Tagar Provokatif #PrabowoJanganHadiriPelantikan Dipuncak Trending, Ulah Siapa?
Cari Berita

Advertisement

Loading...

Tagar Provokatif #PrabowoJanganHadiriPelantikan Dipuncak Trending, Ulah Siapa?

Duta Islam #03
Selasa, 02 Juli 2019
Loading...

Tagar #PrabowoJanganHadiriPelantikan jadi trending topic di Twitter, Selasa (02/07/2019). Foto: Istimewa.
DutaIslam.Com - Pembacaan putusan sengketa Pilpres 2019 oleh Mahkamah Konstitusi (MK) pada Kamis (27/06/2019) lalu menandakan perhelatan demokrasi telah usai. Semua pihak diharapkan legowo dan menerima dengan lapang dada apapun keputusan lembaga tertinggi hukum negara ini.

Baca juga: Sempat Sebut Budaya Barat, Sandiaga Akhirnya Ucapkan Selamat ke Jokowi-Ma'ruf

Calon Presiden Nomor 02 Prabowo pun mengaku menghormati keputusan MK.

"Tapi sesuai kesepakatan, kami akan patuhi jalur konstitusi kita. Maka dengan ini kami menyatakan bahwa kami menghormati keputusan MK tersebut. Kami menyerahkan sepenuhnya kebenaran yang hakiki kepada Allah," kata Prabowo, Kamis (27/06/2019) dikutip dari Bbc.com.

Prabowo juga meminta seluruh pendukungnya untuk tetap tegar, tetap tenang, dan dalam kerangka damai, tanpa kekerasan. "Kita harus mementingkan kepentingan lebih besar, keutuhan bangsa dan negara," katanya.

Meskipun begitu, Prabowo mengaku kecewa. Bahkan hingga beberapa hari pasca pembacaan keputusan, Prabowo tidak mau mengucapkan selamat atas kemenangan rivalnya.

Sementara Presiden terpilih Joko Widodo mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk bersatu kembali, membangun dan memajukan Indonesia. "Tidak ada lagi 01 dan 02, yang ada adalah persatuan Indonesia," ujar Jokowi.

Baca juga: Hizbut Tahrir Goyah, Gus Nadir Ungkap Pemimpinnya Tidak Al-Alim Al-Jalil Tapi Insinyur Teknik Sipil

Di tengah-tengah upaya mempersatukan kembali perbedaan pandangan karena Pilpres 2019, ternyata masih muncul kampanye-kampanye yang sifatnya provokatif. Bukan mendukung Prabowo untuk berdamai dan menerima kenyataan, Prabowo justru diprovokasi untuk tidak menghadiri pelantikan Jokowi-Ma'ruf yang dijadwalkan 20 Oktober 2019.

Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh sebuah tagar provokatif #PrabowoJanganHadiriPelantikan yang menjadi trending topic di Twitter, Selasa (02/06/2019) pagi. Pantauan Dutaislam.com pada pukul 07.36 WIB, tagar tersebut menempati puncak trending dengan 1,858 Tweets.

Salah satu akun yang belum bisa move on dengan putusan MK bernama #2019IndonesiaMenang dengan alamat @Safaudin_29. Baginya, kehadiran Prabowo ke Pelantikan Jokowi bukan tanda kebesaran jiwa. Melainkah hanya pembunuhan karakter Prabowo dan pendukungnya.

"Anda hadir bukan tanda kebesaran jiwamu dn bila Anda tak datang bukan tanda kepengecutan jiwamu, itu strategi pembunuhan karakter untuk Anda dan Para Pendukung mu. Berikan pada mereka Piala kaleng, karena Piala emas ditanganmu," tulis @Safaudin_29.
Tweer lain justru menuduh orang NU tidak peduli dengan agama Islam. Menurutnya, orang NU justru lebih peduli kepada NU dibanding agama Islam. Dia seolah membedakan antara NU dan Islam. Padahal, NU ya Islam. Apa yang dilakukan NU untuk kepentingan Islam yang rahmatan lilalamin.

"Tolonglah Agama Allah SWT maka Allah SWT akan menolong kita. Namun akhir-akhir ini sering terjadi keanehan. Di sebagian kalangan NU, mereka ga peduli agama Islam dihina. Tapi kalau NU dihina, baru emosi nya meledak," kata akun bernama @armen_zainal dengan menyertakan tagar #PrabowoJanganHadiriPelantikan.
Munculnya tagar provokatif tersebut menunjukkan sebagian pendukung Prabowo belum move on. Mereka berupaya menghasut dan menciptakan polarisasi di tengah-tengah masyarakat, khususnya di jagat media sosial.

Bukan kali ini saja dukungan kepada Prabowo di dunia maya selalu di posisi unggul. Sebelum pencoblosan dimulai, tagar-tagar yang mendukung Prabowo sudah berhamburan dan menempati puncak trending di Twitter. Mengapa?

Dikutip dari Tirto.id, Pencipta Drone Emprit, perangkat analisis media sosial, Ismail Fahmi menyebut, tagar itu tak ubahnya sebagai alternatif perlawanan pendukung Prabowo. Itulah, kata Ismail, satu-satunya yang bisa diperbuat oleh pendukung Prabowo.

Perlawanan pendukung Prabowo dengan tagar, kata Ismail, menunjukkan betapa militan kubu Prabowo dalam gelaran Pilpres 2019. Menurut penelusuran Drone Emprit, kubu Prabowo memang selalu unggul di dunia maya, khususnya Twitter. Mereka meramaikan dunia maya secara organik. Tagar-tagar yang dikampanyekan “dimakan” dengan baik oleh pengikut mereka, membuat beberapa tagar menjadi paling populer di Indonesia.

"#TheVictoryOfPrabowo, misalnya. Paling tidak, ada 18 ribu tweet terkait tagar tersebut di Twitter. Hal itu menjadikan tagar itu lebih awal masuk menjadi topik trending, jauh lebih awal dibandingkan tagar #JokowiWinElection. Kalau dari 02, gerakannya banyak retweet. Follower militan memakan tweet-tweet dari influencer atau buzzer,” kata Ismail.

Meskipun kekuatan Prabowo besar di dunia maya, hal ini tidak berpengaruh di dunia nyata yang dibuktikan dengan kemenangan Jokowi berdasarkan hasil resmi KPU. Menurut Ismail, kekuatan kampanye-kampanye via media sosial paling tidak hanya memperoleh 100 ribu engagement per hari.

“Intinya, percakapan di media sosial harapannya bisa menjangkau seluruh Indonesia. Namun, jumlah itu belum mewakili semuanya,” kata Ismail.

Ismail menyebut media sosial masih kalah menjangkau masyarakat dibandingkan media konvensional, khususnya televisi. “Ini bisa dilihat sebagai pertarungan media digital melawan media terestrial (TV),” tegasnya dikutip dari Tirto.id. [dutaislam.com/pin]

close
Banner iklan disini