Gus Mus: Ustadz dan Ulama Hasil Pabrikasi
Cari Berita

Advertisement

Gus Mus: Ustadz dan Ulama Hasil Pabrikasi

Duta Islam #07
Sabtu, 10 Agustus 2019

Fatwa mui
Fatwa mui. Foto; istimewa
DutaIslam.Com - Kiai Haji Ahmad Mustofa Bisri ibarat oasis di tengah panasnya intoleransi beragama di negeri ini. Wejangan tentang wajah Islam yang moderat sekaligus bersahabat mengisi ruang yang ditinggalkan mantan presiden Abdurahman Wahid.

Mantan Rais ‘Am Nahdlatul Ulama itu memaparkan berbagai hal, dari gelombang bahkan hoax, kritiknya terhadap Majelis Ulama Indonesia, hingga krisis toleransi. “Orang-orang moderat harus tampil,” ucapnya.

Beberapa kali tanya-jawab tertunda karena sang kiai menerima tamu yang datang silih berganti. Dengan sabar, Gus Mus menemui para tamunya. Sementara itu, ayat-ayat suci tak putus berkumandang dari ratusan santri di aula pesantren yang lebih dikenal dengan Pondok Leteh itu.

Mengapa masyarakat Indonesia semakin tidak toleran?
Kita sekian lama hidup terikat, kemudian bebas secara tiba-tiba. Booming terjadi karena peran kebebasan itu dibuka mendadak. Ibaratnya, kita dulu berada di dalam sangkar. Saat kandang terbuka, burung itu malah terbang menabrak-nabrak tak keruan.

Baca: Gus Mus Kecam Pendakwah yang Main Hakim Sendiri

Apakah masyarakat tidak siap berdemokrasi?
Selama ini rakyat Indonesia tak diajari menghargai perbedaan. Pada era Orde Baru, semua petani harus menanam satu jenis padi, lalu mengecat semua rumah dengan warna kuning.
Kebiasaan ini membuat orang tak bisa berbeda, sehingga berbeda sedikit saja langsung ngamuk. Padahal perbedaan itu syarat mutlak berdemokrasi.

Mereka yang dulu punya keinginan-keinginan tertentu tapi tidak muncul di permukaan, sekarang muncul dengan seenaknya. Mau ngomong apa saja dihalalkan demokrasi, sedangkan masyarakat belum terbiasa berbeda pendapat.

Sementara itu, ada orang yang menggunakan demokrasi untuk kepentingan melampiaskan apa yang diinginkan. Mereka bisa berdalih, “ini demokrasi, enggak bisa dilarang-larang.”
Dengan dalih yang sama, kelompok Islam radikal berkembang. Bagaimana mengatasinya?
Orang-orang moderat harus tampil. Jangan diam saja. Pers harus menampilkan tokoh berideologi moderat, jangan cuman memikirkan duit  dan rating. Media massa jangan pula menampilkan “aktor ustad”.

Sekarang banyak ustad dan ulama bikinan. Rakyat awam manthuk-manthuk(mengangguk-ngangguk) saja. Orang tidak pernah melihat rekam jejaknya, dia belajar agama dari kiai mana, dimana mondok-nya. Orang hanya melihat tampilan dan citranya. Bila ustad semacam itu yang diberi panggung, pikiran orang akan diwarnai kata-katanya. Pers era sekarang seperti penyair di zaman jahiliyah, pembentuk opini.

Dulu, Ahmad Shiddiq, Rais ‘Am Pengurus Besar NU 1984-1991, menyatakan wartawan  termasuk zuama (pemimpin), karena mereka penentu opini. Faktanya, kekuatan kelompok Islam berhasil mendesak kasus dugaan penistaan agama Basuki Tjahaja Purnama waktu itu?

Unsur penistaannya di mana? Jika tindak Basuki dianggap penistaan agama, penganut Islam akan banyak yang kena, sebab orang Islam juga banyak sekali yang menistakan agama lain.
Mereka bisa dituntut balik dan bisa menimbulkan aksi saling tuntut. Jadi harus dijelaskan letak unsur penistaannya dan jangan mau dibodohi. Saya curiga, siapa yang pertama kali mencetuskan penistaan agama.


Fatwa MUI


Apakah masifnya unjuk rasa pada 4 November dan 2 Desember lalu belum cukup menegaskan kemarahan umat Islam karena kasus itu?
Orang sekian banyak itu ikut-ikutan ke Jakarta untuk apa? Mereka tak tahu urusan, kok ikut datang saja. Katanya mencari ganjaran, merasa jihad fisabilillah, membela agama. Membela agama dari apa? Engga jelas.

Apakah unjuk rasa tersebut tak jelas tujuannya?
Massa itu sudah marah-marah, tapi belum tahu tentang penistaan agama. Ada yang sengaja mengatur itu. Saya ibaratkan ada santri di-setting menjadi kiai. Lalu kawan-kawannya menciumi tangannya dan diikuti jemaah lain. Setelah mencium tangan, jemaah baru bertanya siapa sosok yang dihormati tadi.
Contoh lain, ada orang yang berteriak copet di pasar. Lalu, tanpa tabayyun (mencari tahu kebenaran), yang lain langsung ikut menghajar tertuduh. Mereka tak berpikir bahwa Ahok sedang mencalonkan diri menjadi gubernur dan butuh suara dari warga yang mayoritas Islam. Kok, malah menjelek-jelekkan Islam?

Mengapa belakangan ini negara menjadi gaduh, terutama menyangkut isu agama?
Ada yang mau mengacaukan. Kita tak paham sedang diadu domba. Kita harus menolak apa pun alasannya, jangan ditoleransi karena sangat berbahaya. Kalau yang membenturkan adalah orang asing, saya bisa memaklumi. Tapi, kalau sesama orang Indonesia yang membenturkan, bagi saya musykil sekali. Saya punya pengalaman ketika foto saya dipasang berhadap-hadapan dengan Rizieq Syihab. Enggak imbang karena jemaah saya lebih banyak, jumlahnya jutaan orang, ha…ha…

Jadi pengadu domba itu tidak paham sejarah kemajemukan Indonesia?
Pendiri bangsa ini dengan susah-payah melakukan rembukan yang intens agar masyarakat yang beragam ini bisa hidup dengan baik. Tapi orang yang datang belakangan tidak mempelajari sejarah, lalu merasa seolah-olah bukan orang Indonesia. Maka, selalu saya katakan kita ini orang Indonesia yang beragama Islam, bukan orang Islam yang kebetulan di Indonesia. Banyak kiai pesantren yang tak tahu arti nasionalisme tapi mereka mencintai Indonesia karena alasan sederhana: Indonesia rumah kita.

Di sinilah kita hidup, sujud, dan akan dikebumikan. Seperti perjuangan Mbah Hasyim Asy’ari: Indonesia diperjuangkan satu tarikan napas dengan Islam. Orang yang menghancurkana rumahnya sendiri itu gendeng, nggak bisa diterima nalar. Jika terus dibiarkan, apakah konflik di Indonesia bisa meledak  seperti di Timur Tengah?

Konflik di Timur Tengah itu karena materi. Bila Timur Tengah tak ada minyak, tak akan bergejolak. Irak, Libya, Suriah sudah hancur karena mereka tak waspada. Nah, Indonesia tak hanya punya minyak, tapi ada emas dan macam-macam. Kalau kita tidak waspada, orang lain yang akan menguras kekayaan kita dan perlahan hancur.

Beberapa kelompok mengklaim tindak kekerasan tersebut bagian dari dakwah. Bagaimana model dakwah yang tepat?
Dakwah itu artinya mengajak. Beda dengan amar makruf yang artinya perintah, nahi mungkar yang bermakna melarang. Tapi, saat ini, ketiganya selalu dicampur-adukkan. Kalau dalam dakwah diperlukan debat atau bantahan, pakailah cara yang lebih baik dan argumen yang bagus.

Anda kerap mengkritik Majelis Ulama Indonesia. Apa alasannya?
Orang sudah lupa pada sejarah MUI. Dulu Presiden Soeharto ingin mengontrol organisasi dengan meleburnya menjadi satu. Kepemudaan disatukan menjadi Komite Nasional Pemuda Indonesaia, wartawan menjadi Persatuan Wartawan Indonesia, partai-partai Islam dilebur menjadi Partai Persatuan Pembangunan. Organisasi keagamaan Islam disatukan menjadi MUI. Tapi, dalam perkembangannya, MUI menyaingi kementerian Agama. Mereka berhak membuat label halal yang jadi domain pemerintah. MUI ini bagian dari pemerintah atau bukan, kok bisa bertindak seperti itu?

Apa akar permasalahan di MUI?
Bagaimana sistem rekrutmen pengurus? Siapa yang bisa memasukkan seseorang menjadi pengurus? Bila majelisnya adalah ulama, mengapa yang melantik mereka adalah umara (pemerintah)? Apakah umara lebih tinggi dibanding ulama? Statusnya tidak jelas.
Bila saya berkata demikian, orang bisa marah. Alasannya, masyarakat terlanjur menganggap MUI sebagai wakil agama Islam di Indonesia. Sementera itu, di Google tertulis MUI sebagai lembaga swadaya masyarakat.

Bagaimana Anda memandang pengurus MUI sekarang?
Banyak orang yang  pensiun lalu masuk MUI. Malah sekarang ada orang-orang  baru, yang makin tidak jelas. Orang mau jadi pegawai saja harus punya ijazah, apalagi menjadi anggota MUI, yang memberi fatwa ke rakyat Indonesia. Jika ingin berdiri sebagai lembaga fatwa, harus diatur betul siapa saja yang boleh masuk MUI. Kok, tak dilihat dulu calon ini sekolah di mana, paham Al-Qur’an atau tidak, paham ilmu tafsir dan hadis atau tidak.

Saat ini kita menghadapi maraknya hoax. Bagaimana cara membendungnya?
Kita harus hati-hati menyerap informasi, jangan asal membaginya. Kita perlu tabayyun, mengkonfirmasi dan menelusuri rekam jejak sumber informasi. Kalau tidak jelas siapa sumbernya, buang saja. Pemerintah juga harus tegas dan menganggap hoax sebagai masalah serius, khususnya isu yang membuat gaduh. Di lain sisi, kita bisa mendapatkan manfaat luar biasa dari media sosial bila kita pandai memanfaatkannya.

Termasuk berdakwa lewat media sosial?
Ya. Dakwah di medsos bisa menjadi pembanding ajakan yang akhlakul karimah, menebarkan Ukhuwah Islamiyah, wathoniah, dan basyariah-persaudaraan Islam, bangsa, dan umat manusia. Akun yang baik bisa menyaingi pesan-pesan kemungkaran, yang suka menebarkan fitnah dan provokasi.

Baca: Ini Cara Maki-Maki ke Gus Mus Sesuai Saran Beliau

Apakah para kiai dan pondok pesantren siap berdakwah di dunia maya?
Saya lihat kalangan pesantren sudah bergerak. Sekarang banyak website dari berbagai pondok. Banyak tokoh persantren aktif di media sosial, seperti Gus Solah (Salahuddin Wahid) di Jombang dan Habib Lutfi bin Yahya di Pekalongan. Cuma, memang masih kalah dibanding orang-orang  di kota-kota yang lebih dulu menggunakan internet. Pesantren itu umumnya di desa, yang dulu memencilkan diri dari Belanda. Karena itu, mereka harus ngebut di era medsos.

Soal akhlak. Tak seperti dulu yang bernada kritik sosial. Saya hanya memberikan ungkapan-ungkapan untuk  mengingatkan orang. Tapi sebetulnya kritik sosial itu bermula dari akhlak juga. [dutaislam/ka]

close
Banner iklan disini