Sedekah Bumi, Ritualitas atau Formalitas Semata
Cari Berita

Advertisement

Sedekah Bumi, Ritualitas atau Formalitas Semata

Duta Islam #07
Rabu, 17 Juli 2019

Filosofi sedekah bumi
Sedekah bumi, ritualitas atau formalitas semata. Foto: istimewa
Rasa syukur atas limpah dan rahmat-Nya kepada kita, hingga telah diberikan rezeki melalui bumi dan lautan, tanpa memunafikkan apa yang sudah ada dan apa yang sudah diberikan.

DutaIslam.Com - Para ulama masa lampau itu memakai metode-metode seperti tradisi sedekah bumi dan laut ketika Indonesia masih dijajah Portugis, Belanda hingga Jepang. Ketika bendera penjajah itu berkibar di tanah air, para sesepuh tidak kehabisan akal untuk memupuk rasa cinta tanah air kepada masyarakat. Dari mulai mengadakan nyadran bumi, nyadran laut, hingga sampai mendirikan rumah saja disisipi pendidikan yang “samar”; Orang jaman dulu jika mendirikan rumah pasti mengundang kiai untuk didoakan, menyediakan janur, beberapa hasil bumi dan bendera merah-putih untuk dipasang terlebih dahulu di blandar (balok kayu yang berfungsi sebagai penyangga tiang utama, dan fungsinya sangat vital dalam pembentuk kontruksi rumah).

Sedekah bumi acapkali menjadi ajang rasa syukur kepada sang pencipta atas segala karunia-Nya yang telah diberikan kepada manusia, namun kenikmatan tersebut bukan semata-mata hanya untuk menikmati tapi menjadi manfaat atas semua yang hidup dan yang tak hidup.

Baca: Merenungi 21 Dawuh Penting Habib Luthfi Soal Pancasila dan Nasionalisme

Sedekah bumi tak asing bagi masyarakat jawa. Sedekah bumi sendiri sering diperingati ketika hari jadi sebuah desa, kebanyakan saat ini di tempatkan di Balaidesa.

Dimana didalamnya terdapat rangkaian acara yang menggambarkan suatu desa tersebut.
Tradisi dari nenek moyang selalu di gambarkan dengan berbagai cara, untuk mengingatkan kembali kepada pendahulu-pendahulu yang sudah sejak lama menjadi leluhur desa tersebut.
Bagaimana ajang ini menampikan rasa syukur masyarakat pada sang pencipta, dan memperkokoh kecintaan mereka pada tanah kelahirannya, yang jelas mencintai tanah air Indonesia.

Keseruan, keindahan, dan kebersamaan menjadi satu dalam moment tersebut dengan dibungkus rangkaian acara sedekah bumi atau laut.

Filosofi Sedekah Bumi


Masyarakat bergempita riya, menyambut pesta desanya. Bukan pesta demokrasi, namun pesta sedekahan yang diawali dengan rasa syukur atas limpah Tuhan Yang Maha Esa.
Namun dalam moment sakral ini bisa menjadi catatan penting terkait sedekah bumi.

Moment adat budaya ini menjadi ritualitas yang harus dijaga di dalam masyarakat, bukan hanya pesta pora, bukan hanya progam formalitas saja. bukan ajang sembah menyembah.
Tapi menjadi moment terpenting yang harus terjaga kesakralannya.

Baca: Yang Perlu Diperhatikan Sebelum Mengharamkan Sedekah Bumi

Tentunya sebuah desa bisa memahami sejarah desanya, mengenali pendahulunya, bukan sekedar pengenalan lewat serangkaian acara saja, namun apa yang sudah menjadi rintisan harus dikembangkan, lewat pendekatan yang harus kita pahami betul kepada pendahulu desa.
Biarkan pendahulu kita tersenyum melihat kemajuan desa yang semakin hari memberikan manfaat bagi masyarakat sekitarnya, tersenyum melihat tanggung jawab pejabat pemerintah yang ikhlas mengabdi kepada daerahnya.

Puncak ritual sedekah bumi biasanya diakhiri dengan melantunkan doa bersama-sama oleh masyarakat setempat dengan dipimpin oleh sesepuh adat. Ada yang sangat menarik dalam lantunan doa yang ada dilanjutkan dalam ritual tersebut. Yang menarik dalam lantunan doa tersebut adalah kolaborasi antara lantunan kalimat kalimat Jawa dan dipadukan dengan doa yang bernuansa Islami.

Semoga senantiasa kita diberikan keslametan dunia maupun akhirat, ritualitas tetap terjaga bukan semata-mata formalistas progam kerja tahunan desa. [dutaislam/ka]

close
Banner iklan disini