Gus Dur Diam Seribu Basa
Cari Berita

Advertisement

Gus Dur Diam Seribu Basa

Duta Islam #02
Minggu, 04 Agustus 2019

Gus Dur. (Foto: istimewa)
Oleh KH Husein Muhammad

DutaIslam.Com - Suatu hari yang murung aku hadir dalam sebuah rapat penting sebagai salah seorang anggota "dewan etik" partai. Rapat ini membahas rencana pemecatan seorang pejabat penting partai politik. Ini gegara dia melakukan tindakan yang dianggap indispliner yang bisa menciptakan citra buruk partai. Isu indisipliner sudah lama berembus. Semula suara embusan itu sayup-sayup dan hanya dalam bisik-bisik tetangga. Tetapi lambat laun bertambah kencang dan bisik-bisik itu sudah sampai sekompleks. Untung tidak sampai ke "kampung" sebelah.

Gus Dur sebagai pimpinan partai mencium bau menyengat ini. Beliau lalu bergegas mengundang semua elit partai dan memimpin rapat itu. Sesudah membuka rapat beliau menyampaikan maksudnya, hendak meminta "yang bersangkutan" menyatakan mengundurkan diri, atau kalau tidak akan memecatnya dengan tidak hormat. Para peserta rapat mendengar dengan seksama dengan wajah tegang dan dada berdegup-degup. Suara Gus Dur acap meninggi dan nyaris meledak.

Nah, giliran peserta rapat diberikan ruang menanggapi rencana pemecatan itu, aku "ngacung". Lalu aku menyampaikan hadits Nabi :

لان يخطىء الامام فى العفو خير من ان يخطىء فى العقوبة

"Seorang pemimpin keliru dalam memaafkan adalah lebih baik daripada keliru dalam menghukum".

Usai bicara itu, beberapa teman rapat mengedip-ngedipkan matanya dengan bibir merekah. Aku menatap Gus Dur, dalam diam seribu basa. Dan mengusulkan diadakannya pemungutan suara secara rahasia. Hasilnya?. "Pemecatan tak terjadi".

Aku lagi-lagi menyimpan kekaguman kepada beliau. Alfatihah.

Sudah lama sekali aku menyimpan saja kenangan ini. Dulu, di rumah di kamarnya Gus Dur bilang : "kang Husein, sampeyan bukan politisi". [dutaislam.com/gg]

Usai salat Subuh, di Bandara 3 menuju Lombok. 04.08.19.

Source: FB Husein Muhammad

close
Banner iklan disini