Belajar dari Krisis Sudan: Waspadai Kelompok Radikal yang Menyusup di Berbagai Lini
Cari Berita

Advertisement

Belajar dari Krisis Sudan: Waspadai Kelompok Radikal yang Menyusup di Berbagai Lini

Duta Islam #02
Sabtu, 24 Agustus 2019

Demonstrasi berlarut-larut di Sudan, pasca-kudeta Presiden Omar al-Bashir (AP PHOTO).
Oleh Sumanto Al Qurtuby

DutaIslam.Com - Sudan (nama formalnya "Republik Sudan" atau "jumhuriyyah al-sudan"), yang diambil dari kalimat Arab "bilad al-sudan" atau "negeri orang-orang kulit hitam", adalah salah satu negara termiskin di dunia dengan tingkat atau kualitas ekonomi, kesehatan, dan pendidikan yang sangat buruk.

Penduduknya banyak yang mati kelaparan karena malnutrisi, selain serbuan penyakit yang ganas. Di negeri yang berada di kawasan Afrika timur-utara ini dikenal sebagai sarang penyakit malaria, campak dan tuberkolosis yang sangat akut. Selain mati karena kelaparan dan penyakit, juga lantaran kekerasan.

Memang betul, selain negeri miskin dan penyakitan, Sudan juga dikenal sebagai negeri konflik dan perang yang merenggut banyak nyawa manusia. Sejak zaman bahula, Sudan menjadi area perang berbagai suku-bangsa (dan agama): Nubia, Arab, Turki, Inggris, dan etnik-etnik Afrika, dan berbagai rezim silih-berganti menguasai Sudan: Kush, Nubia, Sennar, Turkiyah, Mahdi, Anglo-Mesir, dlsb.

Meskipun secara resmi merdeka tahun 1956, perang antarfaksi tak kunjung usai. Selama kurang lebih 17 tahun, sejak kemerdekaan dideklarasikan, hingga tahun 1972, Sudan dilanda "Perang Sipil" yang maha dahsyat. Perjanjian Addis Ababa diteken pada tahun 1972 tetapi hanya berumur sementara.

Perang Sipil kembali meletus pada awal 1980an hingga 2005 saat Comprehensive Peace Agreement ditandatangani. Itupun tidak menjamin konflik dan kekerasan berakhir hingga Sudan Selatan memisahkan diri pada 2011. Pisahnya Sudan Selatan, lagi-lagi tidak menjamin perdamaian terwujud. Kekerasan terus berkecamuk hingga kini.

Konflik, kekerasan dan perang itu disebabkan oleh berbagai faktor. Berbagai kelompok ekstrim berbasis etnis, agama, dan politik menjadi kontributor besar dalam hal ini. Sudan memang negeri yang sangat plural, baik dari segi etnis, agama maupun faksi politik yang sering memicu kekerasan dan perang!

Berbagai kelompok etnis dan suku besar tinggal disini: Arab, Nubia, Beja, Fur, Nuba, Dinka dlsb. Ini belum termasuk ratusan sub-suku dan klan. Kelompok Arab sendiri terpecah menjadi sejumlah faksi besar seperti Jalayin dan Juhainah yang masing juga terpecah lagi menjadi sub-sub klan yang kompleks.

Kelompok agama / kepercayaan juga banyak di Sudan: Salafi, Islamis, Sufi, animis, Kristen, dlsb. Begitu pula partai politik: dari yang relijiyes sampai yang sekuler ada.

Karena masing-masing kelompok etnis-agama-politik ingin menjadi penguasa Sudan, maka mereka silih-berganti rebutan kekuasaan dan mengkudeta pemerintah. Akibatnya, konstitusi dan undang-undang bolak-balik diganti, tergantung siapa yang berkuasa. Sejak 1983, rezim Ja'far Muhammad Nimeri memberlakukan Syariat Islam di Sudan yang kembali memicu Perang Sipil berkepanjangan.

Menarik untuk dicatat, Nimeri sebetulnya seorang tentara sekuler yang awalnya pendukung Sosialisme dan Pan-Arabisme. Ia mengkudeta pemerintah pada tahun 1969 dan menjadi presiden sejak itu. Tapi di kemudian hari ia terpaksa "hijrah" mendukung Islamisme dan menjadi penyokong kelompok Islamis radikal yang berafiliasi ke Ikhwanul Muslimin. Selama berpuluh-puluh tahun faksi Islamis radikal berkuasa di Sudan hingga tumbang tahun lalu.

Kasus Sudan menjadi pengingat Bangsa Indonesia agar hati-hati dan strategis dalam mengelola kemajemukan, dan hati-hati terhadap kelompok radikal garis keras yang menyusup ke berbagai lini. Jika salah urus dan tidak hati-hati, bukan hal yang mustahil apabila Indonesia ke depan bisa bernasib seperti Sudan yang "mukanya" bopeng berantakan laksana bemo tertabrak metromini.

Source: FB Sumanto Al Qurtuby dengan judul "Prahara Sudan"

close
Banner iklan disini