Tak Punya Akal, Cerita Wahabi Diajak Diskusi Pergi
Cari Berita

Advertisement

Tak Punya Akal, Cerita Wahabi Diajak Diskusi Pergi

Duta Islam #02
Jumat, 26 Juli 2019

Rombongan cingkrang anggota FUI mendatangi kampus UIN Kalijaga Yogyakarta, pada Rabu (07/03/2018). (Foto: BBC Indonesia/Furqon Himawan)
Oleh Ayik Heriansyah

DutaIslam.Com - Suatu ketika selepas shalat jum’at di masjid UI 17 tahun yang lalu. Waktu itu saya sudah halaqah di Hizbut Tahrir. Tiba-tiba seseorang yang sudah saya kenal nyamper dan ngomong: “Diskusi yuk?”. “Boleh” kata saya. Namanya si Im. Dia mahasiswa FE UI angkatan 2000 ngaji di Wahabi, tinggal di asrama UI sama dengan saya. Sebelumnya kami sudah pernah beberapa kali diskusi. Pernah di atas bus kuning dari asrama menuju kampus. Pernah juga di halte depan markas Menwa. Kadang di kantin asrama. Pernah juga di kamar salah seorang penghuni asrama yang sealiran dengan si Im.

Dalam diskusi mereka mengkritik Hizbut Tahrir. Salah satunya aqidah Hizbut Tahrir yang mu’tazilah. Mereka mengkritik Hizbut Tahrir membangun aqidah berdasarkan akal bukan nash. Mereka meminjamkan saya buku yang berjudul “Hizbut Tahrir Neo-Mu’tazilah” karya Nashiruddin al-Albani. Saya baca dan telaah buku itu. Akhirnya saya temukan kekeliruan kaum Wahabi dalam memahami akal. Itu saya pegang karena bagi saya ketakutan kaum Wahabi terhadap akal titik kelemahan dan kesalahan mereka.

"Oke, kita diskusi. Cuma kita sepakati dulu alat apa yang kita gunakan dalam diskusi, biar sama.” Si Im diam mungkin bingung apa yang saya maksud. “Saya pakai akal. Kamu pakai apa?” Tantang saya. “Saya pakai pemahaman sahabat,” jawabnya. “Terus kamu memahami pemahaman sahabat pakai apa?” kejar saya. Kata si Im: “Dari para ulama salafus shaleh”, jawabnya. Saya tanya lagi, “kamu memahami ulama salafus shaleh pakai apa?”. “Dari penjelasan ustadz-ustadz saya.” Saya kejar lagi: “Kamu memahami penjelasan ustadz-ustadz kamu pakai apa?”. “Pakai akal”. “Nah, berarti kamu mu’tazilah!” Kata saya sambil ketawa-ketawa. Langsung si Im pergi, gak jadi diskusi.

Wahabi bagi saya kaum yang tidak berakal. Mereka takut menggunakan akalnya secara maksimal untuk memahami sesuatu. Tidak aneh kalau Ustadz Wahabi dengan lancang mengatakan bahwa Rasulullah, para sahabat ulama salaf dan keempat imam madzhab sebagai Wahabi yakni pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab. Di rekaman kajian Islam di channel Yufid TV dengan tajuk Bincang Santai: Kupas Tuntas Masalah Wahabi - Ustadz Zainal Abidin Syamsuddin, Lc. https://www.youtube.com/watch?v=s-WZ9inoBKg disiarkan pada tanggal 31 Oktober 2015. Beberapa hari yang lalu beredar lagi di media sosial.

Sudah pasti video ini mengundang kontroversi karena pembawa acara menyimpulkan bahwa “empat imam madzhab, para ulama terdahulu, para sahabat sampai Rasulullah itu Wahabi.” Kemudian narasumber menjelaskan mereka semua disebut Wahabi karena mendakwahkan tauhid, mengajak kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah serta mengadakan pembaharuan. Ketiga alasan ini yang menyebabkan seseorang dianggap sebagai pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab.

Pernyataan mereka berdua ini ngawur kalau tidak mau sebagai tuduhan keji kepada Rasulullah Saw, para sahabat, ulama salaf dan keempat imam madzhab karena bertentangan dengan realitas. Fakta sejarah mencatat Muhammad bin Abdul Wahhab hidup pada tahun 1115 - 1206 H/1701 - 1793 M. Tidak perlu dihitung menggunakan kalkulator, sambil memejamkan mata semua orang yakin bahwa Muhammad bin Abdul Wahhab hidup berabad-abad setelah masa Rasulullah Saw, sahabat, ulama salaf dan keempat imam madzhab. Secara aksiomatik bahwa generasi yang datang kemudian mengikuti generasi terdahulu. Akal siapapun mustahil bisa menerima hal yang sebaliknya. Kecuali kaum Wahabi yang takut kepada akal mereka sendiri.

Selain penghinaan, mengatakan Rasulullah Saw, para sahabat, ulama salaf dan keempat imam madzhab berpaham Wahabi adalah dusta sedusta-dustanya. Alasan narasumber bahwa kaum Wahabi mendakwahkan tauhid, Rasulullah Saw, para sahabat, ulama salaf dan keempat imam madzhab juga mendakwahkan tauhid sehingga mereka semua Wahabi merupakan kesimpulan dari orang yang malas berpikir mendalam. Tauhid yang didakwhkan oleh Wahabi berbeda dengan tauhid yang diajarkan oleh Rasulullah Saw, para sahabat, ulama salaf dan keempat imam madzhab.

Wahabi membagi tauhid menjadi tiga: tauhid rububiyah, tauhid ilahiyah dan tauhid asma wal shifah. Pembagian tauhid ini tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah Saw, para sahabat, ulama salaf dan keempat imam madzhab. Ibnu Taimiyah-lah yang pertama kali mengarang tiga tauhid ini pada abad ketujuh hijriah. Kemudian dianut oleh Muhammad bin Abdul Wahhab dan diyakini oleh kaum Wahabi seluruh dunia. Menurut Ibnu Taimiyah dan diikuti oleh Muhammad bin Abdul Wahhab bahwa tauhid rububiyah diyakini oleh semua orang, muslim atau kafir/musyrik. Karena tauhid rububiyah terkait pengakuan bahwa Allah Swt pencipta, pengatur dan pemelihara alam semesta. Tauhid ini bersifat general. Muslim atau kafir bertauhid rububiyah.

Kaum Wahabi berdalil dengan Surat Luqman Ayat 25

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ۚ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ 

"Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?" Tentu mereka akan menjawab: "Allah". Katakanlah: "Segala puji bagi Allah"; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui."

Menurut kaum Wahabi ayat ini bukti bahwa orang-orang kafir dan musyrik berimana kepada rububiyah Allah Swt. Padahal orang-orang kafir dan musyrik menjawab demikian karena terdesak tidak bisa membantah hujjah yang kuat tentang rububiyah Allah Swt. Mereka mengucapkan kata tapi tidak meyakininya dalam hati. Orang-orang kafir dan musyrik meyakini ada oknum lain selain Allah Swt yang menguasai alam semesta. Sebagaimana yang diucapkan orang-orang kafir kepada Nabi Hud as:
إِنْ نَقُولُ إِلَّا اعْتَرَاكَ بَعْضُ آلِهَتِنَا بِسُوءٍ ۗ قَالَ إِنِّي أُشْهِدُ اللَّهَ وَاشْهَدُوا أَنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ 

"Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu". Huud menjawab: "Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan". (Qs. Hud: 54).

Pada ayat ini mereka mengatakan berhala-berhala mereka yang menimpa bahaya kepada Nabi Hud as.

Di al-Qur’an surat az-Zumar ayat 3, Allah Swt langsung membantah kebohongan orang-orang kafir.

أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ ۚ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ

“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.”

Ajaran Rasulullah Saw semuanya berdasarkan wahyu dari Allah Swt. Pembagian tauhid menjadi tiga tauhid tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah Saw. Tidak ada nash tentang hal tersebut. Pemahaman Wahabi bahwa orang-orang kafir dan musyrik bertauhid rububiyah bertentangan dengan ajaran Nabi Saw. Ini bukti kecil betapa kaum Wahabi telah membuat fitnah keji terhadap Nabi dengan mengatakan bahwa Nabi Saw Wahabi. Jadi dua alasan Wahabi yang lain tidak perlu dibahas lagi. [dutaislam.com/gg]

Ayik Heriansyah, Mantan HTI, Pengurus LD PWNU Jabar, dan Ketua LTN NU Kota Bandung.

close
Banner iklan disini