Apakah Merayakan Tahun Baru Masehi Termasuk Budaya Kafir ?
Cari Berita

Advertisement

Loading...

Apakah Merayakan Tahun Baru Masehi Termasuk Budaya Kafir ?

Duta Islam #07
Senin, 12 Agustus 2019
Loading...

budaya tahun baru masehi
Budaya tahun baru masehi. Foto: istimewa
Oleh : M. Imaduddin

DutaIslam.Com - Pertanyaan di atas dilontarkan secara gamang oleh beberapa santri-santri PPMU MAN Yogya 3. Mereka mungkin saja mendapatkan beberapa tausiyah maupun ceramah dari ustad-ustad maupun tokoh agama lain (selain saya) setelah sekembalinya mereka dari liburan natal dan tahun baru dari sekolah.

Santri-santri tersebut selain bersikap apatis terhadap hingar-bingar perayaan tahun baru juga enggan untuk turut campur, disebabkan opini mereka bahwa perayaan tahun baru tersebut bukanlah termasuk dari tradisi Islam. Dari opini seperti ini, mereka menarik diri dan menunjukkan sikap yang eksklusif dalam menyikapi setiap moment nasional tertentu.

Perlu disadari bahwa semangat yang dibangun oleh para santri-santri tersebut dilandasi kecintaan pada agama mereka sendiri, yaitu Islam. Saya sangat menyadarinya. Akan tetapi, dibalik semangat Islam tersebut perlu ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan. Saya melihat bahwa para santri-santri ini masih seumuran anak baru gede (baca: ABG), mereka masih “unyu-unyu”, remaja yang lucu nan polos. Mereka mempunyai semangat yang tinggi dalam mencari jati-diri, akan tetapi masih belum dilandasi dengan keilmuan agama yang matang.

Baca: Jika Pancasila Disebut Tak Islami, Anda Bisa Membantah Dengan Dalil-Dalil Ini

Saya senang dengan hal ini, tetapi juga sekaligus miris. Ini juga memicu kekhawatiran saya sendiri, apabila mereka dengan mudahnya, bisa saja dipengaruhi dan dibujuk untuk masuk ke dalam organisasi-organisasi Islam yang radikal.

Untuk menjawab pertanyaan diatas saya balik bertanya kepada para santri tersebut, selama ini sistem penanggalan sekolah kalian berdasarkan apakah?
Mereka serentak dan sepakat menjawab “Masehi”.
Kemudian saya bertanya lagi, selama ini sistem penanggalan negara kalian berdasarkan apakah? Dan jawabannya sama seperti pertanyaan yang pertama.

Dari konstruksi pertanyaan dan jawaban diatas apakah bisa disimpulkan bahwa sekolah yang menggunakan penanggalan masehi yang non Muslim itu juga disebut sekolah kafir?
Apakah negara Indonesia yang tidak menggunakan kalender hijriyah juga bisa disebut negara Indonesia kafir?

Yang perlu anda ketahui ( jika anda melek berita Internasional ) bahkan negara seperti Arab Saudi sudah beralih sistem penanggalan dari hijriyah ke masehi, dikarenakan beberapa keuntungan dalam upaya kelancaran kepentingan hubungan Internasional. Jika kita pertanyakan lebih jauh lagi, selama ini benda-benda yang kita punyai, seperti jam tangan, handphone, laptop, sepeda motor, mobil buatan siapa? Kita selalu bersikap hipokrit terhadap kenyataan tersebut, selalu berteriak kafir tetapi selalu memakai barang-barang orang kafir di dalam kehidupan sehari-hari bahkan sepanjang hayat.

Saya menyadari bahwa gejala-gejala indoktrinasi dan intoleransi dalam masyarakat sulit untuk diatasi apalagi dihilangkan. Setiap agama dan pemeluknya selalu mengklaim bahwa ajarannya sendiri yang paling benar ( thruth claim ). Padahal, madzhab dan opini “yang seperti ini” yang selalu menjadi sumber konflik dan pertikaian yang berkepanjangan dan tidak akan pernah usai.

Sebetulnya, jika para santri memahami betul sejarah Nabi Muhammad SAW di Madinah, Nabi melindungi siapa saja yang termasuk ke dalam kategori “ummah” bahkan diantaranya orang Yahudi dan Nasrani. Nabi bahkan tidak pernah memaksakan keyakinannya dan mengupayakan orang-orang Yahudi dan Nasrani untuk masuk ke dalam agama Islam, kecuali atas kereleaannya sendiri (QS: Al-Baqoroh: ayat 256).

Budaya Tahun Baru Masehi


Seperti yang tertuang di dalam “Perjanjian Piagam Madinah” yang dibuat oleh Nabi ; setiap pihak hukumnya wajib untuk menjaga upaya perdamaian walaupun terdapat banyak perbedaan keyakinan. Sebaliknya, jika ada pihak yang membuat kerusuhan dan mengkhianati perjanjian, maka ada balasan tertentu (QS : Al-baqoroh:191-193).

Hal yang terakhir ini lah yang banyak menghiasi kehidupan Nabi dengan berbagai peperangan, akan tetapi, dengan syarat yang telah ditetapkan Al-Quran, yaitu sebatas mempertahankan diri dan mencegah kekacauan dan fitnah yang meluas demi timbulnya sebuah ragam komunitas yang berbeda namun tetap dalam bingkai perdamaian.

Persoalan berbagai kekacauan dan konflik sebetulnya timbul dari ambisi politik dan kekuasaan berkedok agama. Sebetulnya orang-orang yang betul beragama selalu mencintai perdamaian.
Kondisi para santri PPMU MAN Yogya 3 sebetulnya sangat miskin literatur dan bacaan. Hal ini tidak bisa mengantarkan mereka pada pemahaman terhadap Islam yang lebih utuh. Ditambah lagi bahwa sebagian besar mereka baru pertama kali mondok di pesantren yang terletak di tengah-tengah kota Yogyakarta, dan pondok tersebut tidak mempunyai sejarah kepesantrenan yang lebih tua dan mapan seperti di Krapyak.

Mereka bahkan mengatakan kalau orang Nasrani dan Yahudi itu kafir. pandangan tersebut terlalu stereotip, bahkan terma kafir sendiri  mempunyai banyak spektrum, seperti halnya kafir nikmat yang malah bisa dialamatkan pada orang Muslim sendiri.

Yang patut menjadi pertimbangan adalah pandangan Al-Quran sendiri, bahwa orang Yahudi dan Nasrani mempunyai wahyu yang sah, yaitu Taurat dan Injil. Orang Yahudi dan Nasrani juga mempunyai banyak Rasul yang diakui Al-Quran seperti Nabi Musa dan ‘Isa. Kenyataan seperti ini selalu diputar-putar dan dibalik-balik.

Apa saja yang bertentangan dengan Islam langsung di just kafir. Secara logika ini tidak logis. Contohnya, apabila sebagian orang islam yang melakukan tindakan “teroris” apakah bisa di just agama Islam melakukan kekerasan ? Apakah jika sebagian orang Yahudi dan Nasrani melakukan keburukan semuanya langsung kafir? Sebetulnya setiap agama apapun memerintahkan kebaikan, namun apabila pemeluk agama itu melakukan pelanggaran itu adalah ulah “si oknum” dan bukan termasuk ajaran agama tersebut. Yang sering dimaksudkan kafir di dalam Al-Quran adalah orang-orang Makkah yang tidak memeluk agama terdahulu manapun dan tidak menerima agama Islam (QS.Al-Baqoroh: 6-7).

Baca: Memaksakan Syariat Islam Hanya Membuat Negara Retak dan Konflik Berkepanjangan

Kita patut berhati-hati dan waspada terhadap penyebaran-penyebaran paham radikal, yang tanpa tedeng-tedeng tertentu selalu menyerang budaya dan adat setempat dengan slogan “kembali ke Al-Quran dan Sunnah”, atau “tegakkan Khilafah”. Kita tidak pernah tahu bahwa upaya-upaya tersebut hanyalah usaha politik berkedok agama. Dan yang lebih memilukan apabila anak-anak kita ikut terpengaruh dan dimanfaatkan oleh upaya-upaya politis tersebut. [dutaislam/ka]
Loading...