dari fermentasi susu kuda.

Pembuatan parfum sendiri ada proses yang dinamakan masceration/maceration, yaitu proses untuk menyarikan minyak parfum dari bunga, dengan cara mencampurkan bunga dengan lemak babi dan sapi yang sangat murni, dipanaskan mendekati titik cair, diaduk selama 24 jam sampai lemak menjadi harum. Lemak lalu dibilas dengan alkohol, yang akan menyerap keharuman tadi dari lemak. Alkohol lalu didistilasi untuk mendapatkan sari murninya. Proses maceration yang menggunakan lemak babi ini yang tampaknya keliru disampaikan. 

Proses maceration itu sendiri hanyalah salah satu dari 4 cara untuk mengekstraksi wewangian dari bunga, cara lainnya adalah "enfleurage" yang mirip maceration tapi tanpa memanaskan lemak, lalu distilasi menggunakan uap bertekanan, dan yang terakhir adalah melarutkan bagian bunga yang harum dalam pelarut seperti minyak bumi, yang nanti diuapkan, menyisakan residu lunak yang dikenakan alkohol dan didistilasi untuk mendapatkan sari murninya. Dari empat cara tersebut, hanya cara yang menggunakan uap bertekanan yang tidak menggunakan alkohol. Sementara baik maceration maupun enfleurage keduanya menggunakan lemak dari binatang. 

Alkohol dipergunakan sebagai pelarut parfum agar volumenya bisa bertambah, dan dijual berdasarkan konsentrasi parfumnya, makin tinggi konsentrasinya makin bertahan lama harumnya, mulai dari Parfum yang bisa bertahan 8 jam, sampai dengan Eau Fraiche yang bertahan kurang dari 2 jam:
Parfum 20-30%
Eau de Parfum 15-20%
Eau de Toilette 5-15%
Eau de Cologne 2-4%
Eau Fraiche 1-3%
=====

Dari data-data tersebut, Eko menyimpulkan pernyataan UAS adalah salah, alias hoax. [dutaislam.com/gg]

close
Banner iklan disini